Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 74 Kemarahan Radith Aditya


__ADS_3

"Bisa kita bicara di tempat lain Jo?" pinta Felicia dengan wajah memohon. Jovanka tersenyum. Ia setuju. Mereka berdua pun menuju ke taman di depan kelas.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Jovanka setelah mereka berdua sudah duduk dengan nyaman di atas sebuah ayunan di taman itu.


"Apakah aku bisa meminta tolong sesuatu padamu Jo?"


"Minta tolong apa mbak?"


"Besok Aku dan Daren akan menikah. Dan aku berharap sekali Ruby bisa menginap denganku malam ini. Boleh ya?" Felicia menatap Jovanka seraya meraih tangan perempuan itu. Ia menggenggamnya seolah-olah mereka selama ini sangat akrab.


Jovanka tidak menjawab, ia tidak berani mengambil keputusan sepihak jika bukan atas persetujuan suaminya.


"Kenapa Mbak Feli tidak meminta langsung sama Mas Radith?"


"Aku takut Jo, Mas Radith pasti tidak memberikan izinnya kalau aku yang meminta. Kamu tahu 'kan peristiwa sebelum ini?"


"Ah iya sih mbak."


"Nah, justru itu, Aku meminta ini padamu. Aku tahu Mas Radith sangat menyayangimu, ia pasti mendengarkan kata-katamu."


"Duh, gimana ya Mbak?" Jovanka berpikir keras seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Felicia. Ia juga tidak tahu harus berkata apa.


Dan bagaimana dengan Ruby? Apakah putrinya itu mau ikut bersama dengan Mama kandungnya? Sedangkan anak itu sudah sangat trauma pada Felicia.


"Jo, tolonglah. Aku sangat rindu pada Ruby. Bujuk anak itu untuk ikut bersama denganku, malam ini saja ya."


"Maaf Mbak. Aku tidak bisa."


"Jo, kamu itu manusia atau bukan sih? Kamu tidak bisa mengerti perasaan seorang perempuan lain. Aku ini ibunya Ruby, aku juga ingin dekat dengannya!"


"Bujuk atau paksa Ruby untuk ikut denganku! Kamu sudah mendapatkan Mas Radith jadi kamu jangan rakus!" Felicia berkata dengan tatapan tajam pada Jovanka.


Perempuan cantik itu tersentak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kata-kata kasar seperti itu dari Felicia.


"Aku mengerti perasaan kamu mbak Feli. Tapi ini tentang kenyamanan Ruby. Aku tidak mungkin memaksakan kehendak pada putriku kalau ia tidak suka."


"Heh, kamu ngomong apa? Tidak sopan sekali caramu bicara padaku!"


"Lalu Aku harus mengatakan apa sama kamu Mbak? Harusnya kamu mengerti bagaimana perasaan putrimu sendiri. Ia tidak bahagia bersama denganmu! Jadi saatnya instrospeksi diri."


"Ya ampun, kamu belagu ya. Kamu terlalu merasa di atas angin. Kamu mau menggurui aku ya?!"

__ADS_1


"Bukan begitu maksud Aku Mbak Fel. Ah sudahlah. Maaf, Aku harus kembali ke kelasnya Ruby. Nanti dia nyariin." Jovanka pun berniat turun dari ayunan itu tetapi tangannya tetap ditahan oleh Felicia.


"Mbak, Kumohon, biarkan Aku pergi."


"Gak akan kalau kamu tidak menolongku." Felicia tetap memaksa. Ia benar-benar mengingkari Ruby saat ini juga.


"Hum, baiklah. Kita tanya sama anak itu, kalau ia mau, maka mbak boleh membawanya." Jovanka mengalah. Ia akan bertanya pada Ruby tentang keinginan Felicia. Tangannya pun dilepaskan oleh dokter perempuan yang aneh itu.


Jovanka sampai di depan kelas bersamaan dengan Ruby selesai latihan. Gadis kecil itu langsung berlari ke arahnya dengan sangat gembira.


"Mama dalimana? Tadi Luby gak liat Mama nonton."


"Mama lagi di luar sayang. Maaf ya. Mama habis ketemu sama Mama Feli." Jovanka menjawab seraya mengelus lembut kepala sang putri.


"Oh, Mama Feli ya?" Ruby tampak berpikir.


"Kenapa sayang? Kamu mau ketemu sama Mama Feli?"


"Tidak."


"Gak mau nginap sama Mama Feli?" Ruby menggeleng.


"Besok, katanya Mama Feli mau menikah sama Om Daren. Mau lihat gak?" Ruby tampak berpikir. Ia suka sekali dengan yang namanya acara pernikahan. Di dalam benaknya akan ada banyak anak kecil seusianya yang akan ia temani main bersama.


Felicia yang memperhatikan percakapan dua orang itu langsung tersenyum. Ia yakin Jovanka akan berhasil membujuk Ruby untuk pergi bersamanya.


"Gimana?" Jovanka bertanya lagi seraya memandang wajah gadis kecil itu.


"Gak Ma, Luby gak mau." Ruby akhirnya memutuskan untuk tidak pergi. Jovanka hanya bisa tersenyum meringis. Ia sudah berusaha tapi anak itu tetap tidak mau.


"Kita pulang aja ya Ma?" Ruby menarik tangan Jovanka untuk pulang. Anak itu bisa melihat kalau Mama Feli melihatnya dari jauh. Dan ia juga bisa melihat bagaimana tatapan sedih dari perempuan itu.


"Ah iya baiklah. Kita pamit sama Miss Susi dulu ya sayang." ucap Jovanka menyetujui permintaan sang putri. Ia pun segera menarik tangan Ruby menuju gurunya yang sedang duduk di depan sebuah kipas angin besar. Nampak sekali kalau gadis itu sedang kegerahan setelah melatih anak didiknya.


"Makasih banyak ya Miss, udah sabar banget melatih anak-anak."


"Ah iya Bu. Sama-sama. Ruby anak yang baik. Enak ngelatihnya. Cepat tanggap." Susi tersenyum seraya berdiri dari duduknya.


"Kalau begitu kami permisi ya Miss, udah sore nih."


"Iya Bu hati-hati. Dah Ruby!" Susi berucap seraya melambaikan tangannya pada Ruby dan juga Mamanya. Ia pun kembali duduk kembali pada posisinya untuk mendapatkan angin segar.

__ADS_1


Sementara itu, Jovanka yang sejak tadi memang ditunggu oleh Kang Udin di depan sekolah, langsung saja menuju mobil sopir pribadi keluarganya.


"Ruby sayang, ikut mama Feli ya," pinta Felicia dengan wajah memohon. Ia menampilkan wajah sedihnya di depan anak berusia hampir lima tahun itu. Ruby terpengaruh, ia memandang wajah itu dengan perasaan yang ikut sedih.


Darah memang lebih kental daripada air, begitu kata pepatah. Hubungan emosional antara ibu dan anak itu kini terpaut lagi. Ruby memeluk tubuh Felicia kemudian menyetujui permintaan perempuan itu.


"Baiklah Mama, Luby akan ikut mama Feli. Tapi satu hali saja.ya, Mama sama Papa halus jemput Luby lagi." ujar gadis kecil baik hati itu dengan senyum lebar di wajahnya.


Jovanka tersenyum. Hatinya sangat gembira. Ia adalah seorang perempuan yang mungkin akan mempunyai anak suatu saat nanti. Ia berharap dengan kebaikannya ini bisa membuat hubungan anak dan ibu kandungnya itu lebih baik lagi kedepannya.


"Dadah Mama Jo. Ingat! Besok jemput Luby ya," ujar Ruby mengingatkan. Jovanka mengangguk. Ia segera mencium pucuk kepala gadis kecil itu dan menunggu sampai mereka berdua pergi dari hadapannya.


"Baiklah Kang, kita juga pulang ya." Jovanka pun naik ke atas mobil dan segera pergi meninggalkan sekolah itu. Tak berapa lama, mereka pun tiba di Rumah, tempat ia tinggal bersama dengan suami dan ini mertuanya.


Langkahnya terhenti ketika mendapati Radith Aditya berdiri di depan pintu rumah dengan tatapan tajam.


"Darimana kamu Jo? Aku sampai gak konsentrasi kerja karena kamu gak ada dimana-mana. Rumah di Flamboyan aku hubungi katanya kamu juga gak ada disana?"


"Maaf Mas, Aku habis ngantar Ruby ke sekolahnya untuk latihan."


"Trus, Ruby kemana Jo? Kok gak ada bersama kamu?!"


"Ruby diminta sama Mbak Felicia Mas. Maaf, Aku tidak meminta izin dulu padamu. Aku lupa bawa handphone sih tadi."


"Apa? Kamu berikan lagi Ruby pada perempuan itu? Ia bisa memberinya pengaruh buruk! Kenapa kamu tidak menanyakan hal ini padaku Jo?!" Radith Aditya tampak sangat kesal.


"Cuma satu hari Mas. Biarkan saja. Kasihan Mbak Feli. Ia juga rindu pada putrinya.


"Aku tahu bagaimana sifat Felicia Jo. Ia egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Jadi harusnya kamu itu minta izin padaku. Sekarang Aku akan menjemputnya. Kamu mau saja ditipu oleh perempuan itu!"


"Mas, gak usah kesana!"


"Aku tetap akan kesana. Kupikir kamu itu sudah cukup dewasa menilai siapa Felicia. Tetapi ternyata tidak sama sekali! Bagaimana kalau Ruby mengalami hal yang sama seperti waktu itu."


Jovanka tiba-tiba merasa kembali kesal. Tadinya ia sudah melupakan kejengkelannya pada pria yang telah menikahinya itu tetapi sekarang perasaannya terasa sedang dikoyak-koyak.


"Kamu menyebalkan Mas!" Jovanka langsung berlari ke kamarnya untuk menangis. Hatinya begitu sangat sensitif akhir-akhir ini.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2