Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 33 Makin Kesal


__ADS_3

"Pak, Kok balik lagi? katanya kan mau itu?" Zain bertemu dengan Radith di depan pintu pagar rumah itu. Pria muda itu pikir dosennya akan melanjutkan acara pernikahan ini. Ia sendiri lupa kalau sekarang ini sudah sangat larut. Mana ada orang menikah ditengah malam seperti ini.


"Kamu jagain sepupu kamu itu ya Zain. Jangan sampai kabur-kaburan lagi. Kasihan penghulunya dan Aku hehehe," kekeh Radith untuk mengobati rasa kecewanya.


"Iya Pak Siap! Jovanka akan Aku ikat supaya tidak kemana-mana dan gak bikin semua orang repot."


"Baiklah Zain. Aku pulang ya." Radith Aditya pun pergi meninggalkan Rumah itu dengan perasaan campur aduk. Kecewa sudah pasti. Tapi apapun itu ia berharap bahwa yang terjadi ada hikmahnya bagi dirinya dan juga bagi keluarga Jovanka.


Zain pun memasuki Rumah Om dan Tantenya dengan kepala pusing. Baru kali ini ia menemukan kisah cinta seperti ini dalam hidupnya.


Di dalam kamar, Jovanka mengintip kepergian Radith Aditya dari balik tirai jendela. Ia sebenarnya sangat tak rela jika berjauhan dengan pria yang sangat berbeda jauh usia dengannya itu.


Akan tetapi hatinya masih belum bisa dibujuk untuk menerima pria itu jika perempuan yang bernama Feli masih saja berada di sana. Ia sungguh sangat cemburu.


"Jo, kamu darimana saja tadi sayang?" Zarina yang melihat putrinya mengintip kepergian Radith itu bertanya pada sang putri. Ia tahu betul bagaimana perasaan putrinya itu. Ia pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.


"Aku main ke tempat kostnya Cici dan Naomi bund." Jovanka meniggalkan jendela itu setelah melihat mobil Radith Aditya sudah pergi dari jalanan.


"Kok gitu sih, padahal kamu sendiri yang nelpon bunda kalau mau dinikahi sama Pak dosen."


"Gak suka aja sama Mama aslinya Ruby. Dia tuh mau ngambil hatinya Ruby bunda." Zarina tersenyum kemudian menghampiri sang putri.


"Tapi kan hatinya pak dosen udah jadi milik kamu sayang, Hem."


"Ih bunda gak ngerti. Mamanya Ruby itu cantik dan juga seorang dokter. Lah Aku kuliah aja baru semester 2. Mana bisa bersaing. Aku gak punya kelebihan apa-apa bunda."


"Hey, jangan begitu dong. Tahu kenapa Pak Radith sangat menyukaimu?" Zarina memandang wajah putrinya dengan tatapan sayang. Jovanka menggeleng.


"Karena kamu tulus mencinta Ruby. Kamu punya sifat keibuan. Dan tentunya kamu juga sangat cantik."


"Ih bunda. Kalau muji jangan ketinggian. Pak Radith itu gak pernah bilang seperti itu ke Aku." wajah Jovanka tiba terasa menghangat. Ia yakin saat ini pipinya pasti sudah berubah warna.


"Sekarang kamu tidur. Dan pastikan untuk berdoa pada Tuhan. Semoga kamu diberi ketetapan hati untuk menentukan pilihan. Kamu lanjut atau tidak. Begitu?!"


"Iya bunda. Makasih banyak udah ngertiin perasaan Aku." Jovanka langsung memeluk ibunya dengan perasaan bahagia.


"Nah, sekarang kamu istirahat. Dan ingat sholat kalau belum?"


"Iya bunda," ucap Jovanka kemudian melepaskan pelukannya pada sang ibu. Zarina pun keluar dari kamar itu dengan senyum dibibirnya. Ia senang karena putrinya selalu terbuka padanya dalam hal apa saja.


"Yah, kok Pak dosen pulangnya cepat banget?" tanyanya pada suaminya yang sedang menonton sebuah berita di televisi.

__ADS_1


"Lah untuk apa dia tinggal kalau Jovanka kelihatan sedih begitu. Belum nikah aja putriku sudah dibuat menangis." Geram Haikal Baron dengan wajah yang sangat kesal.


"Ayah, kok gitu sih?"


"Jovanka itu masih sangat muda bunda. Gak rela aku kalau sudah harus menikah secepat itu. Biarkan ia menikmati masa mudanya."


"Ayah. Dengan menikah ia lebih bisa menikmati masa-masa jatuh cintanya. Kita tidak perlu khawatir akan pergaulannya. Suaminya yang akan menjaganya."


"Tapi dengan terlalu cepat terlibat dengan permasalahan yang cukup pelik pada keluarga Radit Aditya, aku tidak mau. Jovanka bisa-bisa lebih tua daripada usianya."


"Ayah. Tadi kamu setuju kenapa sekarang jadi begini?" Zarina nampak mulai kesal dengan pemikiran suaminya yang tiba-tiba berubah.


"Pokoknya kalau perempuan itu masih ada di dalam kehidupan Radith Aditya, Aku tak akan pernah merestui mereka. Titik!" Haikal Baron langsung mematikan televisi di hadapannya. Pria itu pun langsung naik ke ranjangnya.


Zarina tersenyum. Ia tahu kalau suaminya kesal seperti itu karena terlalu menyayangi putrinya dan tidak mau ada hal yang buruk terjadi padanya.


"Ayah,"


"Hem."


"Marah ya?"


"Hemm."


🌺


Sementara itu, Radith Aditya kembali ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Ruby. Tekadnya untuk membuktikan kesungguhannya pada Jovanka harus terus kuat.


Ia pun membuka pintu kamar perawatan putrinya itu dengan berusaha untuk tersenyum meskipun tidak membawa Jovanka bersamanya.


"Papa, mana Mama Jo?" Ruby menyambutnya dengan pertanyaan yang sangat ia takutkan. Ia pun menghampiri putrinya itu dengan senyum diwajahnya. Sekali lagi ia mengabaikan Felicia yang juga ada di sana.


"Mama Jo, lagi capek banget dan mau Bobok. Jadi kamu bobok juga dong."


"Maunya Mama Jo ada disini Pa."


"Insyaallah besok Mama Jo datang kesini. Kamu bobok aja sayang."


"Iya deh Pa, Luby juga udah sembuh gak panas lagi."


"Alhamdulillah. Papa senang banget dengarnya. Nah kalau gitu bobok dong."

__ADS_1


"Iyaa Pa, tapi mau ngomong dulu sama mama Jo. Boleh gak Pa?"


Radith Aditya menarik nafas panjang. Ia tidak tahu apakah Jovanka akan menerima panggilannya jika ia menelpon.


"Pa, bental aja. Boleh ya?" mohon Ruby dengan wajah memelasnya. Radith Aditya pun meraih handphonenya dari dalam saku celananya. Ia pun menelpon gadis itu tapi selalu ditolak. Akhirnya ia mengirim sebuah pesan singkat.


Jo, Ruby ingin sekali melihatmu. Bentar aja. Cuma ucapan selamat malam atau selamat tidur.


Cukup lama ia menunggu balasan dari gadis kesayangannya itu tetapi ternyata tak kunjung datang. Ia pun menatap Ruby dengan perasaan sedih.


"Ruby sayang, sama Mama Feli ya, Mama punya banyak dongeng sebelum bobok." Felicia segera menghampiri dua orang yang sedang saling memandang itu.


"Mama kan Mama aslinya Ruby sayang," ujar Felicia lagi seraya mengelus kepala gadis kecil itu. Ruby hanya tersenyum dan tidak menolak perempuan itu.


Drrrt


Drrrt


Radith Aditya memandangi handphonenya. Ternyata sebuah panggilan video dari Jovanka. Dengan sangat gembira ia langsung menerimanya dan mengarahkannya pada Ruby.


"Hai Ru ...by," suara bahagia Jovanka dari ujung sana langsung tersendat karena gambar yang ada dihadapannya adalah Felicia yang sedang mengelus kepala gadis kecil itu.


"Mama Jo haiii," panggil Ruby dengan wajah cerianya. Jovanka berusaha tersenyum dengan melambaikan tangannya.


"Ruby sayang. Mama Feli akan bawa Ruby jalan-jalan ke Luar negeri. Kita akan pergi bersama Papa bermain salju dan ice skating." Felicia sengaja memperlihatkan keakrabannya dengan Ruby didepan kamera itu.


Tuuut


"Mama Jo, kok hilang?" Ruby bertanya karena gambar Jovanka tiba-tiba sudah menghilang dari dalam handphone Papanya.


"Mama Jo, capek mungkin. Udah ya sayang. kita bobok." Felicia memberikan handphone itu kembali pada Radith Aditya dengan senyum licik diwajahnya.


Terimakasih banyak sayangku, sekarang Ruby pasti bisa tidur nyenyak. love you 😘


Pria itu mengirim pesan kepada Jovanka dengan hati yang menghangat bahagia. Akan tetapi tidak dengan gadis yang sedang menerima pesan itu.


"Ih kesal!" Jovanka melempar handphonenya sendiri ke atas ranjangnya dengan sangat marah.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2