Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 28 Mama Dokter


__ADS_3

Jovanka tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana hidupnya ke depan nantinya. Menikahi dosen yang terkenal keren dan tampan di kampus adalah hal yang sangat diluar ekspektasinya. Menyentuh bibirnya ia merasakan kembali rasa kecupan dari bibir Radith Aditya.


Tubuhnya ia peluk sendiri dengan tangannya. Entah kenapa ia sekarang ikut-ikutan mesum. Semua yang dilakukan Radith Aditya beberapa menit yang lalu masih sangat terasa di tubuhnya. Remasan tangan besarnya, kecupannya,. ciumannya. Rasanya ia benar-benar tak sabar untuk diperlakukan lebih dari itu.


Aku sangat mencintaimu Pak Radith, ujarnya dalam hati. Aaaaaa, perlahan ia menyentuh dadanya yang rasanya ingin meledak karena terlalu bahagia. Sebentar lagi Pria itu akan datang bersama dengan kedua orangtuanya untuk menikahinya di tempat ini di depan Ruby tersayang.


Jovanka memandang kembali jam tangannya. Sungguh ia sangat tidak sabar sekarang. Rasanya menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Waktu terasa sangat lama. Akhirnya ia memakan cemilan yang dibelikan oleh pria itu beberapa saat yang lalu.


Menit demi menit berlalu. Ruby juga tidak terbangun sedangkan dirinya sudah menghabiskan beberapa bungkus Snack dan juga minuman.


"Ya Allah, apa yang mereka lakukan di Rumah, sampai lama sekali?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ingin ia menelpon bundanya takutnya menganggu karena pastinya semua orang sangat sibuk dengan proses lamaran yang sangat kilat ini.


"Ayah, semoga kamu tidak menolak lamaran Pak Radith ya, kalau kamu menolak, maka Aku tidak akan memanggilmu ayah lagi, tapi Daddy hihihihi." Jovanka cekikikan sendiri dengan ancamannya. Soalnya Ayahnya itu paling anti dipanggil Daddy entah pengalaman buruk apa yang pernah dialami oleh pria itu hingga tidak mau mendengar kata Daddy di dalam rumah mereka.


Tok


Tok


Jovanka tersentak dari lamunannya karena suara ketukan di pintu kamar itu. Ia pun berdiri dari duduknya dan memperbaiki dandanannya. Takutnya yang datang adalah semua anggota keluarga yang akan menikahkan mereka berdua.


"Maaf, benar ini kamar Ruby Aditya?" tanya seorang seorang perawat yang ditemani oleh seorang dokter perempuan. Mereka berdiri dihadapan Jovanka dengan senyum diwajahnya. Gadis itu langsung membuka pintu lebar-lebar seraya tersenyum.


"Ya betul sekali. Silahkan masuk dok." Jovanka mempersilakan kedua orang itu masuk ke dalam kamar seraya mengikutinya dari belakang.


Tumben, ada dokter dan perawat sopan seperti itu, biasanya kan kalau mereka mau memeriksa pasien langsung saja masuk kamar tanpa permisi, ujarnya membatin.


Jovanka memandang sang dokter yang tidak melakukan apa-apa pada Ruby. Ia hanya memandang gadis kecil itu dengan ekspresi tak terbaca. Kemudian dimenit berikutnya ia menyusut airmatanya dan menghambur memeluk pasien kecil yang masih terlelap itu.


"Maaf dokter, kasihan kalau tidurnya diganggu" tegurnya dengan sopan. Ia sangat tidak rela kalau ada orang bahkan dokter sekalipun yang mengganggu istirahat pasien pribadinya itu.


"Ruby putri saya jadi kamu tidak usah melarang-larang saya. Lagipula saya ini dokter. Saya tahu mana yang baik dan tidak untuk saya lakukan!"

__ADS_1


Deg


Jovanka merasakan tubuhnya membeku. Ia serasa baru saja mendapatkan sebuah berita yang sangat menyakitkan telinganya.


"Putri? Anda mamanya Ruby?"Jovanka akhirnya berhasil mengeluarkan kalimat pertanyaan itu dengan susah payah.


"Yah, kamu betul sekali. Saya dokter Felicia, yang telah mengandung dan melahirkannya." Dokter perempuan yang bernama Felicia itu menatap Jovanka dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.


"Kamu siapa?"


"Mama, haus," Ruby ternyata terbangun dan sekarang meminta minum. Jovanka segera mengambilkan botol minuman gadis kecil itu yang sudah ia beri sedotan panjang agar Ruby gampang meminumnya.


"Yap, hati-hati ya sayang. Bismillahillahmanillahim." Jovanka membantu mengangkat kepala Ruby dan meminumkannya air putih itu.


Felicia menatap interaksi kedua orang itu dengan hati sakit karena cemburu. Ia sampai mengepalkan tangannya disisi kiri dan kanan tubuhnya.


"Sudah? Atau masih mau?" tanya Jovanka dengan sangat lembut.


"Sudah Ma," jawab Ruby kemudian mendorong botol itu menjauh dari wajahnya.


Dokter Perempuan itu merasa semua pertanyaannya sendiri sudah terjawab. Jadi, Radith Aditya sudah menikah lagi? gadis muda dan cantik ini sudah dipilih oleh pria itu sebagai penggantinya.


Felicia tersentak kaget karena tiba-tiba tangannya diraih oleh Ruby. Gadis kecil itu tersenyum padanya.


"Doktel. Luby udah sembuh kata mama Jo. jadi udah boleh pulang?"


"Oh iya sayang. Kalau Ruby udah sembuh bisa pulang ke rumah dan bobok enak di kamar sendiri." Felicia menjawab seraya mencium pipi gadis kecil itu. Entah kenapa Jovanka merasa tak rela melihat dokter itu mengakrabkan dirinya pada gadis kesayangannya itu.


"Doktel, Luby sakit apa sih? kenapa sampai masuk sini dan disuntik?"


"Ruby sebenarnya gak sakit. Cuma mau ketemu Mama aja, betul 'kan? Ruby rindu sama Mama yang sudah menyimpan Ruby di dalam perutnya Mama." Felicia menjelaskan dengan wajah senang. Jovanka jadi merasa kalah tetapi ia tetap berusaha menarik perhatian gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ruby rindu sama Mama Jo, iyya 'kan? Ayo ngaku?"


Ruby memandang dua orang perempuan di hadapannya bergantian lalu tersenyum.


"Iya, Luby Lindu sama Mama. Yang mau nemenin Luby bobok dan main lama-lama." Dua perempuan itu langsung merasa tertohok. Jawaban Ruby sama-sama mengenai sudut hati mereka yang lain.


"Ruby, ini Mama kamu yang asli sayang, Mama yang mengusahakan kelahiranmu." Felicia mencium kembali pipi kiri dan kanan putrinya itu dengan penuh perasaan. Saat ini ia merasa sangat menyesal karena telah meninggalkan putrinya sendiri dan pergi mengejar karirnya.


"Mama?"


"Iya sayang. Sekarang Mama akan kembali pada Papa dan kita akan tinggal bersama lagi."


"Mama? benalkah?"


"Iya. Mama udah pulang dan akan main lama-lama sama Ruby. Maafkan Mama ya?"


"Mama?"


Deg


Jovanka memundurkan langkahnya ke belakang. Ia merasa kalau kehadirannya di sana adalah sebuah kesalahan. Ruby tidak lagi membutuhkannya.


"Kenapa mama balu datang? Luby udah lama mau Mama," terdengar pertanyaan gadis kecil itu ditelinganya sebelum ia meninggalkan kamar perawatan itu.


Jovanka menyusut airmatanya kemudian benar-benar meninggalkan kamar perawatan itu. Hatinya sangat hancur saat ini. Rasanya kebahagiaannya yang baru saja akan dimulai kini tak bisa lagi ia raih.


"Taksi!"


Gadis itu naik di kendaraan yang sedang berhenti dihadapannya itu dengan tangis pecah. Ia tidak tahu kemana tujuannya saat ini. Yang jelasnya ia tidak mungkin pulang ke rumahnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


__ADS_2