Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 57 Traktiran Jovanka


__ADS_3

"Hey, kok pada diam? Lagi ngomongin cowok ya?" Boby menarik sebuah kursi di samping Naomi dan mendudukinya.


"Eh iya. Kami lagi ngomongin cowok hehehe," kekeh Cici yang langsung mendapatkan tatapan dari ke enam pasang mata disekitarnya.


"Kami lagi ngomongin Pak Randy, dia kan emang cowok."


"Cici!" Ketiga perempuan itu langsung berteriak bersamaan.


"Oh, ada yang naksir sama Om Aku ya? Kalau Aku bilang jangan deh. Dia itu udah punya banyak koleksi cewek."


"Hah?" Empat perempuan itu terlongo tak percaya dengan respon yang diberikan oleh seorang Boby Dirgantara.


"Jadi kamu sudah tahu juga tentang kebiasaan dosen itu Bob?" Naomi memandang pacarnya itu dengan tatapan tak percaya.


"Ya iyalah. Siapa sih yang tidak kenal dosen cassanova itu. Seluruh keluarga juga sudah tahu. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena Om Randy gak pernah mau merespon dengan baik jika diberi nasehat."


"Lalu? Kalau itu sudah merugikan banyak cewek, menurut kamu gimana Bob?" tanya Naomi dengan hati-hati. Boby Dirgantara terdiam. Yang lain pun ikut terdiam menunggu jawaban dari ketua tingkat sekaligus merupakan keluarga terdekat dari seorang Randy Jaya.


"Ya, harus dapat ganjaran sih. Tuhan pasti memberikan balasan suatu saat nanti." Boby menjawab dengan tarikan nafas berat.


"Kalau salah satu dari kami ini menjadi korbannya, gimana Bob?"


"Hah?" Boby menatap semua perempuan cantik itu satu persatu. Ia sedang mencoba menebak siapa kira-kira diantara teman kelasnya ini yang menjadi korban dari dosen sekaligus om nya itu.


"Jadi ada diantara kalian? Nom, apakah kamu sayang?" pandangan mata pria itu berhenti pada Naomi sang kekasih.


"Bukan Aku Bob. Itu kan seandainya. Nah kalau kami ingin melaporkan kebejatan Om kamu itu, boleh gak?" tanya Mini dengan tatapan serius pada Boby.


"Ya harus. Setiap perbuatan kan memang harus mendapatkan ganjarannya. Silahkan saja. Aku dukung kok."


"Alhamdulillah," ujar keempat perempuan cantik itu dengan nafas lega. Boby hanya tersenyum meringis. Mungkin karena ia punya hubungan keluarga dengan dosen itu hingga ia masih merasakan keraguan. Maklumlah nama baik keluarga pun akan terbawa-bawa jika itu terjadi.


"Semua beres. Yuk kita ke Kantin sambil menunggu mata kuliah selanjutnya." Naomi berdiri dari duduknya kemudian membuka hijabnya.


"Heh, kok dibuka? Kamu udah cantik kok tadi pakai itu." Boby Dirgantara menegur dengan tatapan lurus ke arah kekasihnya itu.


"Hah beneran Aku cantik?" tanya Naomi dengan balas menatap sang ketua tingkat.

__ADS_1


"Ya iyalah. Aku bilang kamu cantik Nom, gak usah dilepas." Boby menjawab dengan senyum diwajahnya.


"Cantik sih cantik. Tapi kan pakaian Aku gak serasi banget nih, masak pakai hijab dengan rok seperti ini sih? Gak nyambung banget tahu gak?"


"Hahahaha ini semua karena teknik marketing dari si penjual hijab nih. Semua harus pakai tadi tanpa melihat kecocokan pakaiannya." Cici tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Naomi.


Ia sendiri juga baru melihat kalau pakaiannya juga tidak sesuai karena rok yang ia gunakan adalah rok tiga per empat dengan blouse berlengan dengan ukuran yang sama. Hanya Jovanka dan Mini saja yang paling cocok dan serasi dengan hijab pasmina itu.


"Ya deh. Kalau mau pakai hijab harus bersiap lahir dan batin ya guys. Kita harus memperbaiki niat dulu. Serius tidaknya jangan cuma ikut-ikutan nanti malah gak kuat dan lepas ditengah Jalan." Mini menjelaskan seraya membuka kembali hijabnya.


"Iya Bu ustadzah, kami paham." Ketiga perempuan itu langsung menyahut bersamaan dengan tawa mereka.


"Tapi yang Aku heran nih, kok tiba-tiba jadi penjual hijab tapi gak pakai hijab? Teknik marketingnya bisa hancur itu." Jovanka ikut berkomentar karena ia sudah bersiap membayar hijab-hijab yang dijual oleh Mini tadi.


"Iya juga sih, tapi gak harus juga penjual itu pakai apa yang dijual. Kayak tuh penjual rokok, mereka tuh biasanya gak merokok tapi menjual rokok," timpal Cici dengan wajah serius.


"Eh iya, hijab ini tuh, jualan teman kost Aku. Dia 'kan ketua kamar gitu. Nah, aturannya siapa yang mendapatkan kabar baik seperti akan menikah atau akan wisuda dan lain-lain, maka kita harus membantunya menjual."


"Hem, benar-benar pelaku ekonomi yang sangat cerdik." Jovanka menjawab seraya membayar harga hijab itu dengan senyum diwajahnya.


"Ini terlalu banyak Jo," ujar Mini dengan tatapan tak percaya dengan beberapa lembar uang bergambar presiden pertama itu.


"Horeee, asyik nih punya Bu Nyonya dosen. Dompetnya tebal." Yang lain berkomentar dengan sangat senang.


"Ayok kita serbu kantin!" Suara-suara ribut pun kembali terdengar. Begitulah kehebohan anak-anak mahasiswa jika berhubungan dengan yang gratisan.


Satu kelas yang berisi sekitar 25 orang itu berbondong-bondong ke kantin. Diantara mereka adalah rata-rata dari kalangan keluarga mampu tetapi demi kebersamaan dan kehebohan di kelas, mereka pun ikut meramaikan.


Jovanka yang sudah duduk manis di dalam kantin menunggu pesanan minumannya tersenyum samar. Ia baru mengirimkan fotonya yang berhijab kepada Radith Aditya sang suami.


Tring


Dengan cepat ia membuka balasan pesan yang masuk itu dengan dada berdebar. Entah kenapa setiap mengingat suaminya ia merasa jatuh cinta lagi dan lagi.


Kamu cantik sekali sayang, pakai itu saja setiap hari. Tapi kalau di dalam kamar bersamaku, kamu tidak perlu menggunakan apapun.


Jovanka merasakan sesuatu dari dalam dirinya berkedut hanya karena kata-kata seperti itu dari suaminya. Ia pun membalasnya lagi dengan kalimat singkat.

__ADS_1


Mas, ish... malu.


Tring


Ngapain malu, udah aku lihat dan cicipi semuanya kok sayang.


Jovanka merasakan wajahnya menghangat. Suaminya benar-benar selalu bisa membuatnya jadi perempuan haus belaian. Ia jadi ingin bertemu dengan Radit Aditya.


Udah Ah Mas. Aku lagi di Kantin nih. Dah my love😍😚


Tring


Aku kangen kamu Jo, kamu bisa gak ke parkiran sayang.


Ya Allah Mas, ini masih ada mata kuliah sebentar lagi. Aku juga belum minum nih.


Tring


Ya udah, selesai belajar, temui aku di Parkiran ya, Aku ingin bawa kamu ke hotel terdekat. Lagi on ini sayang. Gak kuat nahannya.


Ya Allah Mas🀭😲😚


Tangan Jovanka terasa gemetar membalas pesan-pesan bernada mesum dari suaminya itu. Ia jadi merasa sangat gelisah dibuatnya. Dengan cepat ia menyimpan handphonenya ke dalam tasnya. Otaknya sudah mulai bertraveling ke nirwana.


"Hap!" Mini memukul lengannya pelan untuk mengangetkan nya.


"Ya Allah, Min. Kamu mengagetkan aku." Jovanka tersentak kaget dengan suara Mini yang tiba-tiba itu.


"Kamu lagi mikirin apa. sampai kaget begitu?"


"A-aku gak kok," gagap Jovanka.


"Hey, jangan-jangan kamu..."


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2