
"Oeeeek Oeeeek Oeeeek Hmmmpt!"
Jovanka mengalami lagi muntah-muntah pagi itu. Rasa mual begitu menyiksanya sejak bangun tidur. Dan perasaannya baru membaik setelah semua isi perutnya keluar dan tersisa cairan kuning saja.
"Mas, gak kuat. Pengen tidur saja," ujar Jovanka dengan tubuh yang sudah sangat dingin karena keringat. Tubuhnya ia rasakan sangat lemas.
"Kita ke dokter ya sayang," ujar Radith Aditya seraya memijit tengkuk istrinya di dalam kamar mandi.
"Iya, Mas. Kita ke dokter dulu baru ke pernikahan Mbak Feli sama Mini." Jovanka setuju. Ia pun mencuci wajahnya dan segera keluar dari kamar mandi untuk bersiap.
"Kalau kamu gak sehat, gak usah hadir di Pesta mereka Jo, mereka pasti mengerti sayang."
"Gak bisa gitu Mas, Mini sahabat aku. Gak enak kalau gak datang. Lagipula jarak gedung pernikahan mereka tidak berjauhan kok. Duh, kok aku masih pusing sih Mas," ucap Jovanka seraya memijit pelipisnya.
"Tuh kan, Aku bilang juga apa, kamu baring aja dulu sayang." Radit Aditya memandang wajah istrinya yang tampak sangat mengkhawatirkan.
Tok
Tok
Tok
Zarina membuka pintu kamar mereka setelah mengetuk beberapa kali. Ia sangat khawatir mendengar suara Jovanka mual-mual dipagi hari itu.
"Ada apa sayang? Kamu masuk angin kali," ujar sang bunda dengan tatapan khawatir pada putrinya. Ia pun memintanya untuk duduk dan memijit bahunya.
"Belum tahu nih bunda. Sejak semalam Jovanka kayak gini terus. Mual dan muntah gitu." Radith Aditya yang menjawab pertanyaan sang ibu mertua karena istrinya sudah tak punya tenaga untuk bicara.
"Apa jangan-jangan kamu lagi mengandung nak," Zarina berucap seraya mengelus lembut tangan putrinya yang nampak sangat pucat.
"Semoga saja Bunda. Sekarang kami ingin ke dokter dulu."
"Ah iya, bawa cepat-cepat istrimu ke dokter nak Radith."
"Iya bunda. Kami akan bersiap untuk berangkat nih."
"Iya, hati-hati ya." Zarina pun membantu putrinya itu keluar dari kamar itu."
__ADS_1
"Ada apa sama Jovanka Bunda?" Haikal Baron yang sedang berada di ruang keluarga langsung menyambut mereka dengan wajah khawatir.
"Jovanka lagi kurang sehat ayah, sekarang lagi mau dibawa ke dokter sama suaminya."
"Iya hati-hati ya. Jaga Jovanka dengan baik." Haikal Baron ikut mengantar dua orang itu ke pintu.
"Iya Yah, kami pergi sekarang ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Haikal dan Zarina melambaikan tangan pada kedua orang itu dengan harapan kalau penyakit Jovanka adalah penyakit yang baik saja.
Radit Aditya pun keluar dari rumah itu dan segera berangkat ke sebuah klinik kenalannya yang tidak jauh dari jalan poros menuju ke kampus tempatnya bekerja.
"Bisa turun sendiri atau Aku gendong sayang?" tawarnya pada sang istri yang masih duduk saja di dalam mobil.
"Aku bisa sendiri Mas. Malu tahu kalau digendong di depan umum seperti ini." Jovanka menjawab seraya keluar dari mobil itu.
"Iya deh, tapi pelan-pelan aja jalannya." Radith Aditya meraih tangan istrinya untuk membantunya berjalan ke dalam klinik itu.
Setelah mendaftar di bagian administrasi dan juga observasi dari perawat yang bertugas di depan ruangan, mereka pun mendapat kesempatan untuk check up dengan dokter.
"Selamat pagi Pak Radith, yang sakit istrinya ya?"
"Ah iya dokter. Ini sedari tadi mual dan muntah terus." Dokter itu tersenyum. Ia melihat hasil observasi dari perawat yang bertugas kalau pasien cantik ini tidak mengalami sakit yang sangat serius. Sepertinya ia menunjukkan kalau sedang hamil.
"Kita tunggu hasil labnya ya Pak Bu." Dokter itu meminta menunggu beberapa menit seraya bertanya-tanya tentang kondisi pasien yang ada dihadapannya ini. Seorang perawat pun masuk dan membawa selembar kertas yang telah menunjukkan hasil laboratorium Jovanka.
"Selamat ya Pak Radit dan Ibu. Ini hasilnya positif. Jadi sebenarnya gejala mual dan muntah itu dikarenakan oleh pengaruh peningkatan hormon kehamilan."
Radith Aditya langsung menggenggam tangan istrinya kemudian tersenyum bahagia.
"Kamu hamil sayang, terimakasih ya," ujarnya dengan mata berbinar bahagia. Jovanka ikut tersenyum senang, hanya saja tubuhnya masih sangat lemas.
"Tenang saja, ini tidak berlangsung lama kok, orang mengenalnya dengan istilah morning sickness. Biasanya terjadi pada trimester pertama saja. Dan sekarang ini usia kandungan anda sudah berjalan 4 Minggu."
"Iya dokter, terimakasih banyak. Apa ada obat anti mual dokter?"
"Ah iya, ada obat anti mual dan juga pil penambah darah yang akan saya berikan. Selain itu Ibu bisa meminum susu untuk ibu hamil dan juga perbanyak makan makanan yang bernutrisi dan bergizi tinggi."
__ADS_1
"Terimakasih banyak dokter."
"Sama-sama Bu. Kalau masih mual setelah meminum obat ini, bisa hubungi nomor handphone saya ya, ibu Jovanka bisa berkonsultasi lewat handphone saja."
Setelah diberikan obat dan juga wejangan-wejangan. Mereka pun pulang ke rumah. Meminum obat dan minum susu kemudian menghadiri pesta pernikahan Felicia dan juga Mini.
πΊ
Randy Jaya menghentikan kendaraannya di depan gedung pernikahan Felicia dan Daren. Pria itu mencengkram kemudinya dengan sangat keras. Ia marah karena Felicia tak lagi mau menghabiskan waktu bersamanya.
"Sialan kamu Feli, kamu berani menikah dengan orang lain dan tak mau lagi memberiku kepuasan!" Pria itu mengerang kesal. Sejak ia dipecat menjadi dosen, tak ada lagi mahasiswi cantik yang bisa ia dapatkan. Ia bagaikan orang gila yang tidak memiliki apapun lagi.
Jabatan dan kehormatan tak lagi ia dapatkan. Semua rekan dan keluarga menghindarinya. Apalagi perempuan, hanya penjaja sek*s yang ingin meladeninya tapi ia tidak mau, ia selalu ingin yang masih segar dan juga original.
Dengan langkah cepat ia memasuki ruangan gedung pernikahan itu. Ia ingin bertemu dengan Felicia untuk memberinya semacam shock Terapy.
"Selamat ya Fel, kamu menikah dan melupakan apa yang pernah terjadi pada kita berdua." Felicia tersentak kaget dengan kedatangan partner ranjangnya itu.
"Mas Randy, apa kabar. Terimakasih udah mau datang." Felicia nampak gugup. Ia sungguh tidak menyangka kalau pria itu datang dan mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Tentu saja saya datang Fel, kamu sudah lama tidak melayaniku." Randy tersenyum miring. Ia benar-benar ingin menghancurkan Felicia dihari bahagianya ini. Felicia merasakan tubuhnya gemetar. Ia merasakan keringat dingin sudah mulai mengucur dari pori-pori kulitnya.
"Ada apa ini? Apa ada masalah Pak Randy?" Daren yang melihat istrinya sedang bercakap seorang pria yang kenal langsung ikut bergabung. Ia memeluk pinggang ramping Felicia dan mengecup pipi perempuan itu di depan Randy Jaya.
"Hem, tidak. Saya hanya ingin bernostalgia dengan istri anda yang sangat hebat di ranjang."
Bugh
Satu pukulan keras langsung mendarat cantik diwajahnya. Daren tidak suka mendengar seseorang mengatakan hal buruk pada istrinya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1