Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 44 Insiden Kamar Kost


__ADS_3

"Aku sering melihatmu di sekitar tempat itu. Mama ku yang punya tempat kost itu." Zion menjawab dengan tatapan lurus ke arah jalanan di hadapannya. Jangan ditanya ekspresi Mini Geraldine. Ia sangat kaget dan juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Astaghfirullah. Jadi? Mami Rossy itu mamanya Kakak?"


"Hem iya. Eh kenapa kamu cepat pulang padahal pestanya sahabatmu belum selesai?" tanya Zion mengalihkan pembicaraan.


Sejak tadi ia memperhatikan gadis yang pernah menyatakan suka padanya ini sangat gelisah dan takut. Untuk itu ia mengikutinya keluar dari gedung pernikahan itu.


Mini tiba-tiba merasakan lidahnya keluh. Ia tidak tahu apakah ia harus menceritakan tentang ancaman dosennya itu padanya atau tidak. Sedangkan ia tahu kalau pria disampingnya ini sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengannya.


"Mini?" Zion menyentuh tangan gadis itu dan langsung membuatnya tersentak kaget.


"Eh iya Pak. Jangan!" Mini berteriak histeris secara tiba-tiba.


"Bapak? Kamu kira aku ini bapak-bapak ya?!" Wajah Zion tampak berubah warna.


"Eh tidak Kak. Maafkan Aku. Aku kira Pak Randy, ups." Mini menutup mulutnya karena keceplosan menyebut nama dosen yang kurang akhlak itu.


Ia berusaha menahan rasa takutnya yang tiba-tiba mengingat ancaman pria itu padanya.


"Pak Randy Jaya?" Zion Sakti menatap gadis disampingnya dengan perasaan yang semakin curiga.


"Eh iya, eh tidak Kak. Maaf Aku suka salah ngomong dan ngucapin yang tidak-tidak." Mini menutup mulutnya dan segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Zion semakin curiga saja. Apalagi sudah banyak selentingan cerita tentang petualangan dosen itu dengan banyak mahasiswi cantik di kampus.


Zion yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis cantik disampingnya ini. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak bertanya lagi. Ia akan meminta penjelasan setelah mereka sampai di tempat kost.


"Makasih Kak. Aku udah dianter pulang," ujar Mini dengan tangan bersiap turun dari mobil itu.


"Kamu yakin tidak ingin menceritakan tentang Pak Randy?" Zion mengunci pintu mobil itu karena ingin tahu tentang Pak Randy Jaya.


Pria itu harus mempunyai satu orang atau beberapa bukti agar dosen mesum itu bisa segera mendapatkan hukuman dari perbuatannya selama ini.


"Aku? Pak Randy? Tidak Kak. Maafkan Aku. Aku tidak mau terlibat masalah." Mini Geraldine menggelengkan kepalanya.


"Tolong buka pintunya Kak. Biarkan aku turun. Aku sungguh ingin beristirahat." Gadis itu memohon tapi Zion hanya memandangnya saja.


"Kak,"


"Hem, baiklah kalau kamu tidak mau bicara. Tapi kalau kamu ada masalah dengan dosen itu. Beritahu Aku, okey?" Pria itu pun membuka pintu mobil agar Mini bisa turun.


"Aaawwwww ish!' Mini mendesis kesakitan karena kakinya yang keseleo tadi, ternyata tidak bisa digerakkan karena sangat sakit. Zion langsung turun dan mengitari kendaraan itu untuk menggendong kembali Mini ke dalam kamar kostnya.

__ADS_1


"Kak, gak perlu. Aku bisa jalan sendiri."


"Mana bisa jalan kalau tampak bengkak seperti ini. Sudah kamu diam saja." Zion tidak memperdulikan penolakan gadis itu. Ia terus melangkahkan kakinya ke dalam tempat kost khusus putri itu meskipun Mini menolak karena takut. Tubuh Mini ia gendong ala bridal style.


"Kak, ini tempat kost untuk Putri. Mami pasti akan marah kalau lihat kakak masuk ke kamar aku. Sudah turunkan aku Kak." Mini terus memberontak takut. Peraturan di tempat kost itu sudah sangat jelas. Tak boleh ada laki-laki yang memasuki area kamar.


"Gak apa-apa. Ini kan Rumah aku Min. Lagipula kamu juga gak bisa jalan 'kan? Sekarang tunjukkan yang mana kamarmu!"


"Nomor 5 kak."


"Kuncinya?"


"Ada di sini kak," Mini memperlihatkan tas tangannya kalau kunci itu ada didalam sana.


"Sekarang kamu buka sendiri ya," ujar pria itu saat mereka sudah sampai di depan kamar Mini. Rumah kost itu tampak sangat sepi. Mungkin semua penghuni kamar sedang berada di dalam kamar masing-masing atau bagaimana.


Ceklek.


Pintu pun terbuka. Dan Zion pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar kamar itu dan meletakan gadis itu dengan pelan ke atas ranjangnya.


"Makasih banyak Kak," ucap Mini dengan pipi menghangat. Perasaan bahagia seakan meluap keluar ke wajahnya.


"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati kalau pakai heelsnya. Kasihan kan kakimu jadi bengkak kayak gini." Zion duduk di atas ranjang gadis itu kemudian membuka sepatu yang digunakan oleh Mini.


"Kak jangan."


"Gak apa-apa, Aku akan urut sedikit. Takutnya akan membengkak lebih parah dan kamu tidak bisa berjalan." Tangan Zion segera menyentuh pergelangan kaki gadis itu dan mengurutnya pelan.


Kletak


"Aaaaakh, sakit kak." Mini berteriak tertahan saat merasakan tangan pria itu memutar persendiannya.


"Aaawwwww, sakit Kak."


"Gak apa-apa bentar lagi nyaman kok." Zion mengelus lembut kaki putih dan mulus itu dengan pikiran yang tiba-tiba mulai bercabang. Mini yang meringis dan sedang menutup matanya itu entah kenapa begitu sangat cantik dan menarik dimatanya.


Ternyata gadis ini cantik juga. Ucapnya dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum samar. Ia menyesali dirinya yang terlalu terobsesi pada Jovanka padahal ada gadis cantik yang sudah menyatakan perasaannya padanya.


"Gimana? masih sakit gak?" tanyanya pada Mini yang masih setia menutup matanya.


"Masih Kak. Tapi udah agak baikan." Mini menjawab dengan senyum malu-malu diwajahnya.


"Coba gerakkan. Kalau masih sakit bilang ya." Mini mengangguk dan mulai mengangkat kakinya fam. menggerakkannya pelan.

__ADS_1


"Awwwwww, masih sakit kak." Mini kembali meringis. Sedangkan Zion dengan cepat meraih kembali kaki yang sangat menarik dimatanya itu dan mengurutnya pelan.


"Aaaargh ishhh." Mini kembali mendesis. Dan berhasil membuat seseorang didepan kamarnya itu mengepalkan tangannya marah. Ia yakin sedang terjadi sesuatu yang buruk di dalam kamar kost anak semangnya.


Brakk!


Perempuan cantik berusia 45 tahun itu langsung mendorong pintu kamar Mini dengan emosi diwajahnya.


"Mini!"


"Mami!"


"Mama!"


Ketiga orang itu saling berpandangan dengan ekspresi yang sama-sama kaget.


"Zion?!"


"Mama?!"


"Mami?!'


Kembali ketiga orang itu saling mengucapkan nama masing-masing. Sampai akhirnya Mami Rossy yang langsung menarik kuping putranya dengan keras.


"Apa yang kamu lakukan di sini Yon?' tanyanya dengan tatapan tajam pada posisi kaki telanjang Mini di atas pangkuan putranya.


"Aku cuma membantu Mini Mam," jawab Zion dengan wajah meringis.


"Membantu apa hah?"


"Kamu mempermalukan Mama dengan melanggar peraturan di tempat kost ini!"


"Dan kamu Mini. Kamu sudah tahu aturannya kan?!"


"Mereka harus dinikahkan Mi!" Beberapa suara dari arah pintu kamar kost itu membuat suasana menjadi semakin heboh.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2