Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 56 Mencari Bukti


__ADS_3

"Ternyata kamu ada di kelas ini sayang," gumam Randy Jaya dengan bibir berkedut tersenyum. Setelah melihat daftar hadir yang menunjukkan tentang kehadiran Jovanka di ruang kelas itu, Pria itu pun mengarahkan pandangannya mencari lagi keberadaan perempuan muda dan cantik itu.


Karena begitu penasaran dengan mahasiswi berhijab yang begitu mirip dengan Jovanka, ia pun memanggil nama perempuan itu untuk maju ke depan kelas.


Oh, ternyata benar. Berani kamu mengubah penampilanmu untuk mengelabuiku, Hem?


Jovanka berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia pun maju dengan langkah ringan. Ia merasa tidak ada masalah dengan dosen yang kata orang-orang adalah dosen omes.


"Iya, Pak." Jovanka menghampiri meja dosen itu dengan senyum diwajahnya.


"Jovanka, kamu tampak berbeda dengan pakaian seperti itu. Apakah ini karena suamimu yang meminta?" tanyanya dengan tatapan lurus ke dalam mata bening perempuan cantik itu.


Wajah Jovanka masih setia memperlihatkan senyumannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena sebenarnya penampilannya saat ini belum diketahui oleh suaminya. Jadi ia diam saja.


"Kamu cantik dan sangat menarik, ngapain kamu tutupi tubuhmu itu, hem?" tanya pria itu lagi seraya menatap Jovanka dari atas kebawah seolah-olah ingin mengulitinya.


Sungguh, Ia tidak suka melihat perempuan itu dengan pakaiannya sekarang. Ia jadi tidak bebas melihat tubuh seksih Jovanka jika tertutup seperti itu.


"Dan saya yakin Pak doktor Radit itu pasti terlalu kaku padamu ya? Kamu pasti tahu tentang Felicia, mantan istrinya suamimu. Ia tidak bahagia karena Radit selalu mengekangnya. Kamu itu masih sangat muda, segar, dan cantik. Saatnya menunjukkan keindahan dan kebebasan," lanjut pria itu dengan berusaha melancarkan rayuan mautnya.


"Jangan sampai kamu tua sebelum waktunya Jo, saya kasihan padamu." Pria itu menunjukkan wajahnya yang sangat bersimpati pada Jovanka.


"Terimakasih banyak Pak. Tapi saya sangat bahagia dengan suami saya. Pak Radith telah melimpahkan banyak cinta pada saya. Sampai meluap dan tak bisa lagi saya bendung." Jovanka menjawab dengan tegas.


Apa yang sudah diberikan Radit Aditya padanya sudah sangat berlebihan. Pria itu sudah memilki semua perhatian dan hatinya. Dania tidak merasa dikekang. Sungguh, hati dan cintanya tidak lagi menyisakan sedikitpun untuk orang lain.

__ADS_1


"Oh begitu ya? Tapi kamu kan belum mencoba cinta dari saya Jo." Randy Jaya menatap kembali mata bening Jovanka. Akan tetapi perempuan cantik itu segera menundukkan wajahnya.


"Saya suka padamu Jo, dan ingin menjadikan milikku."


"Ap apa maksud bapak?" Jovanka tersentak, ia tidak menyangka kalau perkataan dosennya ini adalah sebuah tawaran untuk berselingkuh.


"Kamu sudah dewasa dan sangat tahu maksudku. Sekarang, Kamu bisa duduk kembali di kursimu. Dan kamu bisa memikirkan tawaran saya. Kita bisa berhubungan diam-diam. Dan saya pastikan akan memberikan hal lebih untukmu. Kamu masih menyimpan nomor handphone saya 'kan?"


Jovanka menutup mulutnya karena begitu shock dengan apa yang ia dengar. Ia langsung kembali ke tempat duduknya dengan tubuh gemetar takut.


Ya Allah, ada orang yang tidak punya malu seperti itu. Padahal ia seorang dosen yang seharusnya dihormati.


"Jo, apa yang dikatakan Pak dosen padamu sampai lama begitu?" tanya Cici dengan wajah penasaran.


"Gak. Cuma menanyakan tentang pakaian kita aja," balasnya sedikit berbohong. Tubuhnya masih terasa gemetar dengan apa yang ia dengar tadi.


"Ah iya, sudah ah, kita gak usah bahas dosen itu lagi. Kepalaku tiba-tiba sakit." Jovanka berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ia benar-benar ingin cepat keluar dari kelas itu dan mencari minuman hangat. Dan sekarang ia jadi sangat bingung. Apakah ia akan memberitahu suaminya tentang hal ini atau tidak.


Jovanka baru bisa menarik nafas lega saat dosen itu akhirnya keluar dari kelasnya.


Huffft


Semua sahabatnya berkumpul didepan kursinya menanyakan tentang pembicaraannya dengan dosen itu tadi. Mereka benar-benar kepo dan peduli pada Jovanka.

__ADS_1


"Katakan Jo, ada hal apa, pak Randy menemanimu bicara sampai lama begitu?" tanya Mini Geraldine dengan wajah khawatir dan juga curiga.


"Gak ada apa-apa Kok. Yuk, ah ke kantin."


"Jo, kita sahabat lho. Matamu tak bisa berbohong. Kalau dia macam-macam kita akan melaporkannya pada pihak Universitas," ujar Mini dengan keberanian yang baru ia dapatkan setelah berpacaran dengan Zion Sakti.


"Dan juga pada suamimu tentunya, iya gak?" Cici menambahkan dengan penuh perhatian.


"Hum, baiklah. Pak Randy merayu Aku tadi. Dia juga mengajak Aku untuk berselingkuh."


"Astaghfirullah. Dasar Omesh. Udah seharusnya dosen seperti itu kita laporkan pada dewan kehormatan Universitas." Naomi tampak sangat emosi. Ia sampai memukul meja dihadapannya dengan wajah marah.


"Tapi kita harus punya bukti kalau kita ingin melaporkannya." ujar Mini Geraldine dengan wajah yang tampak berpikir.


"Iya betul. Kita harus mengumpulkan beberapa mahasiswi yang pernah menjadi korbannya untuk memperkuat laporan kita."


"Bukti apa sih?" Boby Dirgantara ikutan nimbrung pada percakapan heboh empat gadis cantik yang tiba-tiba pada berhijab itu.


Keempat perempuan itu saling berpandangan. Mereka saling mengirimkan pertanyaan, apakah perlu memberitahu seorang Boby Dirgantara, yang notabene mempunyai hubungan keluarga dengan dosen itu.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2