Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 24 Ruby Sakit


__ADS_3

Cici dan Naomi saling pandang saat melihat Radith Aditya keluar dari ruangan kelas mereka dengan wajah serius dan nampak marah. Sedangkan Jovanka menyusul di belakangnya dengan wajah santai.


"Ada apa sih kok Pak Radith kayaknya marah banget. Dan juga kok bentar amat di dalam?" tanya Cici seraya melihat penanda waktu di pergelangan tangannya.


Gadis itu memandang wajah Jovanka meminta jawaban atas rasa penasarannya.


"Tauk tuh Pak dosen marah-marah gak jelas." Jovanka mengangkat kedua bahunya dengan senyum diwajahnya.


"Tapi kok cuma 5 menit. Bahkan gak cukup lagi. Ngapain aja sampai secepat itu. Kayak gak niat ngehukum kamu." lanjut Cici Dewangga dengan wajah yang tampak berpikir keras.


Jovanka menarik nafas panjang kemudian menjawab, "Lah, memangnya mau ngapain? Mau menghukum? Kan cuma mau ngumpul tugas. Lima menit sat set beres deh, hihihihi." tawanya cekikikan. Sungguh ia sedang berusaha menutupi perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja.


Gadis itu tahu kalau Radith Aditya sedang menyimpan emosi tertahan untuk dirinya. Tapi ia berusaha tidak perduli karena sebenarnya ia juga sangat sakit hati pada pria itu.


"Yuk, ah ke kantin atau kemana kek sambil nunggu matkul dari Bu Rahmah Salam." Naomi mengajak dua orang sahabatnya itu untuk mencari tempat untuk duduk yang nyaman dan santai.


"Mini kemana ya, kayaknya gak masuk deh." Cici tiba-tiba mengingat tentang salah satu teman se gengnya itu. Ia melihat sahabatnya itu banyak berubah hanya karena cintanya ditolak oleh Zion Sakti sang ketua BEM.


"Iya. Mini sekarang sangat berubah. Gak mau ngumpul-ngumpul lagi kayak dulu. Dan ketika ngumpul pun hanya perdebatan yang ia cari. Aku semakin heran dengan anak itu." Naomi ikut menambahkan dengan wajah sedihnya.


"Aku gak tahu mau ngomong apa. Mini gak suka banget sama Aku sekarang. Padahal kan Aku gak pernah ngeladenin kak Zion," ujar Jovanka dengan wajah murung. Naomi pun menepuk lengan sahabatnya itu untuk menghibur.


"Udah ah, gak usah bahas Mini lagi. Kita bahas yang seru-seruan aja," ujar Cici seraya menunjukkan sebuah berita viral di layar handphonenya.


Mereka bertiga pun mengalihkan pembicaraan tentang Mini ke berita yang lagi viral diperbincangkan di dunia maya. Setelah itu mereka kembali ke kelas untuk mengikuti perkuliahan berikutnya.

__ADS_1


🌺


Rania nampak sangat panik dengan suhu tubuh Ruby yang semakin tinggi dan membuat anak itu sampai kejang-kejang. Bik Mina sudah meminta pada Kang Udin untuk menyiapkan mobil.


"Bik, telpon Tuan Radith udah tersambung belum?" tanya Rania seraya menggendong cucunya itu ke atas mobil.


"Belum Nya," jawab Asisten Rumah Tangga itu dengan tangan meletakkan barang-barang milik Ruby dan perlengkapan lainnya untuk dibawa ke Rumah Sakit.


"Kang Udin. Kita berangkat sekarang!" titah Rania pada supir pribadi keluarganya. Ia tak perlu lagi menunggu kabar dari Radith Aditya karena keadaan Ruby benar-benar sangat mengkhawatirkan.


Sementara itu, di tempat lain. Radith Aditya segera menuju ke Taman bermain di dekat gang tempatnya tinggal. Tempat pertama kalinya Ruby dan Jovanka bertemu. Dan dimulainya drama pengasuh yang ternyata adalah hasil dari taruhan gadis itu dengan teman-temannya.


Ia memandang ke sekeliling Taman untuk mencari keberadaan Jovanka. Akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan gadis itu disana.


"Jadi kamu sengaja menghindari ku Jo," bisiknya pelan dengan perasaan kesal. Akhirnya ia kembali ke mobilnya dan memutuskan untuk mencari gadis itu di Rumahnya.


Dan sebuah kebetulan yang sangat bagus. Ia melihat gadis itu akan memasuki Rumahnya.


"Jo!" panggilnya saat gadis itu dan dua orang pria lainnya sedang berusaha membuka pintu pagar rumah itu.


Jovanka berbalik dan melihat kalau orang yang memanggilnya adalah Radith Aditya yang sangat ingin ia hindari.


"Kak Zain. Aku lelah banget, Kakak aja yang temani Pak Radith ngobrol." Jovanka langsung berlari ke dalam rumahnya.


Jovanka sungguh tidak ingin bertemu dengan pria yang sudah menipunya itu. Pria yang sudah mempunyai calon istri dan masih berusaha untuk mengambil hatinya.

__ADS_1


"Pak Radith. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Zain yang ternyata sangat mengenal pria yang ada dihadapannya ini. Radith Aditya adalah seorang dosen yang mengajarnya di pasca sarjana.


"Saya sangat ingin bicara pada Jovanka. Dan kamu, apa yang sedang kamu lakukan disini?" Radith Aditya memandang Zain dengan tatapan tajam. Dosen itu ingat kalau Pria itulah yang ada dalam foto yang dikirimkan oleh Mamanya ke handphonenya kemarin. Dan sekarang ia sangat cemburu.


"Saya adalah kakak sepupu Jovanka Pak. Dan saya memang tinggal di sini."


"Oh, sepupu?"


"Iya Pak. Dan ini adalah Jeffrey, adiknya Jo." Zain menunjuk satu pria remaja yang juga masih berdiri di depan pagar itu.


"Mari Pak. Kita masuk dulu." Zain pun mempersilahkan pria itu untuk masuk ke Rumahnya. Radith Aditya tersenyum senang dengan hati yang sangat lega.


Ia baru saja ingin memasuki rumah itu tapi handphonenya langsung berbunyi berulang-ulang. Ia memang baru mengaktifkannya setelah tiba di Rumah Jovanka.


"Ya Halllooo," ujarnya seraya melangkahkan kakinya menjauh dari pintu rumah itu.


"Innalilahi. Saya akan segera kesana Ma," ujarnya lagi kemudian segera meninggalkan rumah itu. Zain dan Jeffrey merasa bingung dengan tamunya yang langsung pergi dari Rumah itu dengan terburu-buru.


"Pak, ada apa?" Zain memburu langkah dosennya itu karena merasa sangat khawatir.


"Minta Jovanka ke Rumah Sakit sekarang, kalau ia masih menyayangi Ruby!"


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2