
Felicia tersenyum senang setelah menyadari kalau gadis yang dipanggil Mama oleh Ruby sudah tidak berada lagi di dalam kamar perawatan itu. Ia lalu menarik sebuah kursi dan mendudukkan tubuhnya di samping ranjang putri kecilnya.
"Nona Ruby mirip sekali dengan anda dokter," ujar sang perawat kepada dokter Felicia, seorang dokter spesialis bedah yang baru bertugas di Rumah sakit itu. Felicia yang sedang memperbaiki letak selimut putrinya itu kembali menolehkan kepalanya kepada perawat itu.
"Tentu saja Shin, Ruby kan putriku yang pernah Aku kandung selama hampir 9 bulan." Felicia menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia sungguh sangat senang saat ini. Kesalahannya yang dulu akan ia perbaiki.
Ia yakin Radith Aditya yang selama ini mencintainya pasti masih memiliki perasaan yang sama padanya. Ia akan menjadikan Ruby sebagai alasannya untuk kembali.
"Mama Feli, Mama Jo mana?" tanya Ruby seraya membangunkan tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari gadis cantik yang sangat dekat dengannya itu belakangan ini.
"Sudah pulang sayang, kan udah ada Mama Feli disini jadi kamu tidak perlu lagi cari Mama lain," jawab Felicia seraya mengusap tangan Ruby dengan penuh perasaan. Ia berharap sekali gadis kecilnya itu tidak lagi mencari sosok Mama selain dirinya. Dan juga tentu saja gadis yang bernama Jo itu tidak muncul lagi di hadapan mereka.
"Tapi Luby sangat sayang sama Mama Jo. Luby senang kalau Mama Jo ada disini juga."
"Kamu gak usah tanya-tanya Mama itu lagi ya sayang. Mamamu sekarang adalah Mama Feli. Tidak ada yang lain!" Felicia menegaskan dengan tatapan yang berubah sangat tajam. Ia sampai tidak sadar kalau jarinya mencubit lengan gadis cilik itu. Wajah Ruby langsung meringis sakit dan takut. Menit berikutnya ia pun menangis.
"Luby mau Mama Jo, huaaa. Gak mau Mama Feli huaaaaa."
"Mama Feli Jahat!"
"Mama Feli cubit Luby huaaa."
"Diam Ruby!" bentak perempuan itu dengan suara yang agak keras.
Ruby langsung terdiam. Ia terlalu kaget mendengar suara keras seperti itu. Ia pun menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia menangis sesenggukan di dalam selimut itu.
Rasa takut muncul dari dalam hatinya. Ia tidak pernah dibentak oleh siapapun meskipun ia merajuk sekalipun.
Shinta yang menyaksikan kejadian itu merasa tidak nyaman sendiri. Ia lalu berpamitan untuk keluar dari sana karena tidak tega melihat pasien kecil itu dibentak.
"Maaf dokter Feli. Saya ada keperluan sedikit diluar."
__ADS_1
"Ah, iya Shin. Kamu bawakan saya minuman dingin ya, gerah banget dengan anak yang manja dan suka merajuk seperti ini." Felicia mendengus kemudian berjalan ke arah sofa di dalam kamar itu.
"Baik dokter." Shinta pun melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ia membukanya bersamaan dengan seseorang yang juga mendorong pintu itu dari luar.
"Permisi pak," ujar Shinta meminta jalan. Radith Aditya yang datang bersama dengan rombongan keluarga langsung memberikan jalan padanya.
Felicia yang mendengar suara ribut-ribut di depan pintu langsung berdiri dari duduknya dan melihat apa yang terjadi.
"Felicia?" Rania langsung menghampiri mantan menantunya itu sedangkan Radith Aditya hanya melihat sekilas kemudian mengabaikannya. Tujuannya saat ini adalah menghampiri ranjang tempat Ruby bersembunyi dibawah selimut.
"Mama, apa kabar?' Felicia memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan mantan mertuanya itu.
"Kamu sejak kapan ada disini?"
"Sejak tadi Ma, Aku sudah bertemu dengan Ruby dan ia sangat senang karena Mamanya ada disini bersamanya." Dokter perempuan itu pun menghampiri ranjang tempat Ruby dan Radith Aditya berada dan mengabaikan tatapan tanya semua orang. Ya, Zarina, Haikal Baron, dan seorang penghulu ada disana.
"Ruby sayang, ini Papa, kok nangis sih?" Radith Aditya berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh gadis kecil itu.
"Luby mau Mama Jo, huaaaaa." Ruby berteriak dari dalam selimutnya disertai suara tangisan histeris.
"Ruby sayang, kan ada Mama Feli disini. Gak usah cari Mama yang lain ya," bujuk Felicia seraya ikut menarik selimut yang menutupi putri kecilnya. Tapi Ruby bertahan. Ia menarik juga selimut itu dengan tangan kecilnya.
"Gak mau, pokoknya mau sama Mama Jo, huaaaaa." Kamar perawatan itu semakin ramai saja dengan tangisan dan kasak-kusuk mencari calon pengantin perempuan.
"Dimana Jovanka Bu Rania?" Zarina yang sejak tadi menyimak dan memperhatikan apa yang terjadi dihadapannya tiba-tiba merasa sangat khawatir. Putrinya yang akan menikah kini tidak ada di dalam kamar itu.
Rania tidak menjawab karena ia juga tidak tahu apa telah terjadi setelah ia meninggalkan tempat itu. Sedangkan Radith Aditya langsung menatap mantan istrinya itu dengan tatapan tajam.
"Dimana Jovanka, Fel?!"
"Kamu tanya Aku mas? Mana kutahu siapa itu Jovanka. Aku kesini itu saat Ruby sedang sendiri." Felicia menjawab dengan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak menyapaku dan hanya menanyakan orang lain. Kamu berubah Mas!" Radith Aditya tidak meladeni perkataan perempuan yang sangat ia benci itu.
"Pak Haikal, Pak penghulu, silahkan duduk dulu. Mama, Bu Zarina, tolong jaga Ruby. Saya akan mencari dimana Jovanka berada." Radith Aditya langsung berlari keluar dari kamar itu dan mencoba menghubungi calon istrinya.
"Jo, please, angkat telponnya sayang." Pria itu terus
memohon agar Jovanka mengangkat sambungan teleponnya. Ia panik. Handphone gadis itu tersambung tetapi tidak diangkat.
Radith Aditya meraup wajahnya kasar karena kesal dan juga marah pada keadaan.
"Jovanka tolong, jangan siksa Aku seperti ini," bisik pria itu dengan suara pelan dengan handphone masih terus menempel di kupingnya. Sungguh ia begitu khawatir dengan ketiadaan gadis itu disini.
Sementara itu di dalam kamar perawatan Ruby, Zarina meminta suaminya untuk mencari putri sulungnya itu. Ia sangat tahu kalau Jovanka masih sangat muda dan emosinya masih sangat labil.
"Ayah, kita cari Jovanka sekarang juga. Ini sungguh tidak baik."
"Ayo, kita cari Jovanka sekarang." Haikal Baron menyetujui keinginan istrinya.
Pria paruh baya itu juga sangat khawatir pada putrinya. Dan ia sangat yakin kalau masalah ini pasti terjadi karena seorang perempuan yang mengaku sebagai Mama Ruby.
"Mari pak penghulu. Kita balik saja dulu. Calon pengantin perempuan sepertinya belum siap menikah."
"Ah iya pak Haikal. Semoga saja semua dimudahkan oleh Allah."
"Amin."
Mereka pun berpamitan pada Rania yang tentunya akan menjaga Ruby sang pasien sekaligus cucu kesayangannya. Sedangkan Felicia hanya tersenyum meringis. Semua orang mengabaikannya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π