
"Jojoba!" seru Naomi dan Cici dengan wajah senangnya. Gadis cantik yang baru turun dari mobil sang Ayah langsung berlari ke arah dua sahabatnya itu. Mereka berpelukan bagaikan tokoh kartun Tingki Wingki, Dipsi, dan Lala.
"Gimana Me Time nya? Udah semangat lagi kan belajar?"
"Udah dong. Aku sudah semangat lagi demi masa depan yang lebih baik!" Jovanka berkata dengan tangan kanan meninju udara.
"Betul betul betul, ganbate!" Naomi ikut mengepalkan tangannya dan meninju udara seperti yang dilakukan oleh Jovanka.
"Hahahaha!" Ketiga gadis itu langsung tertawa bahagia dan berpelukan kembali.
Ya, mereka memang harus bersemangat. Karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang tidak boleh patah semangat hanya karena satu masalah kecil.
"Yuk ah, kita ke kelas. Hari ini Pak Radith Aditya mau masuk kelas kita sebelum kelasnya Bu Rahmah Salam." Naomi berkata seraya menggandeng tangan Jovanka.
Jovanka langsung menghentikan langkahnya dan menatap Naomi. "Kok bisa? Bukannya kemarin ya jadwalnya," tanyanya dengan perasaan yang tiba-tiba tak nyaman. Ia sudah berusaha menghindari pria itu dengan tidak masuk kuliah kemarin. Tapi sekarang bagaimana ini, bingungnya.
"Kamu gak lihat informasinya di akunnya ya Jo? kamu sibuk berdua sama dosen itu ngapain aja sih?" Cici mencolek pinggang Jojoba dengan mata berkedip menggoda.
"Ish. Otakmu Ci. Cuci dong supaya gak mikirin yang kayak gitu."
"Habisnya, kalian berdua bersamaan sih ngilangnya kemarin, jadinya kan Aku sama Naomi membayangkan yang tidak-tidak hehehe." kekeh Cici Dewangga dengan wajah tanpa dosa.
"Kalian sengaja ya godain Aku. Bunda bilang kalian berdua ke rumah. pasti tahu dong kalau aku pergi ke Time Zone sama Jefrey," jelas Jovanka berusaha mengklarifikasi tuduhan teman-temannya itu.
"Iya, iya. Kami kan cuma bercanda. Lagian sih kamu ngilang bak ditelan bumi. Handphone gak aktif juga. Kamu juga pasti gak tahu kan kalau Pak Radith kasih tugas dan harus dikirim sampai jam 12 tadi malam."
"Aduh! Aku kok cuma ngilang 24 jam, tapi udah ketinggalan informasi sampai sebanyak ini ya?" Jovanka memukul dahinya dengan keras karena benar-benar merasa ketinggalan informasi.
"Iya, dan katanya itu pengganti Final testnya. Cuma bikin resume sih."
"Oh tidak. Aku gimana dong, ayo cepetan ke kelas. Aku mau kerja resumenya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 'kan?" Jovanka langsung berlari ke arah kelasnya dan malah meninggalkan Naomi dan juga Cici.
__ADS_1
"Lho, gimana sih tuh orang. Tinggal di rumah Pak Radith Aditya tapi komunikasi gak ada. Jangan-jangan Jojoba hanya jadi pengasuh anak beneran lagi." Cici menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.
"Lho, memangnya kamu pikir dia jadi apa disana? emang jadi pengasuh 'kan?"
"Eh, iya ya, otak aku kok suka belok ya, ups π€," Cici menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena mulai ingin mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.
"Kamu terpengaruh sama perkataan Mini ya Ci'?"
"Maaf maaf, habisnya kan Pak Radith itu duda keren sejagad terus Jojoba itu kamu tahu kan?"
"Udah, udah, kalau pun mereka ada hubungan. Ya gak apa-apa lah toh mereka tidak ada yang punya pasangan. Sama-sama sendiri. Jadi gak masalah menurut Aku." Naomi mengungkapkan semua pemikirannya.
"Tapi kalau mereka bisa resmi dan halal ya, aku dukung banget." tambah gadis itu dengan wajah serius.
Cici mengangguk. Ia juga setuju meskipun dihatinya ada perasaan cemburu karena dosen seperti Radith Aditya itu limited edition. Sudah lama menduda tapi tak pernah terdengar ada affair dengan mahasiswa atau sesama dosen.
"Nah tuh Pak Radith udah hampir sampai. Langkahnya cepat amat ya?" Naomi segera berlari dengan menarik tangan Cici agar bisa mendahului langkah dosen itu sampai di depan kelas.
"Dari mana aja Mi?" tanya Boby Dirgantara sang ketua tingkat saat dua gadis itu sampai di depan pintu dengan nafas ngos-ngosan.
"Iya, dosennya belum sampai tapi kita udah harus ngisi daftar hadir terus ngirim sekarang juga."
"Waduh, ada apa sih sama Pak Radith. Suka bikin pengumuman sekate-kate. Bentar bikin ini bentar begitu. Pasti lagi PMS sensi banget kayaknya." Naomi menggerutu kesal kemudian memasuki ruangan kelas dan mengisi daftar hadir yang dimaksud.
"Iyaa nih, jangan-jangan lagi galau trus kita yang kena getahnya," imbuh Cici ikut kesal dan marah-marah.
"Apa jangan-jangan karena kamu Jo?!" lanjut gadis itu seraya menatap Jovanka yang sedang sibuk bikin resume.
"Kok gara-gara Aku sih? Aku ini manusia biasa Ci, jangan apa-apa dikait-kaitkan sama Aku dong. Aku kan bisa tambah cantik hihihi," Jovanka berucap serius tetapi diakhiri dengan cekikikan.
"Ish, narsis!" Cici dan Naomi langsung mencibir.
__ADS_1
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya." Ruangan kelas yang tadinya rame langsung berubah hening. Radith Aditya ternyata sudah berada di depan mereka semua siap memberikan mata kuliah untuk menggantikan kelas kosong yang kemarin.
"Waalaikumussalam. selamat pagi Pak!" kompak mahasiswa menjawab.
"Daftar hadir segera dikumpulkan dan bagi yang merasa belum mengirimkan tugasnya lewat email tetap tinggal di dalam kelas sedangkan yang lain bisa keluar."
Ruang kelas kembali ramai. Semua orang menarik nafas lega. Artinya tidak ada perkuliahan dan mereka bisa kembali nongkrong-nongkrong santai sambil menunggu dosen berikutnya.
Hanya Jojoba yang merasa bahwa dirinya sengaja dijebak oleh dosen mengesalkan yang sialnya sangat tampan dan memesona itu.
"Jo, hati-hati!" bisik Cici Dewangga sebelum keluar dari kelas itu. Sedangkan Naomi hanya tersenyum samar meniggalkan Jojoba berdua dengan sang dosen.
Ruangan kelas itu kembali hening. Dua orang itu tidak ada yang berbicara. Radith Aditya menatap Jovanka yang sedang sibuk mengerjakan resume nya seolah-olah dirinya tidak ada.
"Selesai!" Jovanka pun berdiri dari duduknya setelah mengirimkan tugas itu lewat email.
"Berhenti kamu Jo!" titah Radith Aditya karena sangat kesal diabaikan oleh gadis itu.
"Aku sudah selesai kirim tugasnya Pak. Jadi untuk apa lagi Aku tinggal di sini."
"Ngapain kamu kemarin dengan Pak Randy Jaya hah? Aku sudah bilang kan kalau kamu milikku?" tanya pria itu dengan rahang mengeras. Rupanya ia sangat terpengaruh dengan kata-kata Randy Jaya yang menceritakan kalau ia bersama dengan gadis itu seharian kemarin.
"Maaf Pak. Aku gak mau teman-teman berpikir macam-macam tentang kita di ruangan ini, permisi." Jovanka segera berlalu dari hadapan dosennya itu tetapi tangannya segera ditarik oleh Radith.
"Aku tunggu kamu di Taman sebentar sore. Kita harus bicara." ujarnya kemudian mendahului Jovanka keluar dari ruangan itu.
Ia menyadari status dan kedudukannya sekarang. Reputasi mereka berdua bisa hancur dengan apa pikiran-pikiran buruk dari orang lain jika mereka tetap berdua di ruangan itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π