Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 52 Skip Aja


__ADS_3

"Gak jadi kerja Pe Er sayang, Yok kita main saja," jawab Jovanka seraya mendudukkan tubuhnya di samping gadis kecil itu.


"Kenapa Ma? Miss. Susi selalu minta supaya Pe El nya halus dikeljakan." Ruby bertanya dengan wajah penasaran.


"Miss Susi benar sekali sayang. Cuma, pe er nya Mama sama Papa bukan pe er anak Paud seperti kamu."


"Kenapa Ma? Dulu Mama seling tulis-tulis kelja pe el sepelti Luby, kok sekalang gak sama." Rupanya Ruby masih sangat penasaran dengan kata Pe er yang salah ucap perempuan itu ucapkan.


Jovanka menarik nafas berat. Ia sibuk berpikir. Ternyata menjadi seorang ibu memang harus pintar dan cerdas dalam menghadapi anak-anak kritis seperti Ruby. Tak heran jika ibu dikatakan sebagai madarsatul ula. Tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar.


"Hum, Pe el nya Mama sama Papa gak cocok untuk anak PAUD. Susah dan bikin capek sayang. Jadi, anak kecil seperti kamu gak boleh kerja Pe Er seperti itu." Jovanka mencium pucuk kepala putri sambungnya itu dan berharap ia tidak lagi menanyakan tentang pe er yang membuatnya jadi pusing sendiri.


"Jadi kamu gak usah pikirkan itu ya. Kita bermain saja sayang," lanjut Jovanka seraya membantu gadis cilik itu menyusun puzzle games yang sedang sangat kacau di depan Ruby.


"Okey Ma," ujar Ruby dengan wajah kembali gembira. Ia ikut menyusun puzzle itu dengan tawa renyahnya. Jovanka bagaikan seorang Mama sekaligus teman yang sangat menyenangkan. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan bahkan pada ibu kandungnya sendiri.


Kebahagiaan gadis kecil itu ternyata tidak dirasakan oleh Jovanka dan juga Radith Aditya. Hati mereka berdua sedang sangat gelisah saat ini. Berkali-kali tangan perempuan itu salah menyusun puzzle dan kalah dari Ruby.


"Mama kenapa? Kok kalah telus?" tanya Ruby dengan tatapan penasarannya. Biasanya setiap bermain seperti ini Jovanka selalu tampak sangat bersemangat dan juga selalu menang.


"Mama lagi ingat Papa di kamar sayang. Boleh gak Mama ke kamar dulu?" tanya Jovanka hati-hati.


"Memangnya Papa kenapa Ma? Masih kelja Pe El?"

__ADS_1


"Gak sayang. Papa pasti nungguin Mama. Boleh ya? Mama kesana."


"Ah iya Ma, pelgi saja. Nanti Luby main sendiri." Ruby tersenyum dan melanjutkan menyusun puzzle-puzzle yang sempat teracak oleh tangan Mama Jo.


"Terimakasih banyak sayangku, Mama pergi ya," ujar perempuan itu dengan hati lega. Ia cepat melangkah kan kakinya ke arah kamar utama di rumah itu. Ia berharap sekali kalau suaminya tidak marah dan kecewa padanya yang lambat kembali.


Perlahan ia membuka pintu kamar itu dan menguncinya. Dengan langkah cepat ia menuju tempat tidur dan melihat suaminya sedang membungkus dirinya dengan selimut.


"Mas," panggilnya pelan. Tak ada sahutan ataupun respon hingga ia menarik nafasnya lega.


"Kamu udah tidur ya Mas, syukur deh. Aku sekarang mau balas chatnya teman-teman saja," gumam Jovanka dengan senyum diwajahnya.


Ia tahu kalau suaminya sebenarnya tidak tidur. Karena ia bisa melihat sesuatu yang janggal pada bagian bawah sang suami. Ada yang sedang berdiri dibawah selimut.


Ia pun berniat mencari handphonenya yang ia lupa simpan dimana tadi sewaktu digerebek oleh suaminya. Sayangnya langkahnya harus terhenti karena merasakan ujung rok mininya sedang ditarik oleh seseorang hingga melorot ke bawah.


"Mana bisa aku tidur sedangkan si piton gak mau ku ajak tidur, Hem," jawab Radit Aditya dengan tangan sudah berpindah ke pangkal pahanya yang terbuka. Ia bergerak sangat lembut disana.


Jovanka tersenyum. Ia sangat menyukai tatapan dan sentuhan suaminya itu. Ia pun mendekat dan duduk di bibir ranjang dan memandang wajah tampan yang sedang berbaring itu.


"Ah Mas, masak sih pitonnya gak tidur padahal Aku perginya lama." Jovanka melirik sesuatu yang sangat mencurigakan dibawah sana.


"Benar sayangku, lihat saja kalau kamu tidak percaya," jawab Radit Aditya seraya membuka selimut yang menutupi bagian bawahnya.

__ADS_1


Jovanka terperangah dibuatnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat tampilan piton istimewa seperti itu.


"Mas, ya ampun, itu kok keren sekali sih?' tanya Jovanka dengan mata takjub. Ia merasakan kulitnya meremang hanya karena melihat milik suaminya yang tinggi menjulang seperti itu.


"Sentuh dia sayang. Minta maaflah padanya. Kamu juga bisa memanjakannya." Radit Aditya membawa tangan istrinya untuk memberikan belain dan juga sentuhan-sentuhan yang sangat ia inginkan. Jovanka langsung merasakan sebuah perasaan asing yang sangat menyenangkan. inti dirinya berkedut sempurna.


Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Radit Aditya. Pria itu seolah dibawa terbang oleh sang istri. Ia mengerang nikmat ketika Jovanka melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangkanya.


"Jo, Apa yang kamu lakukan sayangku...itu Aaaaaakh nikmat sekali sayang."


Jovanka tidak menjawab. Ia tidak punya suara lagi untuk merespon perkataan suaminya. Hanya erangan Radith Aditya saja yang memenuhi ruangan kamar itu.


Perempuan itu tersenyum kemudian membuka penghalang di seluruh tubuhnya. Kali ini ia yang ingin diperlakukan sama oleh suaminya.


Radit Aditya sangat mengerti. Ia pun bangun dan mengangkat tubuh istrinya itu ke bibir ranjang. Ia membuka lebar-lebar paha perempuan cantik itu dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh istrinya tadi.


Udah ah, di skip aja...


Kasih hadiah dong... bunga, kopi atau koin๐Ÿคญ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜…


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ๐Ÿ˜


__ADS_2