Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 63 Efek Obat Perangsang


__ADS_3

"Ada apa Min?" tanya Zion dengan wajah yang mulai nampak khawatir. Tatapan mata sayu gadis itu sungguh membuat sesuatu dari dalam dirinya berkedut. Apalagi tangan Mini sudah mulai mengelus lengannya dengan sangat pelan dan lembut.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Zion mulai merinding. Bulu kuduknya meremang sempurna. Ia yakin Mini pasti sedang dibawah pengaruh obat perangsang.


"Kak, Aku gerah banget," ucap gadis itu dengan suara yang sangat rendah bagaikan sebuah erangan lembut. Gadis itu mulai membuka kancing bajunya satu-satu. Ia mulai merasa sangat gelisah. Ada rasa panas dari dalam tubuhnya yang begitu menyiksa.


"Min, jangan dibuka sayang. Aku takut tidak akan kuat," larang pria itu dengan berusaha menahan tangan kekasihnya yang sedang membuka kancing terakhir dari pakaian yang sedang dipakainya.


Mini benar-benar merasa kegerahan. Ia tidak peduli dengan perkataan pria itu. Menit berikutnya, ia sudah membuka semuanya. Yang tersisa hanya underwear saja. Zion merasakan tubuhnya bergetar. Si unyuk mulai memberontak ingin dilepaskan dari sarangnya.


"Kak, panas banget," ujar Mini seraya menatap wajah Zion dengan wajah yang sangat gelisah. Bibirnya ia gigit dengan sangat sensual sedangkan tangannya mulai meraba daerah sensitifnya untuk meredakan hasrat yang semakin membakar tubuhnya.


Zion menghampiri gadis kesayangannya itu dan mulai membantunya. Ia sangat tahu kalau Mini saat ini sangat tersiksa. Ia pun mulai meraup bibir gadis itu dan mengulummnya dengan sangat lembut.


Tangannya tak lupa menekan tengkuk Mini agar tautan bibir mereka semakin tak terpisahkan. Mereka saling melepaskan hasrat yang sudah tak terbendung. Mini semakin agresif, ia lupa diri. Pengaruh obat perangsang itu benar-benar membuatnya tak sadar kalau ia sudah melupakan harga dirinya.


Ia mulai membuka semua kain yang menutupi dirinya sendiri hingga membuat Zion terpana. Si unyuk yang sejak tadi memberontak di dalam boksernya kini semakin menjadi-jadi. Ia bahkan membuat pria itu ikut tersiksa karena semakin merasakan sesak dibawah sana.


Zion mengerang frustrasi. Ia tahu kalau Mini dan dirinya sekarang butuh pelepasan. Tapi kalau ia membantu gadis itu maka apa bedanya ia dengan si brengsek Randy Jaya.


"Mini, sayangku. Aku akan menikahimu. Aku berjanji kalau akulah orang pertama yang akan membuka segelmu, tapi itu setelah kita menikah Mini." Zion langsung membawa gadis yang sudah berada di puncak hasrat itu ke dalam kamar mandi. Ia mengguyur tubuh gadis itu dibawah shower agar kesadarannya kembali.


Mini berteriak dengan suara yang sangat memilukan. Ia terus memohon dan merayu kekasihnya untuk membantunya melepaskan gairah yang sangat menyiksa itu tapi Zion berusaha untuk tidak peduli. Ia mengunci gadis itu didalam kamar mandi sampai beberapa lama.


Sedangkan dirinya langsung membuka celananya untuk membebaskan si unyuk yang sedang marah dan memberontak.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa ia mengunakan tangannya untuk membuat si unyuk muntah-muntah dan tidak marah lagi.


Dengan membayangkan tubuh Mini yang begitu indah dan sangat menggoda ia dengan cepat melakukan pelepasan juga di depan kamar mandi. Suara dessahan dan rintihan Mini didalam sana membuatnya terasa terbang ke langit ketujuh.


"Aaaargh, Mini, ya ampun kamu indah sekali sayang," racaunya dengan erangan yang sangat nikmat saat pelepasan itu datang.


Pria itu benar-benar dibuat melanglang buana hanya dengan membayangkan tubuh Mini berada dalam kuasanya.


"Brengsek kamu Randy dosen mesum, untungnya aku cepat datang, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan kalau kamu berani memerawani calon istriku," geram pria itu dengan emosi tertahan. Setelah itu ia meraih beberapa lembar tissue untuk membersihkan hasil muntahan si unyuk.


Tak menunggu lama, meskipun ia merasa sangat lemas, Ia pun kembali memakai pakaiannya dan mengintip apa yang dilakukan calon istrinya di dalam kamar mandi.


"Min, cepat berpakaian, kita akan melaporkan masalah ini kepada Rektor dan juga dekan Fakultas." Zion Sakti segera membantu Mini untuk keluar dari kamar mandi.


"Kak, Plis," mohonnya dengan wajah yang sangat tersiksa. Dadanya yang tampak terbuka secara keseluruhan itu naik turun menahan gelombang gairah yang sangat besar. Zion sampai berpikir berapa dosis yang diberikan oleh pria itu pada Mini.


"Mini, kamu berpakaian dulu ya? Kita harus menyelesaikan masalah ini secepatnya." Randy segera meraih pakaian dalamm gadis itu dan membantu memakaikannya tapi rupanya gadis itu masih merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia menolak berpakaian kalau Zion tidak mengobati dirinya meskipun itu hanya belaian singkat saja.


"Baiklah, sayang. Tapi kumohon ini hanya sedikit saja atau kita benar-benar akan memakai ranjang ini untuk berbulan madu yang belum waktunya." Pria itu langsung meraih milik Mini dengan bibir dan juga tangannya.


Gadis itu merasakan sensasi yang sangat luar biasa yang baru ia rasakan seumur hidupnya. Ia sampai meremas rambut tebal kekasihnya karena tak tahan dengan kenikmatan yang ia rasakan.


Jangan tanya bagaimana perasaan Zion saat ini, ia bagaikan seorang bayi yang sangat haus dan lapar. Akan tetapi ia jadi sadar kalau yang mereka lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Ia pun melepaskan bibirnya dari benda yang sangat indah dan ranum itu.


"Maafkan Aku Min, tapi ini sungguh tidak benar sayang." Zain mengelus lembut wajah cantik calon istrinya dengan rasa yang sangat bersalah.

__ADS_1


"Kenapa Kak? Tolong bantu Aku kak, aku sangat tersiksa dengan ini semua."


"Sabar sayang, aku akan mencari obat agar rasa itu bisa hilang. Atau kita akan minta pada Mama dan Papa agar menikahkan kita malam ini juga." Zion tersenyum kemudian mengambil pakaian Mini yang berserakan di lantai.


Pria itu memakaikan pakaian itu dengan berusaha menahan gejolak hasrat yang kembali menggedor-gedor pertahanannya.


"Kak, Aku sungguh malu padamu." Mini Geraldine menutup wajahnya yang memerah karena mulai sedikit tersadar dari apa yang baru mereka lakukan.


"Ini bukan salah kamu Min, ini salah dosen brengsek itu.," geram pria itu dengan rahang mengeras sempurna.


"Ayo cepat kita keluar dari sini. Dan kita temui pak Rektor." Zion menarik tangan Mini dan segera keluar dari sana.


Mereka berdua dengan langkah cepat menuju ke Ballroom hotel untuk mencari keberadaan Rektor Universitas dan juga dekan fakultas yang mereka yakini pasti berada di tempat itu.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Ada kopi atau bunga kah???


Bagi dong...


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍

__ADS_1


__ADS_2