
Siang itu Ruby berdiri di depan pagar sekolahnya ditemani oleh Miss. Susi. Gadis kecil itu nampak sangat sedih karena sampai pukul 1siang, ia belum juga dijemput oleh Papa maupun Mamanya. Semua guru pun sudah bersiap untuk pulang tak terkecuali guru yang masih muda itu.
"Gimana kalau Miss saja yang antar kamu pulang sayang." Miss. Susi berusaha menwarkan diri lagi. Ruby tampak berpikir karena ia juga sudah lelah dan mengantuk.
"Apa Miss sudah menelpon Papa sama Mama?" tanya Ruby dengan wajah lelahnya.
"Sudah sayang, tapi gak ada yang aktif. Mungkin sedang sibuk belajar atau mengajar. Tapi kalau kamu mau Miss bisa menelpon Mama Feli."
"Gak usah Miss. Bial Luby ikut pulang sama Miss saja." Gadis kecil itu menolak. Ia lebih suka tinggal bersama dengan eyang dan Papanya daripada Mama Feli yang selalu sibuk."
"Baiklah kalo begitu, kita pulang. Pegangan yang benar ya, soalnya Miss belum punya mobil dan bisanya naik motor sayang."
"Hahaha, Luby suka naik motol. Banyak anginnya." Ruby tertawa kemudian mulai naik di boncengan gurunya itu.
"Bismilah," ucap Susi seraya menghidupkan mesin motornya. Tapi baru saja ia berniat melajukannya sebuah mobil yang ia kenal berhenti tepat di depannya dan menghalangi jalannya.
"Ruby?!" Panggil perempuan cantik yang ternyata adalah Felicia, Mama kandung Ruby. Perempuan itu turun dari mobilnya dan segera mendekati dua orang gadis beda usia itu.
"Maaf Miss, saya yang menjemput Ruby, terimakasih banyak ya," ujarnya seraya mengangkat tubuh putrinya dari boncengan Miss Susi.
"Ah iya Bu. Sama-sama."
Felicia pun membawa Ruby naik ke mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Miss Susi hanya melambaikan tangannya pada gadis cilik yang nampak tak bersemangat itu.
"Ruby sayang, kamu kangen gak sama Mama? Mama kangen banget lho sama kamu." Felicia mencium pipi kanan putrinya itu kemudian mulai menjalankan mobilnya.
"Heh, kok diam saja? Gak suka ya kalau Mama jemput?" Ruby masih diam. Sepertinya moodnya berubah buruk karena sudah membayangkan akan naik motor tapi tidak jadi.
"Ruby?!" Felicia mulai membentak dengan keras karena putrinya itu samasekali tidak meresponnya padahal ia sudah sangat gembira dan berniat membawanya menginap di puncak bersama Daren.
"Iya Mama. Maaf," ujar Ruby dengan wajah menunduk.
__ADS_1
"Kamu itu udah besar tapi kok gak bisa senengin Mama sih?!" Felicia menggerutu kesal. Ruby merasa hatinya sakit. Matanya mulai berkaca-kaca dan bersiap menangis.
"Jangan nangis! Mama gak suka kalo lihat anak cengeng." Ruby menarik nafas panjang. Ia berusaha untuk tidak menangis. Tapi ternyata ia tetap tidak bisa menahannya. Tangis itu pecah juga mengisi ruangan mobil sang Mama.
Sementara itu di sebuah kamar hotel tempat Radith Aditya dan Jovanka baru saja saling berbagi kenikmatan, kedua pasangan pengantin baru itu sedang makan siang.
"Mas, kita beneran akan berbulan madu di sini?" tanya Jovanka dengan tatapan lurus ke arah suaminya. Pria itu segera menelan makanannya kemudian menjawab pertanyaan sang istri.
"Iya sayang, Aku sudah menghubungi Mama kalau kita akan menginap disini sampai besok. Badan Pengembangan Kurikulum Universitas menggelar seminar Dosen disini sayang. Jadi daripada aku hanya tidur sendiri disini lebih baik aku ngajak kamu kan, sekaligus berbulan madu."
"Ish, kirain ini spesial untuk aku Mas," balas Jovanka dengan bibir mencebik.
"Eh, gak boleh kayak gitu bibirnya sama suami. Nanti aku cium sampai kewalahan kamu, mau?" Radit Aditya menatap istrinya itu dengan tatapan menggoda.
"Ish," bibir Jovanka kembali mencebik. Perempuan cantik itu memang sengaja membuat suaminya kesal. Akan tetapi pria itu bukannya kesal malah semakin suka melihat istrinya seperti itu.
"Astaghfirullah. Ruby mas. Kira-kira Kang Udin jemput gak ya? Tunggu Mas Aku mau nelpon dulu." Jovanka langsung berdiri dari duduknya untuk mencari handphonenya. Sungguh ia sangat khawatir dengan putri sambungnya itu.
"Felicia datang meminta izin untuk membawanya ke Puncak dan Mama ngizinin." Rania menjawab dari ujung telepon.
"Oh iya Ma. Terimakasih banyak." Jovanka pun menatap suaminya dengan tatapan khawatir.
"Ada apa sayang?" tanya Radith Aditya dengan wajah penasarannya.
"Ruby dijemput oleh Mbak Feli Mas."
"Oh gitu? Ya gak apa-apa. Kita kan juga lagi ada disini." Radit Aditya tersenyum dengan wajah yang sangat santai. Akan tetapi tidak bagi Jovanka, ia sangat khawatir pada putrinya itu.
"Kenapa sayang? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Felicia adalah ibu kandungnya, pasti ia bisa menyayangi putrinya."
"Mas?"
__ADS_1
"Cuma sehari. Besok kita jemput kok. Jadi kamu tenang saja. Sekarang siapkan pakaianku sayang. Seminarnya akan segera dimulai."
"Ah iya Mas." Perempuan cantik itu pun berusaha menepis pikiran buruknya. Ia harus menjadi istri yang baik sekarang.
Radit Aditya akan menjadi pembicara dalam seminar bertaraf Nasional itu. Dengan judul “Paradigma Baru Dalam Proses Pembelajaran” Ia akan didampingi oleh Dr. Sesilia Juwita.
Setelah berpakaian lengkap dengan sangat rapih, pria tampan itu mencium bibir Istrinya agar mendapatkan semangat dan motivasi.
"Do'akan Aku sukses sayang," ucap pria itu dengan ibu jari menyentuh bibir istrinya yang masih nampak basah itu.
"Iya Mas," jawab Jovanka dengan dada berdebar bahagia. Suaminya adalah pria hebat. Jadi ia harus mengimbanginya agar mereka bisa saling melengkapi.
Setelah drama berpamitan itu selesai, Radith Aditya pun meninggalkan kamar itu dengan pesan singkat. "Jangan kemana-mana!"
Jovanka hanya tersenyum dengan kebucinan suaminya. lagipula memangnya ia mau kemana, ia hanya akan bercanda dengan sahabat-sahabatnya lewat aplikasi chatting.
Didalam ballroom hotel tempat acara seminar itu diadakan, semua peserta seminar dari kalangan dosen itu sedang menyimak dengan sangat baik materi yang dibawakan oleh pria tampan itu.
Dalam materi nya Dr. Radit Aditya, MM, mengatakan dosen harus mengikuti perkembangan jaman dalam proses pengajaran. “Mahasiswa sekarang harus diajar dengan dosen yang update mengikuti perkembangan jaman saat ini. Kurikulum yang bagus, dosennya bagus akan meningkatkan kualitas mahasiswa," begitu penjelasan nya di depan puluhan dosen yang hadir.
Ia juga menyebutkan bahwa sebagai seorang tenaga pengajar dalam revolusi mengajar guru atau dosen harus memiliki esensi dari semboyan Ki Hajar Dewantara.
Randy Jaya yang juga berada di dalam ruangan itu sebagai peserta merasa tidak nyaman. Ia tidak betah berada di ruangan itu karena ingin mengunjungi sebuah kamar khusus di dalam hotel itu.
🌺🌺🌺
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1