
Jovanka mondar-mandir di dalam kamarnya dengan wajah yang sangat khawatir. Baru saja ia mendapatkan dua kabar yang sangat mengkhawatirkan dirinya sedangkan nomor Radith Aditya tidak juga bisa dihubungi.
"Oh, ya Allah. Bagaimana ini? Apa aku harus keluar kamar tanpa izin dari mas Radith?" Ia bergumam dengan dada berdebar takut. Pesan suaminya untuk tidak meninggalkan kamar adalah mutlak.
Akan tetapi perasaan khawatirnya semakin menjadi-jadi tatkala handphonenya kembali berbunyi. Ada notifikasi pesan yang masuk. Kembali ia membuka handphonenya.
Mini π : Tolong doanya untuk Kak Iyon, keadaannya lagi kritis π.
Cici Dew: Iya say. Aku dan Naomi akan segera kesana. Kamu yang sabar ya Minππ
Jovanka: Aku juga ingin kesana tapiππππ. Maafkan Aku ya besti. Aku hanya bisa kirim doa aja. Ruby juga sedang dalam masalah saat iniππ.
Jovanka menyusut airmatanya kemudian keluar dari obrolan grup chatnya. Untuk saat ini ia ingin fokus pada Ruby. Ia pun membuka beberapa pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
Beberapa pesan suara dari dalam pesan itu ia putar kembali untuk memastikan kalau itu adalah suara dari Ruby.
"Mama Jo, jemput Luby di sini huaaaa."
"Mama, Papa, Luby ingin pulang. Luby takut disini."
Ia sudah membalasnya dengan menelpon nomor tersebut tapi sayangnya tidak aktif lagi.
Oh ya Allah, bagaimana ini? Aku tidak bisa tenang kalau seperti ini terus. Aku harus meminta Mas Radith untuk mencari dimana keberadaan Ruby. Jovanka membatin seraya memakai hijabnya.
Perempuan itu pun keluar dari kamar itu dengan tujuan ke arah ballroom hotel. Sepenting apa acara suaminya saat ini ia harus bisa bicara dengan Radith Aditya.
"Jovanka? Kamu disini juga?" Sebuah suara dari arah belakangnya membuat perempuan cantik itu tersentak kaget. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa yang menegurnya adalah Randy Jaya sang dosen.
"Eh iya Pak. Saya di sini bersama Mas Radit. Kalau bapak? Kenapa gak ikuti acara seminarnya?" Jovanka berbasa-basi dengan sangat baik meskipun ia sangat tidak ingin memberi hati pada pria itu.
Randy Jaya menyeringai. Ia tak perlu lagi menjaga image. Karirnya sudah hancur. Dan ia tidak mau rugi. Jovanka harus ia dapatkan saat ini juga.
__ADS_1
Pria itu melangkahkan kakinya mendekat. Kamarnya ternyata bersebelahan dengan kamar Radith Aditya. Dan sekarang ia menyesali dirinya yang sejak tadi tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini.
Jovanka merasakan kalau pria itu mempunyai niat tidak baik. Ia pun menyiapkan dirinya untuk kabur dari tempat itu. Akan tetapi sebelum ia melaksanakan niatnya tangannya sudah ditangkap oleh si dosen omesh.
"Maaf Pak. Lepaskan tangan saya!" Jovanka berusaha menyentakkan tangannya agar terlepas.
"Jovanka, seharusnya kamu menerima saya daripada si Radith sialan itu. Kamu belum merasakan belaianku sayang," ujar pria itu seraya mengelus lembut tangan Jovanka.
Bugh
"Aaaargh!" Randy Jaya mengerang kesakitan. Perempuan cantik dihadapannya berhasil menendang alat vitalnya sampai ia merasakan sakit yang teramat sangat. Pegangan tangannya terlepas.
"Jovanka kamu sialan!" Randy Jaya membungkukkan badannya kesakitan. Ia merasakan bumi berputar dan akhirnya ia jatuh pingsan. Sedangkan Jovanka langsung lari dari tempat itu. Ia takut dan khawatir, jangan sampai pria itu telah kehilangan nyawanya karena telah ia berikan tendangan keras.
Ia terus berlari menuju lift. Untungnya ia bertemu dengan salah seorang Office boy. Ia pun menanyakan lantai tempat ballroom hotel itu berada. Untuk saat ini keadaan Ruby adalah prioritasnya. Dan mengenai Randy Jaya. Ia berharap ada orang yang datang menolong pria itu.
Tring
"Maaf Bu, acara belum selesai. Dan saat ini masih ada sesi tanya jawab." Panitia itu memberi alasan karena tidak ingin ada yang menggangu acara yang bertaraf nasional ini.
"Ini sangat penting. Ini menyangkut nyawa putri kami. Katakan pada Pak Radith Aditya kalau putrinya sedang dalam bahaya."'Jovanka sudah tidak sabar. Ia benar-benar sudah sangat panik sekarang.
"Ada apa ini?" Sesilia Juwita yang baru saja dari toilet jadi penasaran dengan keberadaan Jovanka di tempat itu.
"Maaf Bu doktor. Saya harus bertemu dengan Pak Radith Aditya. Putri kami sedang dalam masalah saat ini. Saya mohon bantuan Ibu." Jovanka melipat tangannya di depan wajahnya. Ia benar-benar berharap dosen cantik itu mau membantunya.
"Hem, baiklah. Saya akan memberitahu Kak Radith. Kamu tunggu di sini saja," ujar Sesilia Juwita dengan wajah seriusnya. Perempuan cantik itu langsung meninggalkan Jovanka dan berjalan ke depan ke tempat semua pemateri seminar duduk. Jovanka bisa melihat dosen killer itu berbisik pada suaminya.
Tampak dari jauh kalau pria itu langsung menghidupkan Handphonenya dan berdiri dari tempatnya duduk. Ia meminta izin untuk meninggalkan acara itu karena ada hal penting terjadi pada keluarganya.
"Apa yang terjadi pada Ruby sayang?" tanyanya pada Jovanka yang sudah berhasil ia temui.
__ADS_1
"Ini Mas, coba deh kita dengarkan dengan baik." Jovanka memutar ulang Voice note itu untuk diperdengarkan pada suaminya.
Untungnya Ia pernah menyuruh gadis kecil itu untuk menghafal nomor handphonenya jika ia sedang butuh sesuatu yang sangat penting.
"Sudah kamu hubungi nomor pengirim ini sayang?" tanya Radit Aditya seraya menekan tombol panggil pada handphone Jovanka.
"Sudah Mas tapi tidak tersambung." Jovanka menjawab dengan wajah yang semakin khawatir.
"Ini sudah tersambung. Ya Halllooo, maaf ini siapa ya?" Radit Aditya mengangkat tangannya agar Jovanka tidak berbicara dulu. Ia ingin mendengarkan suara yang ada di seberang.
"Oh ini nomor yang dihubungi oleh putri bapak ya, saya adalah Putri. Kami saat ini sedang berada di puncak." Suara dari seberang itu menjawab dengan sangat jelas.
"Puncak? Kenapa Ruby bisa berada di sana? Itu sangat jauh dari tempat kami sekarang ini." Radit Aditya tampak sangat bingung. Ia pun mengganti panggilan itu dengan panggilan video. Ia ingin melihat sendiri apa benar Ruby ada di sana atau tidak.
"Papa! ini Luby huaaaa," ucap gadis kecil itu dari tampilan video di dalam kamera itu. Jovanka langsung ikut mengarahkan kamera itu pada dirinya.
"Ruby sayang. Ini Mama sayang. Tunggu kami disana. Kami akan segera sampai."
"Cepatlah Mama Papa. Luby mau pulang huaaaa," ujar gadis itu dengan tangis histeris.
"Tenanglah sayang, mama sama Papa akan segera kesana. Tunggu ya. Sekarang berikan handphonenya pada Kakak Putri. Kami akan meminta alamatnya yang lengkap."
"Iya Papa." Ruby pun menyerahkan handphone itu pada pemiliknya.
Sialan kamu Felicia! gerutu Radith Aditya dalam hati.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π