
Radith Aditya menghampiri Rania yang sedang berada di dapur. Ia ingin menanyakan tentang keberadaan istrinya yang tiba-tiba saja menghilang dan tidak ia temukan dimanapun.
"Mah, lihat Jovanka gak?"
"Mama tidak lihat tuh, mungkin sedang bersama dengan Ruby. Kamu udah periksa kamar putrimu tidak?"
"Sudah Mah. Tapi dua orang itu gak ada dimana-mana."
"Lho, kok bisa? Bukannya kalian sedari tadi di dalam kamar?" Rania menghentikan kegiatannya mengaduk adonan tepung. Ia memandang putranya itu dengan wajah serius.
"Ya itu dia. Aku juga bingung. Kok cepat sekali ngilangnya." Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa mungkin lagi nungguin tukang rujak di depan ya? Dari kemarin 'kan istrimu pengen banget makan rujak."
"Ah, iya Ma. Aku belum lihat ke depan sih. Makasih Ma." Radith Aditya pun melanjutkan langkahnya ke arah depan rumah. Biasanya jam-jam seperti itu selalu ada penjual rujak ataupun bakso.
Rania tersenyum. Ia sangat bahagia melihat keluarga putranya itu aman dan tenteram seperti itu. Beda halnya dengan pernikahan pertamanya dulu dengan Felicia. Sejak berpacaran mereka tidak pernah akur sampai menikah pun seperti itu.
__ADS_1
Radith Aditya kembali ke dalam rumah karena tidak menemukan Jovanka maupun Ruby di depan rumah. Ia menghampiri lagi perempuan yang telah melahirkannya itu dengan wajah khawatir.
"Ma, kok mereka gak ada ya?" keluhnya dengan mata memandang jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
Janjinya dengan mahasiswa bimbingannya di kampus juga sudah hampir lewat. Ia jadi sangat malu karena tidak bisa tepat waktu padahal ia sudah mengundurnya juga.
"Kamu pergi saja ke Kampus. Pasti Jovanka gak pergi jauh kok."
"Tapi Ma, aku khawatir. Dia pergi tidak bawa handphone dan juga lagi marah tadi."
"Lho kok bisa? Kamu apain istrimu? Jovanka gak pernah lho kayak gitu." Rania menatap tajam putranya.
"Ya udah, kamu ke kampus dulu. Selesaikan pekerjaanmu biar Kang Udin yang saya suruh nyari."
"Iya Ma, makasih banyak. Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum." Pria itu pun pergi dari sana setelah mencium punggung tangan Mamanya.
Rania tersenyum maklum. Pengantin baru memang sering seperti itu. Apalagi ia menduga kalau Jovanka saat ini sedang ngidam. Ada banyak perubahan yang ia lihat pada menantunya itu. Ia tampak sangat cantik dengan bagian depan yang sangat berisi. Ia juga agak rewel dengan makanan.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu pun melanjutkan acara memasaknya. Ia yakin Jovanka dan Ruby tidak akan pergi jauh-jauh dari rumah. Ngambeknya pengantin baru pasti hanya seputar yang ringan-ringan saja.
Radith Aditya melajukan mobilnya ke kampus dengan perasaan yang sangat khawatir. Ia sungguh bingung dengan suasana hati Jovanka yang cepat berubah. Baru saja mereka saling melepaskan hasrat yang membuncah kini istrinya itu marah-marah tak jelas hanya karena hal sepele yang ia lakukan.
"Jo, mana bisa aku konsentrasi bekerja kalau kamu marah begini sayang," ujar pria itu dengan perasaan yang masih sangat khawatir.
Sementara itu, perempuan cantik yang sedang dikhawatirkan oleh pria tampan itu ternyata sedang berada di sekolah Ruby. Ia sedang mengantar putrinya itu untuk latihan drama karena akan mengikuti lomba pada acara hari anak nasional.
"Jo, bisa kita bicara?" Jovanka yang sedang serius memperhatikan Ruby berlatih, tersentak kaget. Ia mengalihkan perhatiannya pada perempuan cantik yang merupakan mantan istri dari suaminya itu.
"Mbak Feli? Ada apa ya?"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π