
"Kita tunggu Om Daren ya, kamu duduk aja di depan. Mama mau bersiap-siap terlebih dahulu." Felicia berucap setelah mengganti pakaian sekolah Ruby dengan pakaian santai. Ruby menurut. Ia pun duduk di depan televisi menonton serial kartun kesukaannya.
Tak lama kemudian Daren pun datang. Ia langsung masuk ke kamar Felicia layaknya memasuki kamarnya sendiri.
"Hey, Fel kamu sudah siap sayang?" tanya Daren seraya memeluk Felicia dari belakang. Perempuan yang sedang mengatur pakaiannya ke dalam sebuah tas langsung tersenyum.
"Sudah dong. Kita bisa langsung berangkat saja. Ruby juga sudah siap kok."
"Bolehkah Aku mencicipi ini dulu sayangku?' tanya Daren seraya meremass lembut dua aset milik Felicia. Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia melepaskan tangan direktur Rumah Sakit tempatnya bekerja itu.
"Kita bisa terlambat sayang, nanti kalau sudah sampai di puncak kita bisa melakukan apa saja, Okey?" Daren tersenyum. Ia setuju, ia pun membantu membawakan tas itu keluar dari kamar.
"Ruby sayang, ayo kita berangkat." Felicia mematikan televisi dan semua alat-alat listrik di dalam rumahnya dan mengajak gadis kecil itu untuk meninggalkan rumah. Ruby menurut. Ia pun ikut berdiri dan keluar dari rumah itu. Ia tidak tahu kemana mereka akan pergi. Yang jelasnya ia hanya ikut karena takut.
__ADS_1
Akhir pekan ini mereka ingin berlibur sekalian menjalin hubungan dekat dengan Ruby. Mereka berniat menikah sekitar sepekan lagi. Dan mereka berniat mengambil Ruby seutuhnya tanpa ada campur tangan dari Radith Aditya lagi.
Kurang lebih 3 jam berkendara karena kemacetan yang luar biasa disetiap akhir pekan. Mereka pun sampai di sebuah villa.
"Ayo Ruby, sini Papa yang gendong ya," ujar Daren setelah semua perlengkapan mereka sudah turun dari mobil dibantu oleh petugas Villa. Ruby hanya memandang pria itu dengan wajah enggan. Ia tidak suka mendengar pria itu mengakui dirinya sebagai Papa untuknya.
"Ruby, yang sopan sayang," tegur Felicia mengingatkan. Perempuan itu menatap putrinya dengan tatapan tajam seperti biasa. Ruby pun menurut. Ia langsung mendekatkan dirinya pada Daren untuk digendong.
"Nah gitu dong sama Papa," ujar pria itu seraya mendekatkan bibirnya ke pipi Ruby tapi gadis kecil itu menolak. Ia tidak biasa dengan pria baru yang ditemuinya itu. Dan juga pesan Papanya adalah jangan mau disentuh oleh orang asing.
"Ruby memang seperti itu sayang, kamu harus pelan-pelan dengannya," kata Felicia seraya melangkahkan kakinya ke dalam Villa itu. Daren pun mengikutinya dengan Ruby masih di dalam gendongannya.
"Om, Luby bisa jalan sendili. Tulunin Luby sini aja," ucap Ruby dengan suara rendah. Ia benar-benar tidak nyaman dengan pria teman Mamanya itu.
__ADS_1
"Kenapa Ruby? Saya 'kan sebentar lagi jadi Papamu sayang."
"Papa Luby cuma Papa Ladith gak mau yang lain!" Ruby memaksa untuk turun. Ia tidak suka dengan pria itu. Sedangkan Felicia yang melihat penolakan itu langsung menarik tangan putrinya dengan sangat keras. Ia menatap putrinya itu dengan tatapan tajam disertai dengan bentakan.
"Ruby! Kamu bisa punya dua Mama, lalu kenapa tidak bisa punya dua Papa hah?!" Ruby langsung merenggut takut. Matanya berkaca-kaca. Ia kembali ingin menangis, tapi takut pada Mamanya.
"Sudahlah Fel, kamu kalau marah-marah seperti itu tidak cantik lagi dong sayang."
Daren langsung meraih tangan Felicia yang mencengkram tangan putrinya sendiri. Ia membawanya ke dalam kamar untuk memberikannya obat penenang. Sedangkan Ruby langsung berlari ke arah beranda Villa untuk menangis.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π