
Sepulang dari kampus, Radith Aditya tidak langsung pulang ke Rumahnya. Ia langsung mengarahkan mobilnya ke Gang Flamboyan. Ia ingin mencari Jovanka di tempat tinggal gadis itu di Rumah orang tuanya.
Sungguh hatinya sangat tidak tenang jika tidak mendengarkan penjelasan dari pengasuh centil itu tentang kepergiannya dari Rumahnya. Ruby yang akan ia jadikan alasan untuk memintanya kembali karena anak itu sampai sekarang masih merajuk.
Dan satu hal yang paling penting sebagai tujuannya adalah ia ingin melamar gadis itu menjadi istrinya pada Haikal Baron. Ia sudah tidak tahan lagi menahan perasaannya pada Jovanka.
24 jam berpisah dan tanpa ada komunikasi dengan gadis itu rupanya membuat kepalanya berdenyut pusing. Pria itu benar-benar sudah jatuh cinta setengah mati pada seorang Jovanka Baron atau Jojoba.
"Pagar hijau. Ya itu dia," ujarnya pelan seraya memandang ke depan jalanan di hadapannya. Ia pun memarkirkan mobilnya dipinggir jalan gang itu.
Radith Aditya turun dari kendaraan pribadinya setelah memastikan kalau letak mobilnya itu tidak menggangu pengguna jalan lainnya.
Langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat Jovanka dan juga dua orang pria muda sedang turun dari sebuah mobil yang ia kenal. Ya mobil itu adalah milik Randy Jaya, rekannya sesama dosen di Universitas. Dengan cepat ia kembali ke dalam mobilnya agar tidak terlihat sampai mobil itu pergi dari sana.
Hatinya merasa sangat marah dan cemburu. Di depan matanya sendiri gadis yang ia ingin lamar justru bersama dengan banyak pria. Rencananya untuk meminta gadis itu pulang rasanya ingin ia batalkan.
"Apa memang betul kata Mama, kalau Jovanka bukanlah sosok gadis yang bisa Aku jadikan istri dan Mama untuk Ruby?" tanyanya dalam hati.
"Tapi, bagaimana dengan Ruby. Apa yang akan Aku katakan padanya?" Kembali pria itu bertanya pada dirinya sendiri. Selama beberapa menit, pria itu hanya diam di dalam mobilnya. Sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
"Radith, kamu udah pulang?" Rania menjemput putranya itu di depan pintu dengan senyum diwajahnya.
"Iya Ma." Pria duda beranak satu itu balas tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam Rumah. Jiwa dan raganya lelah dan butuh istirahat. Hatinya jangan ditanya, sakit, perih, meskipun tidak berdarah.
"Alhamdulillah Ruby baru saja tertidur setelah seharian menangisi calon mamanya itu." Rania sengaja berkata seperti itu untuk menyindir putranya.
Radith Aditya meraup wajahnya kasar kemudian memandang perempuan yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Ma. Untungnya Mama ada disini menemani Ruby."
"Sama-sama nak. Itu sudah merupakan kewajiban Mama. Dari sejak kamu masih dalam kandungan. Mama selalu ingin memastikan kebahagiaanmu. Felicia adalah pilihanmu. Jovanka juga adalah pilihanmu. Nah, sekarang berpikirlah baik-baik. Apakah dua orang perempuan itu memberimu kebahagiaan?"
"Aku mengerti maksud Mama. Tapi biarkan Aku istirahat dulu. Kepalaku sakit Ma."
"Iya, istirahatlah. Mama tetap berharap kamu sudah cukup bijak menentukan arah masa depanmu dan juga Ruby."
"Iya Ma, terimakasih banyak." Pria itu pun meninggalkan sang Mama dan memasuki Kamar pribadinya. Mandi dan sholat adalah hal pertama yang ia butuhkan sekarang.
πΊ
Pagi pun datang menjelang. Jovanka masih bermalas-malasan di atas ranjangnya. Selimut tebal menggulung tubuhnya dengan sangat nyaman. Zarina membangunkan putrinya itu untuk mandi dan sholat.
"Jo, bangun sayang. Udah keburu telat lagi nih sholat nya."
"M apa nih maksudnya, M malas, atau M Menstruasi? Bunda gak lihat kamu sibuk minta dibelikan pembalut."
"Ih bunda."
"Ayo bangun. Udah berapa hari lho kamu gak ngampus, kamu mau gak lulus-lulus?"
"Ih, malas. Aku kan mau pindah bunda sayang. Gak mau lagi belajar disana."
"Eh, emangnya gampang mahasiswa itu pindah-pindah Universitas? eh Ayo cepetan bangun. Kemarin waktu kamu ke Time Zone. Naomi dan Cici datang ke sini lho. Mereka berdua nyariin kamu."
"Hah yang bener bun?" Jovanka langsung bangun dari tidurnya dengan wajah gembira.
__ADS_1
"Iya, masak bunda bohong sih. Mereka katanya kangen sama kamu."
"Iya bunda. Aku juga kangen." Jovanka pun melompat dari tempat tidurnya kemudian merasakan semangat lagi untuk ke kampus. Zarina tersenyum dengan tingkah putrinya. Ia pun meninggalkan kamar itu untuk menyiapkan sarapan bagi semua anggota keluarga di rumah itu.
Lain halnya dengan yang terjadi di Rumah Radith Aditya. Sejak ketiadaan Jovanka di rumah itu. Ruby selalu rewel dan manja setiap pagi. Ia harus dibujuk dan bahkan diiming-imingi banyak hal agar ia mau bangun dan bersiap ke sekolah.
"Luby gak mau mandi eyang. Maunya mandi sama Mama Jo huaaaa," rengek gadis kecil itu disertai tangisan. Rania hanya menarik nafas panjang. Ia sudah cukup bersabar dengan tingkah cucunya itu yang sepertinya semakin manja saja.
"Ruby sayang, Mama Jo itu gak bisa lagi ke sini. Dia kan punya rumah sendiri. Jadi sekarang kamu harus bisa mandi sendiri."
"Gak mau ke sekolah. Maunya sama Mama Jo, huaaaaa."
"Ya udah, gak usah ke sekolah dulu. Eyang juga mau istirahat aja. Kamu bikin eyang pusing." Rania pun meninggalkan kamar cucunya itu untuk menenangkan dirinya. Sungguh ia sudah sangat kesal tapi berusaha untuk bersabar menghadapi Ruby.
"Ruby kok belum siap Ma?" Radith Aditya yang melihatnya keluar dari kamar Ruby sendirian langsung menjemputnya dengan pertanyaan.
"Ah Mama pusing. Ruby gak mau ke sekolah kalau gak ada Mama Jo." Rania menjawab dengan menirukan kata-kata cucunya itu. Radith Aditya juga ikutan pusing dibuatnya.
"Ya gak apa-apa Ma. Biarkan aja begitu. Nanti juga lupa sendiri." Pria itu tampak sudah pasrah. Ia juga tidak tahu harus bicara apa. Sedangkan Jovanka sendiri tak ada rasa kangen sama sekali pada dirinya maupun pada putrinya.
"Aku berangkat ya Ma." Pria itu pun mencium punggung tangan sang Mama kemudian berangkat ke kampus. Sekali lagi ia patah hati untuk yang kedua kalinya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π