
"Mas, kita pulang ke rumah saja ya. Ruby udah bobok."
"Hum, iya sayang." Radith Aditya tersenyum. Ia melirik istrinya dengan perasaan yang sangat bahagia. Jovanka adalah sosok istri dan ibu yang baik. Perasaan sayangnya pada Ruby begitu sangat besar meskipun ia bukanlah ibu kandung dari anak itu.
"Hotelnya mubazzir dong."
"Gak apa-apa Mas. Lagipula kan kita udah menggunakannya tadi siang hehehe," kekeh Jovanka dengan wajah yang berubah sangat malu.
"Iya ya, kok aku lupa."
"Ish, pura-pura lupa atau gimana nih?" Jovanka balas menggoda suaminya dengan tatapan penuh cinta.
"Jo, jangan menatapku seperti dong, bisa-bisa aku gak konsentrasi nyetir nih."
"Mas, lebay ah."
"Eh, beneran lho ini."
"Mas, serius. Ini udah larut banget. Kendaraan banyak yang ngebut di jam seperti ini." Jovanka mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dimana mereka saat ini sudah memasuki ibukota.
"Iya istriku yang cantik. Aku harus hati-hati karena ada kalian yang harus aku jaga." Radith Aditya tersenyum dan menurunkan kecepatan mobilnya.
"Mas, aku khawatir banget sama Kak Zion. Katanya sampai sekarang ia belum sadar juga. Masih kritis gitu." Jovanka menarik nafas beratnya. Ia sungguh kasihan pada Mini sang sahabat. Gadis itu pasti sedang sangat terguncang. Apalagi waktu pernikahan yang tersisa satu pekan lagi.
"Semoga Zion cepat sembuh. Aku sih curiga kalau pelakunya adalah si Randy brengsek itu."
"Ah iya mas. Aku kira juga begitu. Kemarin pria itu juga mencoba mengganggu aku mas."
”Apa?" Radith Aditya menghentikan mobilnya dengan mendadak.
"Iya Mas, kamar kita di hotel kan bersebelahan. Dan ia mencoba untuk melecehkan aku." Jovanka sudah mulai berani mengatakan semua yang pernah dialaminya selama ini. Ia sudah tidak takut lagi karena pria itu bukan lagi dosen yang mengajar di fakultasnya.
"Dasar keparat!"
"Mas, udah. Kita lanjutkan lagi perjalanannya."
"Kamu kenapa gak bilang sama Aku Jo. Pria itu memang sangat brengsek dan bajingan." Radit Aditya mencengkram kemudinya dengan sangat emosi. Andai sudah lama ia tahu kalau pria itu juga melakukan hal yang sama pada istrinya, maka ia pasti akan membuat pria itu mendekam di penjara.
__ADS_1
"Mas, Aku tidak pernah diapa-apain kok. Dan aku juga sudah memberinya pelajaran yang sangat berharga."Jovanka menyeringai.
"Apa yang kamu lakukan Jo?" tanya sang suami dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Gak perlu mas tahu. Yang jelasnya itu adalah hukuman bagi penjahat ke*lamin seperti dirinya."
Radit Aditya tersenyum lebar dan sudah mengerti apa yang telah dilakukan oleh istrinya.
"Kamu hebat sayang. Setelah itu aku yakin ia tidak bisa lagi memfungsikan senjatanya yang sangat berharga."
"Iya, Mas."
"Mama, kita udah sampai ya?" tanya Ruby yang tiba-tiba saja bangun dari pangkuan Jovanka. Gadis kecil itu menggeliat pelan kemudian menguap.
"Belum sayang. Ayo bobok lagi." Jovanka menjawab seraya mengelus lembut punggung sang putri.
"Gak mau bobok, capek. Kita ke hotel ya Mama," ujar Ruby seraya menegakkan punggungnya. Ia berniat untuk duduk di jok belakang saja.
"Mau ke hotel?"
Huffft
Radit Aditya dan Jovanka tidak tahan untuk tertawa. Tapi kemudian mereka menutup mulut mereka karena Ruby langsung menatap dengan tatapan tajamnya.
"Eh, iya sayang. Kita ke hotel dan kita bobok sama-sama." Jovanka memberi kode pada suaminya kalau mereka harus kembali ke Hotel lagi.
Radit Aditya tersenyum lebar. Ia sangat senang karena ia bisa kembali ke Hotel itu lagi.
Dan itu artinya akan lebih mudah lagi baginya untuk melanjutkan acara seminar yang dilaksanakan selama dua hari dk tempat itu. Pria itu pun melanjutkan perjalanannya diiringi oleh celotehan putrinya yang sangat cerewet.
Sementara itu, Felicia kembali ke villanya dengan hati yang sangat sedih. Untuk pertama kalinya ia sangat takut ditinggalkan oleh putri satu-satunya yang ia miliki.
Perempuan itu merasa sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan putrinya. Dan sekarang, Radit Aditya tidak lagi memberinya kesempatan kedua. Ruby pun begitu. Anak itu sudah tidak ingin lagi menerimanya. Putri satu-satunya membencinya.
"Fel, senyum dong sayang," bujuk Daren seraya memeluk perempuan itu yang masih saja menampakkan wajah sedihnya.
"Ruby meniggalkan aku Kak. Aku tidak akan punya anak lagi hiks."
__ADS_1
"Fel, lihat aku. Aku selalu ada untukmu. Kita akan menikah dan mempunyai keluarga yang utuh. Kamu tidak perlu bersedih sayang." Daren menghapus air mata kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Apa kamu masih mau menerimaku kalau aku tidak bisa memberimu keturunan Kak?" Felicia menatap lurus kedalam mata pria yang selama ini selalu bersamanya.
"Tentu saja Fel. Kita akan bersama sampai tua. Kita bisa mendapatkan bayi dengan cara yang lain sayang. Tekhnologi sudah sangat maju. Kita bisa melakukan apa saja."
"Terimakasih banyak Kak. Kamu sangat baik padaku."
"Sejak dulu Aku mencintaimu Fel. Tapi sayangnya engkau lebih memilih Radith Aditya. Dan sekarang tak ada lagi yang akan memisahkan kita. Kita akan menua bersama."
Felicia tersenyum. Hatinya sedikit lebih lega. Meskipun begitu, ia tetap mengharapkan Ruby menjadi putrinya kembali.
"Mulai sekarang, lembutkan hatimu sayang, kamu terlalu keras pada Ruby." Felicia menunduk. Hatinya tertohok, ia mengakui kalau ia selalu keras pada putrinya sendiri. Mungkin ini adalah hukuman untuknya dari Tuhan.
"Sekarang ayo kita tidur. Kamu harus tenang dan bahagia." Daren menarik tangan perempuan itu ke dalam kamar. Ia akan memberikan sugesti positif untuk Felicia. Ia tahu betul bagaimana latar belakang perempuan itu yang telah membentuk karakternya sampai seperti ini.
Felicia lahir dari keluarga broken home. Kekerasan sering ia dapatkan sejak ia kecil. Akhirnya ia tumbuh dengan hati yang kurang mempunyai rasa empati pada orang lain. Ia jadi gampang membentak dan menyakiti orang lain.Terutama pada Ruby anak kandungnya sendiri.
"Kemarilah Fel, aku akan menceritakan tentang sebuah keluarga yang menjadi idaman semua orang," Daren memanggil perempuan itu untuk berbaring disampingnya di atas ranjang.
Felicia menurut. Ia pun membuka jaketnya dan ikut naik ke atas ranjang.
"Rasa cinta dan kasih sayang yang kita miliki akan melembutkan hati Fel," ujar Daren seraya menatap lurus kedalam mata cantik Felicia.
"Belajarlah menumbuhkan itu di dalam hatimu sayang. Kamu akan tenang tanpa ada rasa benci yang selalu muncul dari dalam hatimu."
Felicia tersenyum. Ia akan belajar untuk melembutkan hatinya dan memaafkan keadaan. Cukuplah ia pernah gagal dan kedepannya ia berjanji akan lebih baik lagi.
Daren ikut tersenyum. Ia merasa sangat yakin kalau Tuhan sengaja mempertemukannya dengan Felicia untuk membantunya. Meskipun cara mereka sekarang ini sangat dibenci oleh Tuhan.
🌺🌺🌺
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍
__ADS_1