
Rania langsung menyambut kedatangan cucunya dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia tak berhenti menciumi pipi Ruby yang nampak sangat tirus dan pucat.
"Eyang, Luby senang sekali bisa jumpa dengan eyang," ujar gadis kecil itu dengan senyum lebar diwajahnya.
"Eyang juga sangat senang sayang, kamu kenapa datang terlambat? Kan Mama Feli udah tahu kalau hari ini Ruby akan jadi pengantin kecil bersama Papa," tanya Rania meminta penjelasan cucunya itu.
"Luby udah siap eyang dali tadi, tapi Mama Feli ada tamu laki-laki dan lama sekali di dalam kamalnya Mama. Sampai Luby nangis Mama Feli gak kelual-kelual juga. Makanya Luby lambat datang eyang. Begitu," jelas Ruby dengan wajah serius.
Semua orang yang mendengar perkataan anak kecil itu langsung saling berpandangan. Berbagai pikiran buruk tiba-tiba saja berkelebatan dalam kepala mereka.
"Tapi untungnya ada kakak Zain sama Kakak Cici. Makasih ya kakak." Ruby memandang dua orang yang telah berhasil membawanya pergi dari Rumah Felicia dengan senyum diwajahnya. Ia memperlihatkan deretan giginya yang kecil, putih, dan rapih.
"Oh gitu ya? pantas eyang udah sedih sekali kamu gak ada sayang, ayo sekarang kita datangi Papa dan Mama Jo. Kita kasih selamat." Rania tersenyum. Meskipun cucunya datang terlambat, ia sudah sangat senang karena akhirnya bisa datang juga. Dua orang itu pun segera melangkah ke arah pelaminan untuk bertemu dengan sang mempelai.
Sedangkan Zain dan Cici yang ditinggalkan ditempat itu saling berpandangan dengan perasaan yang sama-sama bahagia. Meskipun tak saling mengungkapkan perasaan, dada mereka berdua berdebar tak karuan.
"Maaf ya tadi, dandananmu jadi sedikit kacau," ujar Zain setelah lama terdiam dan hanya pandangan-pandangan.
"Ah Iyakah?" Cici bertanya dengan wajah panik. Ia baru ingat kalau pas sampai di tempat itu ia tidak berkaca dan memeriksa dandanannya. Ia sudah membayangkan kalau rambutnya saat ini pasti sedang mekar kayak singa marah.
Ia langsung ingin kabur ke Toilet tapi tangannya ditarik oleh pria itu.
"Kak Zain?"
"Kamu mau kemana?"
"Mau ke Toilet Kak. Mau lihat rambut Aku. Pasti sekarang udah kayak singa hehehe," Cici menutup wajahnya karena malu. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana ilfil nya Zain saat ini padanya. Dasar cewek berantakan! mungkin begitulah kira-kira kata pria itu sekarang.
"Berkaca di mataku aja Ci'..Kamu bisa lihat begitu cantiknya kamu saat ini."
__ADS_1
"Kak Zain. Kamu gombal aku terus. Awas Aku gak bisa tidur bentar malam." Cici menutup wajahnya lagi karena merasa sudah sangat menghangat bahagia.
"Udah ya Kak. Aku mau ke Toilet dulu. Bye." Cici tak mau lagi berlama-lama di tempat itu atau ia akan tampak semakin memalukan karena kepalanya rasanya mengembang dengan cepat karena gombalan receh kakak sepupu dari Jovanka itu.
Zain hanya tersenyum samar seraya merapikan pakaiannya sendiri. Ia akan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.
Sementara itu, di Rumah Felicia.
Perempuan itu masih berada di ranjang sedang bergumul dengan seorang pria yang merupakan rekan kerja Radith Aditya di Universitas.
"Faster sayangku, aaaaakh," ucap pria itu yang sedang menikmati goyangan Felicia di atas tubuhnya. Kali ini perempuan itu yang menjadi pemimpin dalam permainan Pump It Up di dalam kamar itu.
Felicia tersenyum senang, ia benar-benar sedang lupa diri dan sudah melupakan kalau Ruby sudah tidak berada di rumahnya.
"Aaaaaah," Randy Jaya dan Felicia saling berteriak keras saat pelepasan itu datang dan membuat mereka berdua tumbang dengan peluh yang membanjiri tubuh polos mereka.
"Sama-sama sayang, kamu juga sangat hebat." Felicia menutup matanya merasakan lelah yang sangat terasa. Akan tetapi ia langsung bangun karena mengingat kalau Ruby pasti sedang menunggunya.
"Mas, Aku harus membawa Ruby pada pernikahan Mas Radith." Perempuan itu langsung melompat dari atas ranjangnya. Ia baru menyadari kalau kedatangan Randy Jaya ke rumahnya adalah mengajaknya menjadi pasangan untuk menghadiri pesta pernikahan itu tetapi tiba-tiba saja berakhir di ranjang melakukan sebuah kegiatan menyenangkan.
Randy Jaya juga langsung berlari ke kamar mandi mengikuti Felicia. Mereka mandi kilat dan segera berpakaian.
"Ruby? Mana anak itu?" Felicia mencari ke seluruh ruangan setelah ia berpakaian dengan sangat cantik.
"Ruby! Kamu dimana?!" Ia terus berteriak mencari dimana putrinya berada.
"Ruby hilang Mas," ujar Felicia dengan wajah ketakutan.
"Periksa CCTV mu Fel." Randy Jaya menjawab dengan santai seraya menghisap rokoknya.
__ADS_1
"Mas, ini dibawah sama dua orang. Aku tidak kenal mereka. Jangan-jangan penculik anak lagi." Felicia semakin ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan kalau Ruby benar-benar diculik. Radith Aditya pasti akan membunuhnya. Randy berdiri dari duduknya. Ia ikut melihat layar monitor di dalam kamar perempuan itu dengan wajah santai.
"Oh itu Zain dan Cici, temannya Jovanka. Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Mereka pasti menjemputnya ke pestanya Radith," ucap Randy Jaya dan berhasil membuat Felicia sedikit tenang. Ia lalu mengajak Felicia untuk segera pergi ke pesta pernikahan itu karena sepertinya waktu mereka tinggal sedikit.
"Ayo sekarang kita berangkat. Aku yakin rekan-rekan di Kantor sudah pada datang." Randy Jaya langsung menarik tangan perempuan itu ke arah mobilnya.
Ia ingin tiba di tempat resepsi itu untuk menunjukkan pada semua orang kalau apa yang dimiliki Radith Aditya pasti bisa ia miliki juga. Dan begitupun nanti dengan Jovanka, ia masih sangat penasaran dengan mahasiswi yang terkenal sangat cantik dan juga sangat menarik itu.
"Apa yang kamu pikirkan Mas?" tanya Felicia saat Randy Jaya nampak tersenyum-senyum sendiri.
"Aku memikirkan dirimu Fel, kamu sangat cantik dan juga mampu memberikanku kepuasan. Aku senang karena kamu masih sama seperti yang dulu sayang," jawab pria itu dengan tangan kiri mengelus lembut wajah Felicia sedangkan tangan kanannya memegang setir mobil.
"Ah iya Mas. Tentu saja. Tapi kumohon nikahi Aku. Mas Radith benar-benar sudah tidak bisa lagi aku dapatkan gara-gara kamu. Jadi sekarang saatnya kamu bertanggung jawab padaku." Randy Jaya tidak menjawab. Wajahnya langsung berubah.
Sejak 4 tahun yang lalu ia sudah berhasil membuat Felicia meninggalkan Radith Aditya dan sekarang rasanya ia sudah tidak berpikir lagi untuk menikahi perempuan cantik disampingnya ini.
Ia sudah mulai merasa bosan. Dan ingin mencari gantinya, yaitu Jovanka. Tak apa ia selalu mendapatkan sisa dari seorang Radit Aditya yang ia benci. Yang jelasnya apa yang pernah dimiliki oleh pria itu ia juga harus merasakannya dan bahkan menghancurkannya.
"Mas, kamu dengar Aku 'kan?"
"Hem..."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1