
Ruby akhirnya tertidur pulas setelah Felicia menceritakan pengalamannya ketika gadis kecil itu berada di dalam kandungannya. Felicia tersenyum senang karena Ruby sangat antusias bertanya ini dan itu. Ia yakin sekali kalau besok pagi yang akan dicarinya adalah dirinya dan bukannya Mama Jo nya itu.
Setelah memeriksa kalau cairan infus putrinya itu mengalir dengan baik. Ia pun memperbaiki letak selimut dan posisi tidur gadis kecil itu. Kegiatannya itu rupanya diperhatikan sedari tadi oleh Radith Aditya. Dalam hati pria itu bertanya-tanya apa sebenarnya maunya perempuan ini datang lagi ke dalam kehidupannya.
Felicia melangkah ke arah sofa panjang tempat Rania beristirahat. Ia memandang mantan Ibu mertuanya itu dengan penuh perhatian. Ia pun berucap, "Mama pulang aja ke Rumah. Biar Aku sama Mas Radith yang menjaga Ruby di sini."
Rania hanya diam.
Ia sebenarnya ingin pulang karena tidak mungkin tidur di atas sofa itu semalaman. Akan tetapi ia juga tidak mungkin meninggalkan Ruby dengan perempuan jahat dan tak punya perasaan itu.
"Iya Ma, betul kata Fely. Mama bisa ikutan sakit kalau nginap disini," ujar Radith Aditya menyetujui perkataan perempuan yang pernah hidup dengannya itu.
Rania menatap putranya dengan tatapan tanya. Ia curiga kalau anaknya itu akan menerima kembali perempuan yang pernah membuatnya sakit hati dan sangat terpuruk.
"Ma, Kang Udin masih ada di depan. Ia juga sudah lelah dan butuh istirahat. Jadi Mama pulang ya," lanjut Radith Aditya seraya mengajak ibunya untuk berdiri.
"Iya Ma, Usia Mama udah gak bisa lagi dipaksa untuk menginap di Rumah Sakit. Jadi Mama ikuti aja apa kata Mas Radith." Felicia ikut membantu membawakan tas perempuan tua Itu. Felicia tersenyum senang karena ia akan mempunyai waktu khusus berdua dengan suamimya.
"Kamu juga pulang Fely. Biar Aku yang jaga Ruby disini." Perkataan Radith Aditya langsung membuat hati perempuan itu mencelos.
"Aku akan tinggal disini Mas. Ruby adalah putriku." Felicia menatap pria dihadapannya dengan tangan meraih tangan Radith Aditya. Akan tetapi tangannya langsung ditepis keras.
"Baru sadar kamu kalau kamu mempunyai seorang putri hah?!"
__ADS_1
"Kemana saja kamu selama ini saat kulit Ruby saja masih merah!" Radith Aditya bertanya dengan rahang mengeras. Hatinya sangat emosi saat ini.
"Kamu perempuan yang tidak punya perasaan. Jadi sekarang kamu keluar dari kamar ini!" Pria itu mendorong tubuh Felicia keluar dengan paksa. Akan tetapi dokter perempuan itu bertahan tidak ingin pergi.
"Mas, hentikan! Kamu kasar sekali!" Felicia menatap tajam pria dihadapannya dengan wajah yang mulai tak nyaman dipandang.
"Aku adalah ibunya Ruby dan selamanya akan seperti itu. Aku yang mengandungnya. Aku yang melahirkannya."
"Dan kamu yang meninggalkannya, Iyya?" Radit Aditya melanjutkan perkataan Felicia dengan bibir mencibir.
"Aku punya alasan Mas," ujar Felicia membela dirinya.
"Cih! Tak ada alasan bagi seorang ibu meninggalkan darah dagingnya sendiri yang hampir mati meregang nyawa." Suara Radith Aditya tercekat di tenggorokan. Saat lni ia rasanya ingin memukul seseorang jika mengingat bagaimana kondisi Ruby saat itu. Saat dimana ibu kandungnya sendiri meninggalkannya diusianya yang baru 1 bulan.
"Aku mengejar karir Mas. Dan lihat diriku sekarang. Aku jadi dokter ahli dan bahkan menjadi seorang wakil direktur di Rumah Sakit ini."
"Mas, Aku bisa melaporkan kamu ya, karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan pada seorang dokter di Rumah Sakit ini!"
"Laporkan saja sana! Supaya semua orang tahu siapa kamu sebenarnya."
"Mas!" Felicia berteriak keras karena tubuhnya sudah berada di depan pintu kamar itu.
Bugh
__ADS_1
Radith Aditya menutup pintu itu dengan keras. Ia pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena baru sadar kalau Ruby ada di dalam kamar itu. Untungnya gadis kecil itu tidak terbangun.
Pria itu pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lelah baru ia rasakan sekarang.
Seharian berada di Kampus kemudian mendengar kabar buruk tentang Ruby dan dilanjutkan dengan pencarian Jovanka membuat seluruh tubuhnya butuh istirahat.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 tengah malam. Ia pun menguap. Untungnya ia sudah melaksanakan sholat isya sebelum mendapatkan Jovanka di tempat kost sahabatnya. Dan Zain adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini.
Pria itu menatap putrinya yang sedang pulas dengan tatapan sayang. Ia meminta maaf dalam hati karena tidak akan mengizinkan lagi Felicia untuk datang menemui gadis kecilnya itu.
"Kamu adalah milikku Ruby. Tak akan kubiarkan Mamamu datang mengambil mu dan merusak kebahagiaan kita sayang," ujarnya pelan seraya mencium pipi kiri dan kanan gadis cilik itu.
"Keluarga kita akan lengkap sayang. Karena akan ada Mama Jo yang akan menemani mu setiap saat," lanjutnya dengan senyuman diwajahnya. Setelah itu Ia pun segera mengambil selimut yang tadi dibawa oleh Ibunya.
Ia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan harapan besok pagi, semua urusannya berjalan dengan lancar dan mudah.
"Jo, harusnya malam ini kamu sudah menjadi istriku sayang," ucapnya pelan kemudian memeluk dirinya sendiri. Nama Tuhan pun segera ia sebut dan akhirnya ia pun jatuh tertidur.
Di tempat lain. Felicia merasakan hatinya sangat sakit. Ia berjanji akan menjadikan Ruby sebagai batu loncatan untuk mendapatkan hati Radith Aditya kembali.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey ?
Nikmati alurnya dan happy reading π