Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 71 Zion Amnesia


__ADS_3

"Ada apa Min? Kenapa kamu nangis sayang?" Rossy meraih bahu calon menantunya itu dengan tatapan khawatir.


"Apa sesuatu terjadi pada Zion?" tanya perempuan paruh baya itu lagi. Mini mengangguk seraya menyusut air matanya.


"Kak Iyon amnesia Mi, ia tidak ingat sama aku." Mini memeluk tubuh calon ibu mertuanya itu dengan perasaan yang sangat sakit.


"Bagaimana mungkin Min? Jadi Zion udah sadar dan bisa bangun?"


"Iya Mami. Kak Iyon bahkan minta makan minum dan makan. Tapi ia tidak ingat Aku hiks," jawab gadis itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedih, kecewa, dan juga sangat kesal.


"Apa? Sini Mami mau ketemu sama anak itu. Semoga saja ia juga tidak lupa sama Mami." Rossy melepaskan pelukan Mini Geraldine dan bersiap untuk masuk ke ruang ICU.


"Masuk aja Mi. Sekarang aku pamit pulang dulu. Mau tidur." Mini tersenyum terpaksa. Ia benar-benar ingin pergi dari sana. Ia butuh tempat untuk istirahat dan menghibur dirinya dari rasa kecewa dan sakit hatinya.


"Iya sayang. Kamu pulang gih. Ferry bisa mengantarkan kamu. Biar Mami menemui pasien kita itu." Rossy setuju. Ia juga sudah lama meminta gadis itu untuk pulang dan beristirahat.


"Iya Mi, aku pulang ya. Salam sama Kak Iyon." Mini pun pergi dari sana dengan membawa sebuah tas besar, berisi pakaian dan perlengkapannya yang sudah digunakannya selama di Rumah Sakit.


"Kak Ferry, antar aku pulang ya," pinta gadis itu pada sang calon kakak iparnya. Ferry tersenyum dan langsung menjawab," Siap!" dengan tangan dalam posisi hormat. Mini tertawa.


Gadis itu cukup terhibur dengan gaya pria itu. Pria yang selama ini selalu menemaninya di rumah sakit menjaga Zion. Mereka pun pergi dari tempat itu untuk beristirahat. Ferry juga ingin tidur dengan nyenyak di kamarnya karena sang adik sudah sehat dan bisa dijaga oleh Ibunya saja.


Tak ada yang bercakap selama perjalanan mereka pulang ke tempat yang sama. Ferry tahu kalau Mini saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jadi ia tidak ingin mengganggu perasaan gadis itu.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat kost Mini sekaligus juga rumah Ferry.


"Makasih banyak ya Kak. Aku langsung masuk ke kamar ya," ujar gadis itu berusaha untuk tersenyum meskipun ia sedang sangat kecewa.


"Iya, jangan lupa mandi agar kamu segar."


"Ah Iya ya. Apa mungkin gara-gara itu Kak Iyon melupakan aku kak?" canda Mini untuk menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya ya ya bisa saja sih, Zion kan emang suka rada aneh gitu, hahahaha," jawab Ferry yang disertai dengan tawa terbahak-bahak. Mini mendengus kemudian segera menuju kamarnya. Ia memang butuh mandi dan tidur yang banyak.


Beberapa teman kostnya langsung datang mengerubutinya sewaktu ia sudah sampai di kamarnya. Mereka senang karena akhirnya Mini kembali lagi ke kamarnya setelah beberapa hari menginap di Rumah Sakit.


"Gimana kabar Kak Zion, Min?"


"Alhamdulillah, sudah sehat. Terimakasih banyak doanya ya," jawab Mini tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Alhamdulillah, artinya kalian jadi nikah dong," timpal yang lain.


"Insyaallah, doakan kami ya," jawab Mini lagi dengan dada berkecamuk.


"Maafkan aku semuanya. Aku mau istirahat dulu. Mau tidur yang banyak. Ini Badan rasanya capek banget." Mini pun menutup basa-basi dengan teman-temannya itu kemudian segera masuk ke kamarnya.


Gadis itu membuka pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya agar bisa lebih menyegarkan tubuh dan juga otaknya. Untuk sejenak ia ingin melupakan Zion yang juga sudah melupakannya.


Guyuran air dari shower membuat ia begitu segar dan nikmat. Air dingin yang membasahi kepalanya benar-benar membantu perasaannya yang sangat sedih.


Ia harus kuat menerima keadaan ini. Masa depannya masih sangat cerah. Ia masih muda. Kalaupun ia tidak bisa berjodoh dengan Zion, ya ia harus menerimanya. Karena Ia tidak bisa memaksakan kehendak pada pria itu.


Cinta tidak harus memiliki bukan?


Setelah berpakaian, ia pun keluar dari kamarnya untuk menemui pihak laundry sekalian menunggu pesanan makanan nya. Ia harus makan sebelum tidur yang banyak agar energinya terkumpul dengan baik.


"Eh, udah mandi. Kok keluar? Gak jadi tidurnya?" Ferry yang sedang duduk di ruang tamu menegurnya.


"Nunggu laundry dulu kak dan juga makanan. Lapar hehehehe."


"Sama dong. Kita makan di sini aja bareng. Gimana?" Ferry tersenyum senang. Ia juga sudah mandi dan memesan makanan di warung yang sama. Itu artinya Kurirnya pasti orang yang sama juga.


Tring

__ADS_1


"Itu pasti kurirnya." Ferry langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang tamu itu. Dan benar saja. Yang datang adalah kurir pengantar makanan pesanan mereka berdua. Ia pun membayar semua makanan itu dan membawanya masuk.


"Ini pesanan kamu kan Min?" tanya pria itu setelah sampai di dalam. Beberapa bungkusan makanan ada ditangannya.


"Iya Kak. Berapa katanya?" Mini menjawab seraya membuka dompetnya untuk membayar.


"Ih kayak kamu sama siapa saja. Aku yang bayarin."


"Tapi banyak loh pesanan aku kak." Mini meringis tidak nyaman. Ia melihat begitu banyak paket pesanannya di atas meja. Harganya pasti sangat mahal. Ia memang sengaja memesan makanan banyak untuk membalas rasa kecewanya pada Zion. Ia ingin makan banyak sampai kenyang kemudian tidur.


"Gak apa-apa. Aku kan calon Kakakmu. Kamu sebentar lagi jadi keluarga kami. Ayo cepat makan. Nanti keburu dingin lho." Ferry tersenyum kemudian berusaha mengalihkan perhatian Mini yang nampak bersedih kembali.


"Ah iya kak. Makasih banyak." Mini pun memulai makan dengan khusuk. Sekuat tenaga ia berusaha untuk melupakan sakit hatinya agar ia bisa menikmati makanan yang ada dihadapannya.


"Gimana? Enak?" tanya Ferry setelah melihat Mini benar-benar menikmati semua makanan di hadapannya. Ia sangat senang karena gadis itu nampak melupakan masalahnya.


"Alhamdulillah, enak Kak. Ternyata kalau habis mandi tuh enak banget makannya. Usus ku rasanya terbuka dengan sangat lebar hahaha." Mini tertawa terbahak-bahak. Ferry tersenyum. Dadanya berdebar. Entah kenapa ia merasakan kalau Zion sangat beruntung memiliki seorang kekasih seperti Mini. Orangnya cantik dan juga baik hati.


"Udah ya kak. Makasih banyak. Aku mau kembali ke kamar. Udah kenyang sekarang jadi ngantuk berat."


"Ah iya. Kamu tidurlah. Dan jangan memikirkan yang tidak-tidak. Zion akan aku getok kepalanya kalau berani melupakanmu."


"Hahaha, itu boleh juga Kak. Ide yang sangat bagus." Mini tertawa lagi kemudian benar-benar pergi dari sana. ia berharap setelah tidur ia akan mendengar kabar baik dari Rumah Sakit.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍

__ADS_1


__ADS_2