Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 62 Kamar 122


__ADS_3

Coffee Break digunakan oleh peserta seminar untuk meminum teh atau kopi yang telah disediakan oleh panitia acara. Akan tetapi tidak bagi Randy Jaya, ia segera meninggalkan tempat itu menuju sebuah kamar dilantai 12.


Membuka pintu dengan pelan, ia segera masuk ke kamar itu. Senyumnya nampak cerah saat melihat seorang gadis masih berada di atas ranjangnya. Ia pun melangkahkan kaki mendekat ke arah ranjang itu.


Tangannya ia gunakan untuk menyentuh wajah gadis cantik itu dengan tatapan mesumnya.


"Aaaaa, Aku sungguh ingin mencicipi tubuhmu tapi waktu sangat mepet sayang, coffee Break cuma 15 menit. Kamu istirahat saja, karena sebentar lagi kamu tak akan Aku biarkan untuk beristirahat." Randy Jaya mengelus lembut pipi sang gadis. Setelah itu ia keluar dari kamarnya.


Ia datang hanya untuk memastikan gadis yang sudah mempermainkannya itu masih tertidur dengan obat yang telah ia semprotkan ke wajahnya.


Bugh


Randy Jaya begitu kaget dengan apa yang terjadi. Tubuhnya langsung terhuyung ke belakang oleh pukulan seseorang.


"Hey! Siapa kamu brengsek!" Ia mengumpat dengan wajah yang sangat marah. Ia berusaha untuk memperbaikinya posisinya dan bersiap untuk membalas.


Pria yang baru saja memberinya satu pukulan telak menyeringai. Dengan cepat ia mengambil kunci elektronik card yang baru jatuh dari pegangan dosen Omesh itu.


"Dimana Mini?!" Zion balas bertanya dengan tatapan tajam pada dosen mesum itu.

__ADS_1


"Heh, mana saya tahu siapa yang kamu maksud? Kamu bermimpi ya? Datang asal pukul dan main tuduh-tuduh saja." Randy Jaya mendengus kesal seraya menepuk setelan jasnya seolah-olah telah disentuh oleh benda yang sangat kotor.


"Katakan dimana kamu membawa Mini?!" Zion merangsek maju untuk meraih pria yang ia curigai tahu dimana calon istrinya itu.


"Heh! Tahan dirimu! Atau kamu akan mendapatkan masalah!" Randy Jaya berteriak seraya mengangkat tangannya di udara.


"Kamu tidak tahu siapa saya hah?! Saya sedang menghadiri acara seminar dosen di tempat ini jadi kamu yang hanya OB disini silahkan minggir!"


Pria itu mengibaskan tangannya. Ia pun langsung meninggalkan tempat itu karena tidak ingin membuat sebuah masalah yang akan merusak reputasinya.


Pria yang berkostum petugas di hotel itu tidak akan tahu kalau Mini ada di dalam kamarnya jika ia bungkam dan tidak meladeninya.


Zion Sakti tersenyum miring. Ia menggenggam kunci elektronik card itu seraya memandang pria itu pergi menjauh.


"Hem, rupanya si brengsek itu tidak sadar kalau telah menjatuhkan kuncinya," ujar Zion dengan suara pelan. Setelah memastikan bahwa pria itu sudah jauh dan tidak mungkin kembali lagi. Ia pun membuka pintu kamar yang baru saja di kunjungi oleh Randy Jaya.


Pelan ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Dan begitu kagetnya ia karena benar-benar menemukan calon istrinya sedang tertidur di dalam kamar itu.


"Dasar dosen Omes sialan!" Zion mengumpat seraya mendekati ranjang. Ia memeriksa keadaan Mini yang masih berpakaian lengkap.

__ADS_1


"Syukurlah pria itu tidak menyentuhmu Mini. Kalau ia berani mendahuluiku maka kupastikan ia akan kuhancurkan!" Zion berucap dengan perasaan antara bahagia dan marah. Ia bersyukur karena ia sedang magang di hotel ini dan melihat pria itu membawa Mini ke kamar dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.


"Min, bangun," bisiknya pelan seraya menepuk-nepuk lengan gadis cantik yang sebentar lagi menjadi istrinya itu. Ia harus membawa Mini keluar dari kamar itu sebelum penghuninya datang. Dan juga ia ingin melaporkannya pada Dekan dan Rektor yang juga sedang berada di dalam Hotel pada acara seminar itu. Randy Jaya harus mempertanggung jawabkan kesalahannya saat ini juga.


"Mini, bangun sayang," bisik Zion lagi dikuping gadis yang masih terlelap itu. Tak lama kemudian Mini pun membuka matanya dengan pelan. Ia memandang Zion yang sedang berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Kak, kamu?" tanya gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur. Zion mengangguk kemudian tersenyum. Ia tak perlu menjelaskan apapun untuk sekarang ini. Keadaan begitu genting. Ia harus membawa gadis itu segera keluar dari sana.


"Ayo cepat bangun," ujar Zion seraya menyentuh tubuh gadis itu untuk membantunya bangun. Akan tetapi Mini hanya memandangnya dengan tatapan aneh.


"Ada apa sayang? Apa kepalamu masih pusing?"


"Kak, aku..."


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2