
Jovanka binti Haikal Baron akhirnya sudah resmi menjadi istri dari Radith Aditya. Di pagi menjelang siang itu, akad nikah berlangsung sakral dan hikmat di sebuah Masjid di komplek antara gang Flamboyan dan juga gang Seruni.
"Jo, kamu sudah jadi istriku sayang," ujar Radith Aditya dengan suara pelan saat ia mencium kening sang istri. Jovanka yang sangat cantik pada kesempatan itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk malu.
Mereka pun saling memasang cincin pernikahan pada jari manis mereka masing-masing. Setelah itu terdengar suara penghulu mendoakan mereka berdua yang diamini oleh semua hadirin.
Tak ada yang tidak mendoakan kedua mempelai agar menjadi pasangan yang sakinah mawadah warahmah. Menjadi dua insan yang saling mencintai dikala duka maupun suka.
Amin
Amin
Amin
Perasaan bahagia tampak diwajah kedua mempelai begitupun dengan para tamu yang hadir. Mereka semua berharap ini adalah pernikahan yang terakhir bagi Radith Aditya dan begitupun bagi Jovanka Baron. Mereka tampak sangat serasi sekali. Ganteng dan cantik meskipun usia mereka bertaut 14 tahun.
Tak ada yang mempermasalahkan usia, yang ada mereka semua bahagia. Karena cinta tak memandang usia maupun status.
Akan tetapi tidak bagi Rania, ia merasa sangat bersedih karena Ruby tidak hadir dihari yang sangat membahagiakan ini. Felicia yang berjanji akan membawanya kini tidak muncul sampai acara pesta pernikahan sudah hampir selesai.
Perempuan paruh baya itu hanya duduk bengong sendiri di sudut ruangan. Hatinya sangat kacau sampai tidak bisa menikmati acara itu sebagai tuan Rumah.
Canda tawa anak-anak dari keluarga kedua belah pihak membuatnya sangat tersiksa dan menginginkan Ruby ada di sana bersama-sama dengan mereka.
Entah kenapa Zain sangat peduli pada perempuan tua yang masih cantik diusianya yang lebih dari seperdua abad itu.
Sepupu Jovanka itu segera menghampiri Rania dengan senyum diwajahnya. Ia juga teringat ibunya yang sering menyendiri jika sedang mempunyai masalah.
"Bu Rania, sehat?" tanyanya berbasa-basi. Ia menarik kursi di depan meja perempuan itu lalu duduk.
"Eh, kamu Zain. Alhamdulillah sehat." Rania menjawab seraya tersenyum.
"Apa perlu saya ambilkan sesuatu Bu? Makanan atau minuman mungkin?" tawar Zain dengan sopan.
"Ah tidak. Andaikan kamu bisa membawa cucuku untuk hadir di tempat ini. Pasti saya akan sangat bahagia." Rania berucap dengan tatapan lurus ke arah anak-anak seumuran Ruby yang sedang bermain dan berlarian di dalam gedung pesta itu. Zain tersenyum. Tebakannya benar. Rupanya orang tua dari dosennya ini sedang rindu pada cucunya.
__ADS_1
"Tunggu di sini Bu. Saya akan menjemput Ruby di rumah Mamanya."
"Benarkah Zain?" Mata tua Rania berbinar bahagia. Ia sangat senang mendengar perkataan pria muda itu.
"Tentu saja Bu. Dalam waktu 5 menit Ruby pasti akan sampai di sini dengan selamat."
"Terimakasih banyak Zain. Semoga urusan kamu lancar dan juga segera mendapatkan jodoh yang baik hati dan cantik seperti Jovanka."
"Aamiin Bu. Tolong ditambah doanya lagi, semoga saya cepat lolos ujian tutup bulan depan. Pak Doktor Radith Aditya, putra Ibu adalah tim pengujinya."
"Wahh, ini maksudnya ada udang dibalik batu ya?" ujar Rania dengan senyum samar diwajahnya.
"Gak Bu. Suer! Ini murni permohonan yang sangat ingin dikabulkan oleh Tuhan," ujar Zain dengan mata ia kedipkan sebelah.
"Ah kamu bisa aja Zain. Semoga Allah mengabulkan semua keinginanmu." Rania tersenyum senang. Rupanya anak muda ini bisa juga menghiburnya.
"Baiklah Bu, saya berangkat." Zain pun pergi dari gedung pesta itu dengan langkah tegap bersemangat. Ia seolah-olah akan pergi ke sebuah tempat yang cukup berbahaya dan butuh seorang teman.
"Eh kak Zain, kenapa tangan aku ditarik-tarik kayak gini sih?' Cici Dewangga yang bertugas sebagai pagar ayu saat itu langsung ditarik paksa keluar dari gedung pernikahan itu.
Ia pun ikut naik membonceng di belakang Zain. Untungnya ia memakai celana panjang ketat di dalam kain roknya, jadi ia dengan mudah naik ke motor itu.
"Pegangan ya Ci' kalau kamu mau bisa peluk juga kok. Aku berjanji cuma 5 menitan sampai lagi disini."
"Hah?!" Cici belum juga mencerna baik perkataan sepupu Jovanka itu, motor sudah melaju dengan sangat kencang.
"Aaaaaah!" Cici berteriak keras dengan tangan langsung memeluk perut rata Zain. Ia begitu kaget sampai ia tidak sadar menyembunyikan kepalanya pada punggung pria yang selama ini sangat ia kagumi. Zain tersenyum dari balik helmnya. Ia juga sudah lama menyukai gadis manis dibelakangnya itu.
Motor sport itu bagaikan terbang. 5 menit untuk jarak jalanan 5 kilometer rasanya bagaikan berada di sirkuit.
Ciiit
"Kita sampai Ci,'" ujar Zain saat mereka benar-benar sampai di depan rumah minimalis mewah milik dokter Felicia. Bahkan portal security di depan komplek pun mereka lewati tanpa pemeriksaan.
"Ya Allah Kak. Kamu harus membagi jantung padaku karena jantungku terasa berhenti berdetak. Ini terlalu luar biasa." Cici membuka helmnya dan menyimpan tangannya di dadanya.
__ADS_1
"Di jantungku sudah lama ada namamu Ci, jadi jangan khawatir, okey?" Zain tersenyum manis seraya memperbaiki tatanan rambut gadis itu yang cukup berantakan karena terkena angin.
"Hah? maksud Kak Zain?" Cici merasakan pipinya menghangat bahagia. Kali ini jantung berdetak lebih keras lagi daripada yang tadi.
"Sudah, kita harus membawa Ruby pergi dari rumah ini. Ayo!" Zain menarik tangan gadis manis itu menuju pintu rumah milik Mama kandungnya Ruby.
Tok
Tok
Baru dua kali ia mengetuk, pintu dihadapannya terbuka. Di depan mereka berdiri Ruby dengan pakaian yang sangat cantik tetapi wajah bersimbah airmata.
"Kakak Zain, huaaaaa," tangis Ruby dengan sangat menyedihkan. Ia langsung memeluk pria itu dengan tangis histeris.
"Ayo sayang, kita pergi." Zain langsung menggendong gadis itu dengan cepat ke arah motornya. Mereka tidak perlu minta izin pada yang punya Rumah. Mereka berdua pun tidak perlu bertanya dimana Mamanya Ruby.
"Kak, jangan cepat-cepat. Ada Ruby bersama dengan kita." ujar Cici mengingatkan. Zain tersenyum. Ia sangat mengerti apa yang dikhawatirkan oleh gadis manis kesayangannya.
"Tentu saja Ci', Aku tadi melajukan motornya kencang itu karena Aku ingin kamu memeluk Aku."
"Ya ampun Kak Zain. Gak boleh ngomong kayak gitu. Gak baik." Mereka berdua langsung sadar oleh teguran Ruby.
"UPS! maaf ya Ruby."
Mereka pun segera pergi dari rumah itu yang ternyata sedang terdapat gempa lokal di dalam kamar pribadi pemilik rumah itu.
"Faster babe Aaaaaakh," Felicia menjerit kecil ketika partnernya sedang melakukan apa yang ia inginkan.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1