Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 39 Keputusan Pengadilan


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang membahagiakan dan juga merupakan hari yang menyedihkan bagi keluarga Radith Aditya. Putusan cerai sudah jatuh. Felicia sudah resmi menjadi mantan istri dari seorang Radith Aditya secara hukum.


Akan tetapi Hak Asuh Ruby jatuh pada Felicia Peraturan mengenai hak asuh anak dalam perceraian lainnya ada di dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975.


Dalam putusan ini juga dikatakan bahwa dalam penentuan pemberian hak asuh anak dalam perceraian haruslah mengutamakan ibu kandung. Terlebih lagi untuk hak asuh anak yang masih di bawah umur atau 12 tahun kebawah. Hal ini ditetapkan dengan melihat kepentingan anak yang membutuhkan sosok ibu.


Meskipun Radith Aditya menyatakan keberatannya tetapi ia tetap tidak bisa lagi mendapatkan Ruby seutuhnya. Mereka berdua mendapatkan tanggung jawab yang sama untuk memelihara dan memberikan Ruby kasih sayang.


Sore ini Felicia datang menjemput Ruby untuk ia bawa tinggal dengannya. Radith Aditya sebenarnya menolak dan meminta waktu. Rasanya ia tidak percaya kalau akan benar-benar berpisah dengan putri semata wayangnya.


"Biarkan Ruby tinggal di sini Fel. Di sini, ia lebih tenang dan bahagia karena ada Mama yang akan menemaninya saat kita semua bekerja."


"Itu maumu Mas. Tapi Aku juga ingin bersama dengan Ruby. Aku juga kesepian selama ini..Dan ya kita harus melakukan perintah pengadilan 'kan?" Felicia menjawab dengan wajah santai tetapi sebenarnya menyimpan sakit di dalam hatinya. Ia masih berharap kalau Ruby akan menyatukan mereka lagi.


"Kamu sibuk Fel, siapa yang akan menemani Ruby nantinya." Radith Aditya masih berusaha memberikan alasannya.


"Mas, kamu sudah mengatakan hal ini berkali-kali. Kamu juga sibuk. Dan ya, Aku bisa menyewa seorang pengasuh untuknya. Dan kamu tidak perlu membayarnya karena Aku juga mampu untuk itu. Kekhawatiranmu tidak beralasan sama sekali."


Felicia memandang wajah tampan suaminya dengan perasaan yang tidak bisa ia lukiskan. Ia sungguh berharap Radith Aditya mau menerimanya lagi meskipun mungkin menjadi istri kedua.


"Tapi Fel, Ruby sejak kecil dekat denganku. Aku yang lebih tahu bagaimana Ruby selama ini." Wajah Radith Aditya semakin menunjukkan rasa tak rela.


"Mas, berhentilah mengatakan ini dan itu. Aku adalah ibu kandungnya dan Aku yang paling dibutuhkannya. Kamu mau menikahi gadis ingusan itu kan? nikahi dia secepatnya. Biar Ruby menjadi milik Aku seutuhnya."


"Feli!"


"Ah sudahlah, sekarang siapkan Ruby, Aku akan membawanya saat ini juga." Felicia tidak lagi mau mendengar kata-kata Radith Aditya.

__ADS_1


Ia bersikeras ingin mengambil Ruby dari rumah itu dan dari keluarga yang menyayanginya. Ia pun memasuki rumah yang pernah ditinggalinya itu dengan airmata yang mengalir dari sudut matanya.


Sementara itu, di dalam kamar Ruby. Rania tak bisa menahan tangisnya ketika menyiapkan pakaian cucu tersayangnya di dalam kamar.


"Kenapa eyang menangis? Dan kenapa tasnya besal sekali?" Rania tidak menjawab. Ia hanya sibuk memasukkan pakaian-pakaian Ruby ke dalam koper itu.


"Emangnya Luby mau kemana eyang?" Ruby terus bertanya karena merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi.


"Ruby akan ke rumah Mama Feli sayang, Ruby akan tinggal di sana."


"Luby tidak mau. Luby mau di sini saja sama eyang dan sama Papa." Ruby akhirnya ikutan menangis. Gadis kecil itu tidak ingin pergi dan tinggal bersama dengan Mama kandungnya.


Rupanya beberapa hari yang lalu, ia pernah ingin sekali menginap di rumah Felicia karena bujukan perempuan itu tapi ternyata apa yang dialaminya tidak seperti yang ia bayangkan selama ini.


Felicia sama sekali tidak pernah memperdulikannya. Ia hanya sendiri di rumah itu tanpa teman.


"Luby mau disini sama Papa dan sama eyang, huaaa," jawab Ruby dengan tangis yang semakin kencang. Gadis kecil itu memeluk Rania dengan sangat erat seakan tidak ingin pergi dan berpisah.


"Ruby udah siap belum nih?" Felicia tiba-tiba muncul di dalam kamar itu. Ia langsung masuk dan menggantikan Rania mengepak barang-barang putrinya.


"Mama, Luby mau tinggal di sini saja," ujar gadis kecil itu takut-takut. Ia melepaskan pelukannya pada eyangnya.


"Kenapa Ruby, Hem?" tanya Felicia dengan tatapan tajam pada putrinya. Ruby langsung mengkerut. Ia ketakutan. Ia tidak lagi bisa menjawab. Yang ada hanya ia menangis dalam diam.


"Kan katanya suka tinggal sama Mama Feli. Kita bisa bersenang-senang sayang," ujar Felicia dengan tangan sibuk mengepak pakaian Ruby ke dalam sebuah koper besar.


"Nah, sudah selesai. Kita berangkat sekarang." Perempuan itu menutup resleting koper itu dengan menepuk-nepuk tangannya. Ia pun menarik tangan Ruby ditangan kanannya dan pegangan koper itu ditangan kirinya.

__ADS_1


"Eyang, Luby pelgi ya," ujar Ruby dengan airmata yang jatuh satu-satu dari pelupuk matanya. Rania langsung memeluk gadis kecil itu dengan tangis pecah.


"Iya sayang, kalau Ruby kangen minta sama Mama Feli untuk bawa Ruby pulang ke sini ya?"


"Iya eyang." Gadis kecil itu menyusut air matanya dengan punggung tangannya yang kecil.


"Mari Ma, kami pergi dulu," ujar Felicia dan benar-benar pergi dari sana. Radith Aditya meraih putrinya itu kedalam pelukannya sebelum naik keatas mobil Felicia.


"Papa tidak sayang sama Luby, hiks." Ruby berucap pelan diceruk leher Papanya. Ia menangis dan berharap sekali Papanya melarangnya pergi.


"Maafkan Papa sayang. Papa sangat sayang pada Ruby. Tapi Mama Feli juga sayang sama Ruby."


"Luby sedih Pa. Halusnya Luby sama Papa saja." Ruby terus berbicara dengan tangis tertahan. Ia ingin sekali mengatakan kalau Mama Feli sering marah dan membentaknya tapi ia takut.


"Mas, kami pergi dulu. Kalau kamu mau bertemu Ruby datanglah ke Rumah. Pintu terbuka untukmu Mas." Felicia tersenyum kemudian membuka pintu mobilnya dan meminta agar Ruby diangkat oleh Papanya ke atas."


"Papa, huaaaa," Ruby berteriak seraya melambaikan tangannya dari dalam kaca jendela mobil. Anak itu menangis dan membuat semua orang yang ada di depan rumah itu ikut menangis.


Radit Aditya meraup wajahnya kasar. Hatinya sangat sakit melihat putrinya menangis seperti itu. Ia lalu memasuki rumahnya dan melangkah dengan cepat ke dalam kamar putrinya. Rania ada di dalam sana dengan menangis sesenggukan.


"Kamu harus usahakan supaya Ruby kembali pada kita Dith, Mama tidak mau berpisah dengan cucu mama, hiks." Radit Aditya memeluk Mamanya dengan perasaan yang sama sedihnya.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2