Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 25 Rania Setuju


__ADS_3

"Jo!" panggil Zain di depan kamar Jovanka. Gadis itu pun keluar dari sana dengan wajah malas.


"Ada apa Kak Zain, Pak Radith udah pulang ya?"


"Kamu kok gak sopan amat sih sama Pak Radith. Dia 'kan dosen kamu." Zain menatap adik sepupunya itu dengan wajah kesal. Jovanka memutar bola matanya malas karena tak mau berdebat. Ia akui kalau ia memang sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya, apalagi dia adalah dosen atau guru yang mengajarnya ilmu.


"Ngomong apa tadi Pak dosen?" Jovanka akhirnya bertanya karena ia juga penasaran. Ia yakin pria itu ingin mengatakan hal yang sangat penting sampai memintanya bertemu di Taman.


"Katanya kalau kamu sayang sama Ruby, temui ia di Rumah Sakit."


"Apa kak? Ruby sakit?"


"Sepertinya sih begitu, karena Pak Radith sampai terburu-buru seperti itu dan gak sempat masuk ke rumah."


"Astaghfirullah. Antar Aku kesana Kak Zain!" Jovanka langsung berlari masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket dan sling bag nya.


"Mau kemana buru-buru sayang?" Zarina bertanya dengan saat mereka berdua naik ke motor sport milik ponakannya itu.


"Minta izin bunda, Aku mau lihat Ruby. Katanya masuk Rumah Sakit."


"Duh kasian. Hati-hati ya Zain. Kalau kalian sampai jangan lupa kasih kabar ya," pesan Zarina dengan perasaan ikut khawatir.


"Iya bunda. Assalamualaikum." teriak Jovanka karena motor sudah dilakukan dengan cepat oleh sang driver.


"Waalaikumussalam!" Zarina ikut berteriak keras membalas salam dari putrinya. Ia pun masuk ke dalam Rumahnya dengan perasaan yang sangat khawatir.


Ia sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Karena menurut pengamatannya anak kecil itu sangat menyukai Jovanka sang putri.


"Kak Zain! cepetan!" Jovanka tak berhenti memukul bahu sepupunya itu sampai Zain jadi kesal sendiri.


"Bisa diam gak sih tangannya!" kesal Zain.


"Iyaa kak. Tapi cepetan dong."


"Ini udah cepet Jo. Udah kecepatan 90. Nanti kalau lebih dari ini bisa-bisa kita sampai di Rumah Sakit pakai kendaraan lain lagi."

__ADS_1


Ciiit


Lima menit berikutnya mereka pun sampai di Rumah Sakit. Jovanka langsung melompat turun dari motor itu dan langsung berlari ke dalam ruang IGD.


"Maaf dokter, apakah ada pasien anak kecil yang bernama Ruby Aditya?" tanyanya dengan nafas memburu pada seorang dokter perempuan yang kebetulan ia temui di depan pintu ruangan itu.


"Mbak bisa tanya di bagian administrasi ya," jawab sang dokter seraya berlalu dari hadapannya.


"Makasih dokter." Jovanka berucap kemudian melanjutkan langkahnya ke arah bagian administrasi di bagian luar ruangan itu.


"Ruby Aditya, usia 4 tahun. Sudah kami pindahkan ke ruang perawatan di kamar VIP kelas 1 nomor 02 Anging Mammiri." jelas Staff itu dengan sangat lengkap.


"Makasih Bu." Jovanka langsung keluar dari tempat itu mencari kamar yang dimaksud. Ia terus berlari karena begitu khawatir sampai melupakan Zain yang datang bersamanya.


"Assalamualaikum," ucapnya ketika sampai di depan pintu kamar itu. Ia berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena berlari.


"Waalaikumussalam," Radith Aditya menjawab seraya membukakan pintu untuknya. Jovanka tidak menegur pria itu tetapi langsung melewatinya dan menemui Ruby yang sedang tertidur. Radith Aditya tersenyum samar karena gadis itu akhirnya datang. Meskipun itu bukan untuk dirinya tetapi untuk Ruby.


"Maaf, Bu. Gimana kabarnya Ruby?" tanyanya pada Rania yang sedang duduk disamping gadis cilik itu.


"Ruby udah bisa tertidur setelah dikasih obat. Demamnya juga sudah mulai turun." Rania menjawab seraya menatap Jovanka dengan wajah serius. Ia baru bisa memperhatikan kalau gadis ini memang sangat cantik dan tampak baik hati.


"Ah iya terimakasih banyak. Saya memang sangat lelah. Sejak kemarin Ruby selalu merajuk dan mencarimu."


"Maafkan Aku Bu, silahkan pulang saja untuk beristirahat."


"Kamu tidak akan meninggalkan Ruby lagi 'kan?" tanya Rania untuk meyakinkan dirinya agar bisa beristirahat dengan baik. Jovanka tersenyum. Ia tidak ingin berjanji karena ia tidak mungkin selamanya menjadi pengasuh anak itu jika mereka tidak ada hubungan apa-apa.


"Aku antar Mama pulang," ujar Radith Aditya menimpali percakapan dua perempuan beda usia itu.


"Ada Kang Udin di depan. Kamu disini saja. Siapa tahu Ruby membutuhkan sesuatu."


"Ah iya, Ma, Aku akan antar Mama sampai di Parkiran aja kalau begitu." Mereka berdua pun pergi dari kamar perawatan itu setelah berpamitan pada Jovanka.


"Pak Radith, bagaimana dengan Jovanka, apa sudah bertemu dengan putri bapak?" Zain langsung menyapa dosen muda itu saat mereka bertemu di tempat parkir.

__ADS_1


"Iya, udah ada di kamarnya Ruby. Makasih ya Zain."


"Sama-sama Pak."


"Eh itu kamu ya, yang ditemani Jovanka di Time Zone kemarin?" tanya Rania setelah memperhatikan pria muda yang ada dihadapan mereka berdua.


"Iya ibu. Saya Zain. sepupunya Jovanka." Pria muda itu mengarahkan tangannya kepada Rania untuk memperkenalkan diri.


"Oh sepupu? Baguslah kalau begitu.," ujar Rania dengan senyum lega diwajahnya. Zain hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh perempuan paruh baya itu.


"Saya pamit pulang duluan ya, mau istirahat dulu di rumah." Radith Aditya dan Zain memandang kepergian perempuan itu yang dibawa oleh Kang Udin.


"Apa saya harus menunggu Jovanka Pak?" tanya Zain untuk memastikan apa yang harus dilakukannya di tempat itu.


"Tidak perlu. Kamu pulang saja dan sampaikan pada Pak Haikal kalau putrinya Aku sita dulu untuk sementara waktu."


"Ah iya Pak siap!" Zain tersenyum samar dan mulai mengerti apa yang sedang terjadi antara dua orang itu.


"Terimakasih banyak ya Zain."


"Jangan sungkan Pak. Kita kan sebentar lagi jadi keluarga." senyum lebar Zain.


"Kamu ternyata cepat paham Zain. Dan saya suka itu." Radith Aditya langsung menepuk bahu mahasiswanya itu dengan senyum diwajahnya.


"Baiklah Pak. Saya permisi. Jovanka itu anaknya aneh Pak. Jadi semoga bapak bisa bersabar dengannya."


"Ya ya, terimakasih banyak nasehatnya." Mereka berdua tersenyum penuh arti kemudian saling berpisah.


Zain pulang ke rumahnya sedangkan Radith Aditya kembali ke kamar perawatan putrinya. Akan tetapi sebelumnya ia singgah di kantin Rumah Sakit untuk membeli minuman ringan dan juga makanan. Ia tahu kalau Jovanka suka sekali ngemil.


Pria itu membuka pintu kamar perawatan putrinya dengan hati-hati. Matanya berbinar bahagia saat melihat Jovanka sedang bercakap-cakap dengan putrinya. Hatinya menghangat penuh haru. Gadis itu berhasil membuat putrinya kembali ramai.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2