
Hari pun berganti, masa libur dan cuti setelah pernikahan sudah berakhir. Kedua pasangan itu sudah siap untuk melakukan aktifitas kembali di kampus.
Pagi itu Jovanka sudah duduk manis di depan kaca riasnya. Ia sudah nampak segar dan cantik setelah melakukan ritual mandi bersama dengan suaminya setelah sholat subuh.
Bibirnya tak berhenti tersenyum melihat tampilan dirinya di dalam kaca itu. Ingatan tentang kegiatan mandi beberapa saat yang lalu rasanya masih sangat segar di kepalanya.
Tak sadar ia menutup wajahnya yang terasa menghangat bahagia.
Radith Aditya benar-benar suami yang sangat luar biasa. Pria itu mampu membawanya berkeliling negara antah berantah dengan sangat menyenangkan.
Pria tampan dan perkasa itu seperti tak punya rasa lelah sama sekali. Mereka bisa melakukan kegiatan menyenangkan sampai berjam-jam dalam sehari. Dan sampai sekarang ia tak habis pikir dengan keahlian suaminya itu.
"Jo, kamu kenapa sayang?" Radith Aditya tiba-tiba muncul dari arah belakangnya dan mencium pucuk kepalanya.
Jovanka tersentak. Ia membuka telapak tangannya dan melihat suaminya sedang memandangnya dari dalam kaca dihadapannya.
"Ah, gak kok Mas. Aku sedang bersiap ke kampus," jawabnya seraya meraih spon bedak untuk disapukannya tipis-tipis pada wajahnya.
"Oh, kirain kamu lagi mikirin aku hem," bisik sang suami dengan senyum samar diwajahnya. Pria itu pun mencium tengkuk istrinya dengan penuh perasaan.
"Mas, kita bisa telat, aaaaakh." Jovanka mendessah tertahan saat suaminya mulai menghisap lehernya bagai seorang drakula haus darah.
"Aku masih mau cuti sayang. Belum puas rasanya berdua denganmu." Radit Aditya kembali mendaratkan satu ciuman panjang pada leher putih dan jenjang itu hingga membuat Jovanka meremas ujung blouse yang sedang dipakainya.
"Mas, udah ah. Aku nanti tergoda lagi," bisik Jovanka dengan suara rendah. Saat ini ia sudah siap berangkat begitu pun dengan suaminya yang sudah tampak rapih.
"Iya, itu tadi supaya kamu selalu ingat Aku dan begitupun sebaliknya." Radith Aditya tersenyum kemudian mengelus bekas ciumanmya tadi dengan jari-jarinya.
"Tanpa kamu katakan itu, Aku selalu terbayang-bayang kamu Mas. Kamu hebat banget. Gak minum obat kuat 'kan?"
__ADS_1
Puffft
Radith Aditya tak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Obat kuat? pikiran darimana itu?
"Ih, kok ketawa sih? Aku kan serius Mas. Udah ah. ayok berangkat.Takutnya kita telat." Jovanka langsung berdiri dari duduknya dan segera keluar dari kamar itu. Ia sedang kesal sama suaminya yang menertawakannya padahal ia sedang serius.
Radith Aditya hanya tersenyum samar. Melihat istrinya itu ngambek seperti itu rasanya ia ingin membuatnya berteriak nikmat kembali dibawah kungkungannya. Sayangnya mereka sudah harus kembali beraktivitas.
"Wah, Ruby udah siap juga ya. Maafin Mama sayang," ujar Jovanka seraya menciumi pipi kiri dan kanan putri sambungnya itu. Ia lupa mengurus anak itu pagi ini karena suaminya benar-benar mengurungnya di kamar dengan hal yang sangat ekstrim yang merdeka lakukan.
"Gak apa-apa Ma, Kata eyang, Mama sama Papa gak boleh diganggu jadi Luby mandi sendili dan dipakaikan baju sama eyang."
"Wah, hebat putrinya Mama. Eyang juga hebat banget."Jovanka pun membawa gadis cilik itu kearah pintu untuk menunggu suaminya mengeluarkan mobil dari garasi.
Setelah bersalaman dengan sang ibu mertua. Mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Jovanka duduk di depan mendampingi suaminya sedangkan Ruby duduknya di jok belakang.
"Dadah Ruby!"
"Kamu kok diam saja sih sayang?" tanya Radith Aditya pada Jovanka yang sejak berangkat tak mengucapkan satu kata pun. Ia lebih sibuk berbalas pesan dengan sahabat-sahabatnya di grup Chatnya.
"Jo," panggil sang suami karena Jovanka tidak memperhatikannya.
"Ah iya Mas," jawab Perempuan cantik itu kemudian menyimpan handphonenya ke dalam tasnya.
"Kalau Aku bicara didengarkan dong, gak enak banget lho dicuekin." Sang suami sedang dalam mode sensi juga.
"Habisnya mas ngetawain Aku lho. Kan jadi kesel." Jovanka membuang pandangannya ke arah luar jendela. Ia sedang tidak mood bicara dengan suaminya saat ini.
"Ya ampun Jo, kamu kesel karena itu?" Radith Aditya berucap dengan wajah bingung. Ia pun menghentikan mobilnya di sebuah jalanan sepi. Ia tidak suka kalau istrinya mengabaikannya hanya karena sebuah masalah kecil.
__ADS_1
"Aku itu tidak minum obat kuat sayang, puas?" Jovanka tidak menjawab. Ia masih diam.
"Jo, kamu yang terlalu lezat sampai Aku sendiri tidak bisa mengendalikan diri ketika bersama denganmu. Kamu tahu? Kamu itu juga sangat hebat sayangku hingga bikin Aku tahan lama."
Jovanka masih bungkam. Ia belum mau merespon perkataan suaminya meskipun ia merasakan dadanya terasa ingin meledak karena sangat bahagia.
Suaminya memujinya hebat melayani rasanya membuat ia sangat senang luar biasa. Itu artinya cinta Radith Aditya tak akan berkurang padanya.
"Jo," panggil sang suami dengan wajah memohon. Ia yakin tidak akan konsentrasi bekerja kalau Istrinya yang cantik itu belum juga mau berbicara padanya.
"Jo, Plis."
"Iyaaa Mas, aku udah ngomong nih, kita nanti telat lho." Jovanka menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia pun menyentuh wajah tampan pria itu untuk menunjukkan kalau ia sudah tidak kesal. Radit Aditya tersenyum kemudian mengambil tangan istrinya itu dan menciumnya lembut.
"Aku sangat mencintaimu Jo, jadi jangan bikin aku khawatir ya sayang," ujar pria itu kemudian melajukan mobilnya ke arah kampus. Tak lama kemudian mereka pun sampai. Jovanka turun dari mobil setelah suaminya memberinya satu ciuman panjang dari suaminya.
"Bibirmu manis Jo, kayak Apple gitu," ujar Radit Aditya seraya mengelus bibir itu dengan ibu jarinya. Jovanka tersenyum. Tentu saja manis karena ia memakai lipsglow dengan rasa seperti itu.
"Mas, udah ah. Ini lingkungan kampus lho, takutnya ada yang lihat." Jovanka mendorong tubuh suaminya dan segera turun dari mobil. Dan benar saja, seorang Randy Jaya sedang menyaksikan kemesraan mereka berdua dengan tangan terkepal marah.
Pria itu juga baru turun dari mobilnya dan melihat adegan mesra itu secara live.
"Aku juga sangat penasaran dengan rasa perempuan cantik itu. Bersiap saja kamu Radith, milikmu akan aku miliki juga," ujarnya dengan seringai diwajahnya. Ia pun segera meninggalkan tempat parkir itu karena akan mengajar di kelas Jovanka.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π