Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 80 Hikmah Dibalik Sesuatu


__ADS_3

Beberapa tamu dan keluarga langsung berlari ke dalam gedung pernikahan dengan wajah yang sangat panik. Mereka kasak kusuk bercerita kalau ada kecelakaan tak jauh dari tempat itu. Dan korbannya adalah rombongan kendaraan pengantar pengantin pria.


Hanya berjarak puluhan meter dari gedung pernikahan itu dengan kecelakaan yang terjadi hingga berita itu cepat sampai ke telinga mereka.


"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Cici' pada Zain yang juga sedang memasang telinga dari kasak-kusuk yang sedang terdengar.


"Katanya ada kecelakaan. Tunggu disini. Akan saya tanyakan apa yang terjadi." Pria itu meninggalkan kekasihnya dan segera mencari informasi yang lebih jelas dan akurat.


"Astaghfirullah, kok bisa terjadi. Trus bagaimana keadaan pengantinnya?" Ibu Mini merasakan dadanya sesak. Ia menatap wajah-wajah pembawa berita itu dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Kami belum mendengar informasi lagi Bu. Tapi mari kita berdoa semoga mereka semua baik-baik saja," jawab seorang pria yang langsung pergi dari tempat itu. Zain yang mendengar berita itu langsung berlari keluar dari gedung pernikahan itu untuk segera menuju ke TKP. Sedangkan Mini Geraldine sang calon pengantin sudah jatuh tak sadarkan diri. Ia cukup terguncang dengan berita yang telah ia dengar.


Semua orang panik. Beberapa dari mereka mengerumuni calon mempelai yang tiba-tiba sakit dan beberapa yang lainnya menuju ketempat kejadian perkara.


🌺


"Aaargh ya Allah!" Semua penumpang dalam mobil itu berteriak tertahan saat kendaraan yang mereka gunakan ikut terserempet kendaraan yang bertabrakan dihadapannya. Mobil itu ikut terseret ke arah pembatas jalanan dan untungnya tidak sampai terbalik.


"Awwww!" Zion mengeluh karena kepalanya baru saja terantuk dashboard mobil dengan sangat keras. Sakit ia rasakan seperti penumpang di belakangnya. Tubuh mereka sempat terhuyung ke depan dengan dan membentur jok mobil.


"Yon, kamu gak apa-apa?" Ferry yang mengendarai mobil itu bertanya dengan perasaan yang sangat khawatir. Adiknya yang merupakan calon pengantin itu sedang mengelus kepalanya yang pastinya terasa sakit.


Zion Sakti menatap sang Kakak lalu tersenyum meringis.


"Gimana gak apa-apa, kalau dahi langsung memerah begini." Zion menjawab seraya melihat tampilan dahinya dari kaca spion yang ada dihadapannya. Ferry tersenyum senang. Ia pun mengecek keadaan semua penumpangnya yang ada di belakang.


"Bagaimana semuanya? Semua baik-baik saja?"


"Ah iya. Alhamdulillah. Semuanya baik Fer. Lanjutkan saja perjalanan kita. Kita pasti sudah ditunggu oleh keluarga mempelai."


"Okey, siap kalau begitu." Ferry pun menghidupkan kembali mesin mobilnya dan langsung melanjutkan perjalanannya yang tersisa puluhan meter.

__ADS_1


Pria itu tidak ingin turun dari kendaraannya untuk memeriksa kerusakan yang mungkin terjadi pada mobil nya. Yang ia inginkan sekarang adalah mereka segera sampai untuk melakukan satu kebaikan yang insyaallah diridhoi oleh Allah SWT.


Mereka pun melewati satu mobil korban lakalantas yang sangat parah. Kendaraan yang cukup dikenal oleh Zion itu ringsek dan sangat hancur. Pengemudinya dievakusi keluar dari sana dengan susah payah.


"Innalilahi. Itu kan Pak Randy Jaya," ujar Zion dengan wajah meringis.


"Kamu kenal dengan korban lakalantas itu Yon?" tanya Ferry dengan tatapan lurus pada jalanan di hadapannya.


"Tentu saja Bang. Orang itu pernah berseteru denganku waktu itu."


"Oh, gitu ya?" tanya Ferry dengan dahi mengernyit. Ia jadi curiga kalau adiknya itu pelan-pelan sudah mengingat sesuatu.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan gedung pernikahan yang sangat ramai itu. Mereka turun dari mobil dengan sambutan yang sangat bahagia dari keluarga pihak mempelai pengantin perempuan.


"Alhamdulillah. Kalian tidak apa-apa?" Ibu Mini langsung menyambut pengantin pria dan memeluknya di depan pintu gedung pernikahan.


"Alhamdulillah. Tidak Bu. Kami sehat." Zion menjawab dengan wajah yang bahagia. Calon mertuanya itu langsung melepaskan pelukannya dan meminta semua rombongan pengantar pengantin untuk masuk ke dalam tempat acara.


"Bagaimana dengan pengantin perempuan, apa sudah siuman dan bisa diminta duduk berdampingan dengan calon suaminya?" Penghulu itu bertanya pada beberapa anggota keluarga karena acara inti akan segera dimulai.


Terdengar lagi kasak-kusuk disekitar tempat itu. Ada yang memasuki sebuah ruangan ganti di dalam gedung itu untuk mencari calon pengantin perempuan yang dimaksud.


Beberapa menit kemudian Mini pun dibawa keluar dan duduk disamping Zion Sakti. Riasannya yang sempat kacau kini sudah bagus kembali. Zion tak berhenti menatapnya dengan tatapan yang sangat bahagia.


"Bagaimana kedua mempelai apa sudah siap?" tanya Pak penghulu pada kedua pengantin dihadapannya.


"Keduanya ridho karena Allah ya, dan ingat harus sadar se sadar-sadarnya karena ini adalah sebuah ibadah yang sangat sakral dan merupakan sunnah baginda Rasulullah Muhammad Saw."


"Siap Pak. Saya siap menikah dengan Mini Geraldine binti Abdul Qadir." Zion menjawab dengan lantang dan langsung membuat Mini meliriknya dengan perasaan aneh.


"Baiklah kita mulai, ucapkan istighfar dan sholawat atas nabi. Dan ikuti apa yang saya katakan."

__ADS_1


"Insyaallah siap Pak!" Rossy dan Ferry saling berpandangan. Mereka berdua tidak menyangka kalau Zion begitu bersemangat dalam pernikahan ini tidak seperti beberapa hari ini.


Apa mungkin ia???


"Sah!"


"Sah!"


Keduanya tersentak dari pikiran-pikirannya setelah mendengar saksi mengucapkan kata Sah!. Menit berikutnya, semua orang yang hadir mengaminkan doa yang dibacakan oleh penghulu itu dengan khusyuk. Itu artinya, Zion sudah resmi dan sah menjadi suami dari Mini Geraldine.


Para keluarga dan tamu undangan dengan hati yang sangat bahagia, mengucapkan selamat atas pernikahan yang diberkahi itu. Banyak diantara mereka cukup terharu dan mengambil hikmah dari kejadian hari ini.


Jika Allah menghendaki kalau mereka berdua berjodoh, maka rintangan apapun akan gampang dihadapi agar niat baik itu tercapai.


Radit Aditya dan Jovanka datang terlambat untuk memberikan mereka ucapan selamat. Kemacetan di jalan raya akibat dari kecelakaan lalu lintas di luar sana rupanya membuat pasangan itu harus mencari jalanan alternatif untuk sampai ke tempat itu.


"Selamat ya," ucap Radith Aditya pada Zion yang pernah menjadi rivalnya dulu untuk mendapatkan Jovanka.


"Terimakasih banyak Pak Doktor." Zion menjawab dengan senyum lebar diwajahnya. Sedangkan Mini hanya diam saja. Ia masih sangat khawatir dengan pria yang telah menikahinya itu.


Tak sedikitpun Zion menyapanya atau mengucapkan satu katapun padanya.


Apa mungkin pria ini hanya berakting bahagia di depan umum padahal sebenarnya ia tidak ingin menikahiku?


Ih kesal!


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2