Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 76 Muntah Luar Dalam


__ADS_3

Jovanka mencengkram kuat selimutnya saat Radith Aditya melesakkan piton raksasanya semakin dalam. Perempuan cantik itu tidak sadar menggigit bibir bawahnya karena telah dibuat terbang ke nirwana dengan sangat indah dan nikmat.


Rintihannya kembali terdengar merdu saat Radith menarik ulur si piton raksasa keluar masuk dengan sangat lembut dan kadangkala sangat kasar.


"Jo, Aku hampir sampai sayang," bisik pria itu dengan suara serak menahan rasa yang sangat luar biasa nikmatnya. Ia merasa seperti sedang diberikan pijatan dengan sangat lembut. Milik Jovanka benar-benar luar biasa dan semakin lezat dari hari ke hari.


"Jovanka sayangku, aaaaakh," erangan Radith Aditya membuktikan kalau pitonnya sudah tak kuat merasakan siksa nikmat di dalam istana sang istri. Ia akhirnya berhasil memuntahkan bisanya didalam.


"Jo, terimakasih banyak sayangku. Aku mencintaimu."


"Mas, kamu luar biasa banget, Aku juga mencintaimu."


Radith Aditya mengulum lembut bibir sang istri setelah ia menyelesaikan misinya. Pria itu meraih tissue untuk membersihkan muntahan pitonnya di depan istana sang istri. Ia selalu seperti itu. Membuat istrinya nyaman dengan memberikan perawatan pada milik sang istri yang sangat indah dan selalu bisa membuatnya banyak bersyukur.


"Mau mandi sayang?" ajak Radith Aditya dengan senyum diwajahnya. Jovanka hanya mengangguk kemudian mengalungkan tangannya ke leher kuat sang suami.


Ia meminta untuk digendong ke kamar mandi. Pria itu pun membawa sang istri tercinta ke dalam kamar mandi. Mereka harus mandi dan bersiap untuk sholat Magrib.


Baru kali ini Radith Aditya melaksanakan sholat di rumah bersama sang istri, rupanya pergulatan mereka beberapa saat yang lalu tak urung membuat nya sangat lelah juga. Setelah mereka melaksanakan kewajiban, mereka berdua pun keluar dari kamar dengan wajah berseri-seri bahagia.


"Tadi ada tamu lho, yang nyariin kalian tapi Mama gak mau ganggu," ucap Rania tersenyum maklum. Ia tahu betul kalau dua insan itu sedang memadu kasih saat tamu itu datang.


Radith Aditya dan Jovanka saling melemparkan pandangan kemudian sama-sama tersenyum. "Iyyakah Ma? Siapa?" Radith Aditya menarik kursi untuk istrinya agar bisa duduk.


"Tetangga. Mereka mau mengadakan bakti sosial pada hari Minggu besok."


"Oh iya Ma. Bagus itu, kami juga tidak ada acara kok."


"Eh, ada Mas, tapi agak siang sih," ujar Jovanka menimpali.


"Acara apa kok aku lupa ya?" Radith Aditya ikut duduk di depan meja makan itu.


"Pernikahan mbak Feli dan juga pernikahan Mini, sahabatku."


"Oh ya? Mini jadi menikah? Bukannya Zion katanya amnesia ya?"


"Iya Mas. Kasihan banget tuh Mini. Mungkin dua pihak keluarga tetap ingin melanjutkan pernikahan karena sudah terlanjur bikin undangannya 'kan?"


"Ya, mungkin juga sih. Sekarang makan aja dulu. Kamu pasti lelah." Radith Aditya menjawab seraya membuka tudung saji di atas meja makan. Aroma khas masakan langsung menguar tajam ke dalam Indra penciuman Jovanka yang sangat sensitif akhir-akhir ini.

__ADS_1


Jovanka merasakan perutnya bergolak. Ia merasa sangat mual dan pusing.


"Tutup dulu Mas, Aku kok langsung pusing sih?" ujar perempuan itu dengan wajah yang berubah tak nyaman.


"Lho? Kenapa?" tanya Radith Aditya dengan wajah bingungnya. Padahal ia tahu kalau istrinya sangat suka menu ikan gurame tumis seperti ini.


"Maaf Ma, Mas Uweeeek," ucap Jovanka seraya keluar dari kursinya. Ia langsung berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


"Jo, ada apa sayang?" ujar Radith Aditya seraya ikut berdiri dan mengikuti istrinya ke wastafel.


"Uweeeek Uwekkk."


"Astaghfirullah sayangku. Ada apa? Kamu masuk angin kali Jo," ujar sang suami dengan tangan memijit tengkuk istrinya agar ia nyaman.


"Gak tahu Mas, Uweeeek." Jovanka kembali merasakan perutnya dikocok dan berakhir mengeluarkan semua isi perutnya.


"Kasih minyak ini Dith, terus bawa ke kamar saja untuk istirahat." Rania memberikan sebotol minyak aromaterapi pada putranya. Ia semakin yakin kalau menantunya ini pasti sedang hamil.


"Iya Ma, makasih banyak." Radith Aditya pun membawa istrinya ke kamarnya kembali. Tubuh Jovanka seketika sangat lemas. Tenaganya sudah terkuras habis dengan bergulat dengan sang suami dan sekarang ia juga memuntahkan isi perutnya.


"Kok bisa sih sayang?" tanya Radith Aditya seraya memberikan aroma terapi pada belakang kuping istrinya.


"Lho kok gitu? Padahal kamu kan suka banget dengan masakan Bik Mina."


"Gak tahu Mas. Rasanya langsung tak nyaman di perut gitu." Jovanka menjawab dengan tangan mengelus lembut perutnya.


Seketika Radith Aditya tersenyum. Ia sering mendengar cerita para ibu-ibu di ruangan kerjanya tentang keadaan mereka yang mirip dengan yang dialami Jovanka. Felicia juga kayaknya pernah seperti itu juga saat mengandung Ruby.


Pria itupun langsung membuka pakaian istrinya dan mencium perut rata sang istri.


"Sayang, apa mungkin adiknya Ruby sudah jadi ya?" tanyanya dengan wajah yang sangat bahagia. Jovanka terhenyak. Ia tidak pernah kepikiran tentang hal ini.


"Mas, apa mungkin?" tanya perempuan cantik itu dengan wajah haru dan bahagianya.


"Iya sayang. Kamu gak pernah datang bulan 'kan sejak kita menikah?" Jovanka tampak berpikir. Senyum malu-malu tiba-tiba muncul dibibirnya yang ranum. Ia ingat kalau hampir setiap saat suaminya mengunjunginya dan jarang sekali berlibur.


"Iya Mas, kita selalu melakukan itu." Jovanka menjawab dengan malu-malu.


"Melakukan apa sayang?" goda Radith dengan senyum diwajahnya. Ia langsung mengikis jarak dengan istrinya karena sangat gemas melihat ekspresi Jovanka.

__ADS_1


"Melakukan itu Mas, yang bikin ketagihan banget, hehehe," kekeh Jovanka semakin malu. Ia ingin menutup wajahnya karena malu tapi segera diraih oleh sang suami.


"Makasih banyak Jovanka Baron. Kamu telah memberi aku rasa yang sangat luar biasa sayang. Semoga saja kamu beneran hamil ya, supaya Ruby punya teman bermain nantinya."


"Sama-sama Mas, aku juga berterimakasih. Kamu kasih aku kebahagiaan yang sangat luar biasa. Jangan berubah ya Mas."


"Heh, berubah kayak gimana coba? Jadi Spiderman Hem?" Jovanka tertawa dibuatnya. Akan tetapi tawanya langsung berhenti karena perutnya yang sudah kosong sekarang minta diisi.


"Lapar Mas,"


"Mau makan apa?"


"Kalau aku minta makan di rumahnya bunda, Mama tersinggung gak mas?"


"Gak kok. Nanti aku bilang sama Mama dulu ya, kamu tunggu di sini dulu. 5 menit saja." Radit Aditya pun berdiri dari duduknya. Ia keluar dari kamar itu untuk meminta izin pada Mamanya.


"Gimana istrimu Dith, udah baikan?"


"Iya Ma, tapi katanya lapar dan mau makan di rumah mertua, boleh kan Ma?"


"Boleh. Tapi kamu bisa nyicipin masakan Mama dulu ya, udah capek lho Mama bikinnya."


"Tentu saja Ma, Aku juga sudah lapar. Aku makan sekarang ya," jawab Radith Aditya seraya mengambil piring dan mengisinya. Ia tidak ingin mengecewakan sang Mama yang sudah menyediakan ini semua bersama Bik Mina.


Rania tersenyum senang. Putranya ini benar-benar selalu bisa membuatnya senang meskipun untuk hal-hal yang kecil seperti ini. Ia memandang putranya yang makan dengan sangat lahap.


"Makannya jangan terlalu kenyang juga Dith, nanti sampai di rumah mertua kamu jadi gak bisa makan lagi karena udah kenyang banget hehehe," kekeh Rania mengingatkan.


"Ah iya ya Ma, Aku sampai lupa. Itu karena masakan Mama memang lezat dan bikin lupa untuk berhenti."


"Hum iya, dan jangan sampai istrimu kesal karena terlalu lama."


"Astaghfirullah. Iya Ma, hampir lupa." Radith Aditya segera menghabiskan nasinya kemudian minum. Ia harus segera membawa istrinya ke rumah orangtuanya untuk makan malam.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2