Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 31 Kena Batunya


__ADS_3

"Boleh Aku masuk Ci'?" tanya gadis yang nampak sangat kacau itu. Cairan bening nampak mulai menggenang di pelupuk matanya dan siap untuk membanjiri pipinya yang putih.


"Tentu saja Min, kamu gak usah minta Izin untuk itu." Cici membuka pintu lebar-lebar dan memberikan jalan untuk sahabatnya itu untuk masuk.


"Ada apa Min, kenapa kamu tampak sangat kacau seperti ini?" Cici bertanya seraya mendudukkan sahabatnya itu diatas sofa yang ada di dalam ruang tamu itu.


"Pak Randy Ci', dia ...hiks," tangis Mini langsung pecah. Ia menubruk sahabatnya itu dan memeluknya.


"Katakan yang jelas Min, ada apa?" tanya Cici dengan wajah yang sangat penasaran. Ia pun mendorong tubuh sahabatnya itu agar terlepas dari dirinya. Ia menatap wajah penuh air mata itu meminta penjelasan.


"Pak Randy Ci', dia melecehkan Aku, hiks." Mini menyusut airmatanya sedangkan Cici merasakan mulutnya menganga. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Maksud kamu apa Min?"


"Ia hampir saja mendapatkan mahkotaku Ci' tapi Aku berhasil kabur dan sampai disini, hiks."


"A-apa yang kamu katakan Min? Lihat! kamu membuat kulitku meremang." Cici memperlihatkan bulu-bulu pada lengannya berdiri.


"Sekarang Aku takut Ci' hiks." Mini Geraldine menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kembali menangis.


"Tapi kenapa bisa terjadi Min? Dimana kamu bertemu dengan Pak Randy sampai dia berniat melecehkanmu."


Naomi yang sedari tadi bertanya-tanya siapa yang datang akhirnya menyusul ke ruang tamu. Ia kaget melihat Mini Geraldine sang sahabat sedang menangis di depan Cici.


"Ada apa Min, kamu kenapa nangis?"


"Pak Randy Nom, dia- hiks."


"Dia apa?" Naomi menatap dua sahabatnya itu bergantian. Ia meminta jawaban.


"Pak Randy hampir saja memperkosa Mini, Nom," jawab Cici.

__ADS_1


"Apa?" Mata Naomi membulat tidak percaya dengan pendengarannya.


"Tapi kenapa bisa terjadi?" lanjutnya seraya mendudukkan tubuhnya disamping Mini Geraldine. Ia baru memperhatikan kalau pakaian sahabatnya itu sedang robek dibagian dadanya.


"Aku, aku huaaa," gadis itu semakin menangis histeris. Ia rasanya tak mampu menceritakan apa yang telah terjadi padanya puluhan menit yang lalu.


"Brengsek banget tuh si dosen mesum. Kita harus melaporkannya ke kantor Polisi Min. Ayo kita berangkat." Naomi langsung berubah sangat emosi. Ia berdiri dari duduknya dan mengajak sahabatnya itu mencari keadilan.


"Aku takut Nom. Bagaimana dengan masa depanku kelak? Aku mungkin akan dikeluarkan dari universitas."


"Gak akan Nom. Pria seperti itu harus mendapatkan hukuman dari apa yang diperbuatnya. Pokoknya kita harus melapor." Naomi masih bersikukuh ingin melaporkan pelecehan ini pada pihak berwajib.


"Nom, ini juga salah aku sendiri, hiks." Mini menutup kembali wajahnya. Ia mengakui kalau ia juga turut serta menyumbang terjadinya pelecehan ini.


"Ya Allah Min. Apa sebenarnya yang terjadi padamu hah? Kamu membuat kami bingung. Dan sepertinya Kamu harus istirahat dan menenangkan dirimu dulu." Naomi yang sudah sangat bersemangat kini jadi mundur pelan-pelan. Ia jadi curiga dengan sahabatnya ini. Perkataannya sungguh tidak jelas dan berputar-putar.


"Mungkin kamu butuh minum air mineral. Ayo kita masuk ke kamar dulu. Jojoba juga ada disini kok." Cici meraih tangan sahabatnya itu agar mengikutinya ke kamar.


"Iya Jojoba ada di sini. Ayo masuk. Kami bertiga habis makan intel kocok. Kalau kamu mau, nanti aku bikinin."


"Aku bersalah pada Jovanka Ci' Nom' huaaaaa." Kembali gadis itu menutup wajahnya disertai tangis pilu.


"Lho kok?" Naomi dan Cici saling berpandangan.


"Istirahatlah dulu. Kamu pasti sedang pusing dan butuh ketenangan. Nanti kamu cerita lagi masalahmu."


"Tidak Nom. Aku merasa sangat bersalah pada Jovanka. Aku memang sahabat yang jahat."


"Min, ada apa?" Jovanka yang suntuk ditinggal sendirian di dalam kamar akhirnya ikut bergabung di ruang tamu itu.


"Jo, maafkan Aku ya. Aku selama ini sangat jahat padamu."

__ADS_1


"Gak apa-apa kok Min. Kamu sahabat yang sangat baik. Kata-kata kamu tempo hari mengajarkan banyak hal padaku." Senyum Jovanka.


"Jo. Aku malu bertemu denganmu. Aku bukan sahabat yang baik. Aku selalu cemburu dengan apa yang kamu dapatkan, dan akhirnya inilah yang aku dapatkan dari Pak Randy Jaya."


"Apa Min?"


"Aku ingin mendapatkan nilai yang baik dengan menjanjikan padanya untuk membawamu bertemu dengannya. Dan saat ia menagih janjiku padanya ia malah ingin melecehkan Aku sebagai gantinya kamu." Enam pasang mata itu langsung melotot tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut sahabat mereka.


"Astaghfirullah Min, kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Naomi menatap tajam gadis dihadapannya itu dengan tatapan tak percaya. Ia sungguh kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh orang yang sudah dianggapnya sahabat.


"Maafkan Aku semuanya. Maafkan Aku Jo. Dan kumohon, terima Aku lagi menjadi sahabat kalian." Jovanka meraih Mini kedalam pelukannya. Ia tersenyum.


"Kita adalah sahabat. Kita semua pernah berbuat salah. Jadi kita lupakan ini dan kita kembali seperti dulu. Tak ada yang cemburu jika salah satu dari kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Semua harus senang, Okey?!"


"Okey!" jawab mereka semua kompak.


"Tapi bagaimana dengan Pak Randy Jaya, ia seakan mengikutiku ke tempat ini."


"Hah??"


Tok


Tok


Tok


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 🀭😘


__ADS_2