
"Jojoba!" Tiga orang sahabatnya langsung berteriak histeris saat melihat Jovanka tiba di dalam kelas mereka. Empat orang itu saling berpelukan dengan sangat seru. Teman yang lain juga datang menghampiri mereka dan memberi selamat.
"Selamat datang pengantin baru, Nyonya dosen!" Boby Dirgantara berdiri di depan kelas laksana seorang Master of ceremony. Ia memberikan sambutan pada salah satu teman yang baru masuk setelah berlibur selama beberapa hari.
"Terimakasih banyak atas sambutannya guys. Aku seneng banget bisa gabung lagi bersama kalian." Jovanka membungkukkan badannya di depan semua temannya dengan penuh drama. Ia lalu kembali ke kursinya untuk duduk.
"Jo, kamu makin cantik. Itu pipi kok tambah mulus dan merona gitu sih?" tanya Cici dengan wajah berbinar senang. Ia sudah sangat rindu dengan sahabatnya itu.
"Iya, Jo, emang kalau pengantin baru itu selalu saja kelihatan cantik dan glow banget." Naomi menimpali karena teringat dengan kakaknya yang juga baru-baru menikah. Auranya itu kuat banget. Cantik dan sangat menarik.
"Ish, apaan sih, biasa aja kali." Jovanka menutup wajahnya dengan sebuah buku untuk menutupi semburat merah yang tiba-tiba muncul di pipinya karena malu.
"Kita kan penasaran banget, kenapa kamu tambah cantik dan semakin berisi lhoo Jo." Mini Ikut bersuara seraya memandang tubuh sahabatnya itu dari atas kebawah. Pandangannya berhenti pada leher dan juga bagian depan sahabatnya itu yang nampak membusung.
"Ish, kamu lihatin apa sih Min?" tanya Jovanka seraya menyentuh lehernya dan bagian depannya. Ia jadi merasa sangat khawatir kalau-kalau ada yang janggal pada penampilannya saat ini.
"Lehermu Jo, biru-biru kayak gitu bukannya kayak habis dicipokk sama pak dosen ya?" tanya Mini dengan tatapan menelisiknya. Gadis itu seperti mempunyai hidung pelacak. Jovanka meringis. Ia tahu kalau ia memang habis dicipokk dengan sangat berhasrat oleh suaminya.
"Mata mu Min. Kok bisa lihat yang tersembunyi kayak gitu sih. Apa Jangan-jangan kamu sama Kak Zion udah pernah ya?' Cici memandang Mini Geraldine dengan tatapan curiga.
"Ish gak Lah. Aku kan punya daya imajinasi yang sangat bagus. Kak Zion emang sih suka minta tapi tak pernah Aku kasih. Toh, kita akan menikah Selasa lusa. Jadi biarkan ia bersabar aja." Mini menjelaskan dengan senyum diwajahnya.
"Apa? cepat banget!" Ketiga orang itu langsung terkaget-kaget dengan apa yang disampaikan oleh Mini.
"Yah, begitulah kalau Tuhan menghendaki. Akan mendapatkan jalannya sendiri dan juga mudah." Mini Geraldine menjawab dengan wajah sok bijaksana dan bijaksini. Ketiga temannya langsung mendengus. Sedangkan gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak. Ia telah berhasil membuat teman-temannya nampak kesal.
"Tuh, Pak Randy sudah hampir masuk kelas, Aku mau pakai ini dulu," ujar Mini seraya mengambil dua buah kain pasmina dari dalam tasnya. Ia memakainya untuk menutupi kepalanya dengan gaya santai. Sedangkan satunya lagi ia pakaikan pada Jovanka.
"Eh, untuk apa nih?" kaget Jovanka. Ia bingung karena Mini memakaikannya dan mendandaninya dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Hush! Dosen mesum itu sangat suka melihatmu Jo, jadi karena itu Aku membantumu supaya leher dan dadamu yang sangat menggoda itu ditutup, okey?"
Cici dan Naomi saling berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau otak Mini sampai memikirkan hal yang sejauh ini.
Cekrek
Mini langsung memotret sahabatnya itu dan mengirimkannya pada grup chatnya.
"Kamu cantik banget Jo. Tertutup seperti ini saja membuat jiwaku meronta-ronta apalagi kalau terbuka sedikit eh terbuka banyak hehehe," ujar Mini terkekeh.
"Ish kamu lisbong ya?' tanya Cici bergidik ngeri. Sedari tadi sahabatnya itu memperhatikan Jovanka sampai segitunya. Dari leher sampai dada ia perhatikan sampai sedetail seperti itu.
"Hahahaha, mana ada lisbong mau dinikahi sama Kak Zion. Aku ini normal, masih suka yang aku hihihihi," Mini cekikikan sendiri dengan pemikiran Cici.
"Aku tuh sedang mau jadi gadis baik-baik aja. Aku takut sama Pak dosen omes itu. Kalian tahu kan kalau beliau sedang ngincar aku sama Jojoba. Makanya kami lagi perlu bertransformasi seperti ini," jelas Mini dengan panjang kali lebar.
"Eh, aku juga dong." Cici ikut mengangkat jari telunjuknya. Ia juga ingin tampil seperti itu. Entah kenapa Zain sering mengirimkannya paket berisi hijab. Pasti pacarnya itu juga memintanya untuk menutup aurat secara halus.
"Wokeh deh, mulai hari ini kita pakai ini ya, nih aku masih punya dua lagi." Mini mengeluarkan dua lagi lembar hijab pasmina dan menyerahkannya pada dua sahabatnya itu.
"Banyak banget bawanya. Masih baru dan harum lagi." Cici memandang wajah Mini seraya mencium hijab itu.
"Iya nih, Mini mencurigakan." Naomi ikut berkomentar.
"Jangan-jangan kamu lagi menjual hijab ya?" Jovanka memandang wajah Mini seraya membantu memakaikan hijab berwarna paste di kepala Cici. Warna yang sangat sesuai dengan blouse dengan yang sedang digunakan sahabatnya itu.
"Kok tahu sih? hahahaha. Bentar kalian bayar ya, harganya naik 100%.!" Mini tertawa terbahak-bahak dengan bola mata berbinar bergambar rupiah.
"Hah?!" Ketiga sahabatnya itu melongo tidak percaya dengan jiwa bisnis dan trik pemasaran yang dilakukan oleh Mini Geraldine.
__ADS_1
Mini semakin senang. Ia menaik turunkan alisnya di depan sahabat-sahabatnya itu dengan wajah lucu sekaligus menyebalkan.
"Udah, ah, aku yang bayar semuanya." Jovanka merelai mereka semua karena ia senang bisa menggunakan hijab ini. Ia yakin suaminya pasti akan senang melihat apa yang sedang dipakainya.
"Makasih Jo, tahu aja jiwa anak kost yang kirimannya suka telat," ujar Cici dan langsung mencium pipi sahabatnya itu.
"Ekhem, Morning Class!" Sapa Randy Jaya dengan gaya cool untuk menarik perhatian semua mahasiswa. Mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing karena dosen Omesh itu sudah berada di depan mereka semua.
"Morning Pak!" Semua mahasiswa menjawab sapaan dosen itu dengan bersemangat, kecuali geng Jovanka. Mereka menjawab asal saja. Mereka semua sudah terlalu ilfil dengan dosen omes itu.
Randy Jaya memandang seluruh ruangan kelas tapi tidak menemukan gadis yang sedang ia cari. Yang ia lihat di barisan kursi paling depan adalah gadis-gadis cantik berhijab.
Dimana Jovanka? Apa ia tidak masuk belajar?
"Ketua tingkat! sebarkan daftar hadirnya!' titahnya pada Boby Dirgantara. Ia ingin memastikan apakah Jovanka benar-benar tidak hadir atau menyembunyikan dirinya.
"Baik Pak." Boby Dirgantara berdiri kemudian meminta semua mahasiswa untuk mengisi daftar hadir itu. Randy Jaya pun memulai perkuliahan itu dengan pikiran tetap kepada Jovanka.
"Okey Class, Konsentrasi manajemen pemasaran meliputi segala teknik dalam memasarkan suatu produk serta analisis strategi untuk dapat memenangkan persaingan bisnis, baik dalam pasar lokal maupun internasional."
"Kamu yang ingin mengembangkan sisi kreatif dan selalu ngikutin tren terkini cocok sekali kalau memilih konsentrasi ini. Soalnya, selain mampu memahami konsep, sebagai tenaga pemasar yang baik kamu juga harus bisa mengimplementasikannya sekece mungkin agar bisa menarik perhatian dan minat konsumen."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π
__ADS_1