
"Maaf Pak rektor, kami mengganggu waktu bapak," ujar Zion dengan menundukkan wajahnya sopan. Prof Dr Satrio Utomo itu tersenyum, ia sudah sangat mengenal siapa itu Zion, ketua BEM Universitas yang sangat terkenal dikalangan kritikus Universitas.
"Tidak apa-apa. Ini juga sedang kosong. Ada apa Yon?"
"Saya hanya ingin melaporkan tentang rencana pelecehan seksual oleh Pak Randy Jaya, dosen fakultas Manajemen."
"Rencana pelecehan seksual? Maksud kamu apa?" Rektor yang terkenal bijaksana itu menanyakan apa maksud pembicaraan mahasiswa tingkat Akhir tersebut.
"Saya menemukan Mini Geraldine di dalam kamar 122 milik Pak Randy Jaya pak rektor." Rektor itu semakin bingung dibuatnya. Bagaimana mungkin pria muda ini menemukan seorang gadis di dalam kamar dosen itu padahal pemilik kamar sedang tidak ada ditempat. Pria itu berada bersama dengan peserta seminar lainnya di dalam ballroom hotel.
"Ini kunci kamarnya Pak rektor. Dan ya saya menemukan calon istri saya sudah dicekoki obat." Zion Sakti menyentuh tangan gadis yang hampir menjadi korban itu agar mau berbicara.
"Itu benar sekali Pak rektor, saya bertemu dengan Pak Randy di Kampus tadi dan saya tidak ingat lagi kenapa tiba-tiba saya berada di tempat ini." Rektor itu memandang wajah dekan fakultas yang membawahi seorang Randy Jaya bekerja.
"Akan kami panggil orangnya secara khusus. Ini akan jadi rahasia kita berempat. Karena ini tentu menyangkut nama baik Fakultas dan juga Universitas." Prof. Dr. Nasaruddin itu memberikan penjelasannya agar masalah ini bisa diselesaikan dengan cara damai.
"Secepatnya Pak. Jangan sampai ada banyak korban lagi yang akan jatuh kalau orang itu tidak mendapatkan hukuman dari perbuatannya." tegas Zion dengan wajah mengeras. Sungguh ia bisa merasakan bagaimana jika hal itu terjadi pada banyak korban dosen mesum itu.
"Tentu saja. Hukuman paling beratnya adalah dia pasti akan menginap di hotel prodeo dan jabatannya sebagai pengajar di universitas akan kami cabut dengan tidak hormat." Rektor Universitas menambahkan dengan tegas.
"Nah, carilah bukti yang banyak untuk mendukung laporanmu ini." lanjut pria paruh baya itu dengan tatapan lurus kedalam mata Zion Sakti.
"Siap Pak. Kami permisi terlebih dahulu. Silahkan bapak lanjutkan kegiatannya."
__ADS_1
"Ah ya."
Zion Sakti dan Mini Geraldine segera pergi dari tempat itu dan menuju ke sebuah ruangan khusus di dalam kamar hotel itu. Rekaman CCTV harus ia dapatkan saat itu juga. Untungnya ia sudah satu bulan ini magang di hotel itu hingga ia dengan mudah memasuki ruangan operator.
"Kita dapat Min. Waktunya untuk memperbanyak ini dan memberikannya pada pak rektor. Kita akan lihat sejauh mana pria brengsek itu bisa berkelit." Zion tersenyum senang. Ia pun menarik tangan kekasihnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Kak, boleh Aku tidak ikut?"
"Kenapa?"
"Aku mau ke kamarnya Jovanka. Ia juga berada di hotel ini," izin Mini dengan tatapan sayu dimata bulatnya.
"Min, kamu masih merasakan efek itu sayang?" tanya Zion dengan balas menatap calon istrinya itu. Mini mengangguk pelan. Saat ini ia merasa sangat tersiksa dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Pulang untuk apa kak? Kamu juga tidak bisa meredakan perasaan ini." Mini merenggut. Gelenyar aneh masih saja menyentak-nyentak dari dalam pembuluh darahnya karena belum terpuaskan. Sungguh ia sedang butuh sebuah pelepasan yang sebenarnya.
"Ya Allah Mini sayang, kamu membuat Unyuk bangun lagi. Kita cari solusinya sayang. Insyaallah kamu akan baik-baik saja, okey?" Zion mengelus lembut tangan gadis cantik yang sudah ia lihat dan cicipi sedikit itu.
"Kalau kamu ke kamar hotel itu lagi, pikiranmu akan terbawa lagi dengan kegiatan kita sebelumnya sayang. Kamu akan merasa tersiksa lagi. Lagipula Jovanka bisa membantu apa? Bisa-bisa kalian malah makan jeruk yang sama hehehe."
Mini menurut, meskipun ia sangat tersiksa dengan semua ini. Ia berusaha untuk terus mensugesti dirinya memikirkan hal yang baik-baik.
Setelah urusan dengan pelaporan itu selesai, Zion pun keluar dari area hotel itu untuk membawa Mini pulang ke tempat kostnya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." Zion terus menghibur kekasihnya itu yang nampak sangat gelisah.
"Bagaimana bisa baik kak. Aku teringat terus sama yang kamu lakukan padaku tadi. Ini tuh rasanya berkedut dan meminta sesuatu yang lebih." Mini benar-benar sudah tidak punya malu mengatakan keinginannya.
"Mini, kamu lihat ini? Aku juga tersiksa sayang." Zion memandang bawahnya yang mulai mengeras lagi.
"Tapi kumohon bersabarlah. Kita akan menikah. Dan sesampainya di tempat kost kamu harus tidur saja atau olahraga. Aku akan meminta Mama dan Papa untuk menghubungi orangtuamu agar kita menikah aja dulu. Pestanya nanti pekan depan sesuai undangan."
Menit berikutnya, mereka pun sampai di tempat kost yang berada tidak jauh dari Universitas dan hotel itu berada. Zion turun dari mobilnya untuk membukakan pintu buat Mini.
Brakk
Tubuh Zion tiba-tiba saja terlempar ke jalan karena ditabrak oleh pengendara yang tidak dikenal.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Bunga sekebon kopi segentong dong!!!
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π
__ADS_1