
"Jo, dengarkan Aku sayang. Itu karena rinduku udah tak tertahankan." Radit Aditya terus membujuk istrinya agar tidak lagi menangis.
"Tapi cara Mas itu bikin Aku malu tahu gak? Aku kesal banget tuh sama kamu mas," ucap perempuan cantik itu dengan suara merajuk manja.
"Iya deh, Aku minta maaf sayang, tapi jangan ngambek gitu dong. Aku kan jadi tidak semangat lagi," balas pria tampan itu dengan wajah dibuat ditekuk lebih manja daripada istrinya.
"Gak akan aku maafin kalau Mas gak minta Bu Sesil jelaskan yang tadi di depan kelas."
"Lho, kok jadi gawat gini sih?"
"Ya iyalah, gawat. Mas yang bikin ulah. Gimana gak gawat." Jovanka masih menunjukkan wajah kesalnya. Pokoknya ia tidak akan mau memberikan apa yang diinginkan suaminya itu kalau permintaan nya tidak dituruti.
"Jo, nanti Sesil ngamuk lagi sayang. Udah ya, nilai kamu aman kok."
"Ini bukan nilai saja Mas Tapi tentang harga diri. Aku malu banget tadi kena prank sama Bu dosen."
Radit Aditya menarik nafasnya berat. Ia harus mengalah dan meminta Sesil menjelaskan pada semua mahasiswa di kelas itu kalau ini hanya prank saja. Meskipun ia tahu kalau dosen perempuan yang terkenal killer itu pasti akan mengunyah-ngunyahnya sampai tak berbentuk.
"Baiklah sayang demi si piton yang ingin dimanjakan olehmu, aku akan ikuti semua keinginanmu." Radith Aditya pun meraih handphonenya untuk menghubungi rekan kerjanya yang lebih muda dari dirinya itu.
πΊ
Setelah pengusiran Jovanka yang begitu tiba-tiba di depan semua mahasiswa. Keadaan kelas menjadi sangat hening. Mereka semua takut pada dosen cantik dan horor itu. Pembelajaran pun berlangsung dengan sangat menegangkan.
Geng Jovanka yang terdiri dari Mini, Cici, dan Naomi saling berkirim pesan lewat kertas yang mereka sebar untuk saling berkomunikasi agar tidak ketahuan.
Mini: Aku kasihan banget sama Jojoba, pasti dia nangis deh di luar.
Cici: Iya. Yakin deh Jojoba pasti sedih banget sekarang.
Naomi: Siapa coba yang gak sedih kalau dipermalukan seperti itu di depan semua orang. Mana lagi ini mata kuliah 4 SKS. Ih pasti Jojoba udah ngadat gak mau makan nih.
Mini: Iya, kamu betul sekali. Kita aja sedih Apalagi Jojoba.
Cici: Padahal aku idolakan banget tuh Bu Sesil, masih muda, cantik, udah Doktor meskipun killer banget, hihihihi.
"Apa ini?" Doktor Sesilia Juwita tiba-tiba saja merebut selembar kertas yang berisi percakapan mereka tentang Jovanka dan dosen killer itu.
"Ah itu Bu, hanya kertas coret-coret saja. Gak penting kok. Maafin teman saya." Mini langsung berdiri dari duduknya dan memohon maaf dari sang Doktor.
__ADS_1
"Sudah lanjutkan diskusinya. 10 menit lagi semua kelompok sudah harus mempresentasikan hasil diskusi kalian!" Sesilia langsung berjalan kembali menuju mejanya.
Melihat percakapan teman-teman Jovanka yang ada di dalam kertas ini dan seolah-olah menyudutkan dirinya membuatnya sangat kesal pada Radit Aditya sang senior.
Ya, pria itu yang menyuruhnya mengeluarkan Jovanka dari kelas agar ia bisa melepaskan hasratnya pada sang istri tercinta.
Dan sekarang ia yang menerima akibat permintaan pria tampan yang menjadi suami Jovanka itu.
"Sial! Awas kamu Kak Radit!"
Drrrt
Drrrt
Perempuan cantik itu melihat sekilas layar handphonenya yang berkedip-kedip.
"Hem, panggilan dari Kak Radit, apa lagi maunya pria itu padahal semua keinginannya sudah aku penuhi," gumamnya dengan bibir mencebik.
Drrrt
Drrrt
"Ya, halo," ucapnya saat panggilan itu terhubung.
"Kamu mengumpat aku Sil?" tanya Radit Aditya dari ujung sambungan.
"Gak, Aku tidak mengumpat. Kamu aja kak yang terlalu sensi. Mau minta tolong apa lagi?" Sesilia langsung to the point menanyakan maksud pria itu menghubunginya. Nampak dari suaranya kalau ia masih sangat kesal.
"Sil, tolong kamu umumkan di depan kelas kalau yang kamu lakukan tadi pada Jovanka itu hanya prank aja. Dan itu atas permintaan Aku," ujar Radit dengan nada serius. Ia sedang mendapatkan tatapan tajam dari Istrinya di depan hidungnya.
"Maksudnya gimana nih?" Sesilia nampak tidak mengerti dengan kemauan pria itu.
"Ya pokoknya bilang gitu aja, cukup."
"Eh, aku dapat reward apa nih?" Jiwa bisnis perempuan itu tidak ingin tinggal diam. Ia tidak ingin bekerja dengan tanpa imbalan.
"Akan aku bantu saat seminar nanti, tenang aja Okey?"
"Okey deh Kakak senior. Keinginanmu akan aku lakukan. Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Jangan terlalu lama dan hot mainnya, ingat bentar malam seminarnya, hehehehe," kekeh Sesilia menggoda pengantin baru itu.
"Kalau itu aku gak janji, istriku terlalu legit Sil."
Tuut
Sesilia menutup cepat sambungan telepon itu atau ia akan segera ke Kantor suaminya karena ikut terpancing.
"Nah, sudah selesai sayang, kamu gak perlu khawatir lagi Okey?" Radit Aditya menatap istrinya karena sudah memperdengarkan percakapannya dengan dosen yang sangat ditakuti oleh Jovanka.
"Iya mas," ucap perempuan cantik itu seraya menundukkan wajahnya.
"Hey, kok menunduk. Lihat Aku dong. Tatap mataku Jo, kamu akan lihat betapa aku sangat mencintaimu sayangku." Radit Aditya meraih dagu sang istri dan mengangkatnya agar ia bebas memandang wajah yang sangat cantik dihadapannya.
"Iya Mas, Aku juga sangat mencintaimu." Sang suami pun tersenyum kemudian mulai membuka hijab yang sedang dipakai istrinya.
"Aku bilang, kalau kita bersama, Aku ingin kamu tidak mengunakan apapun Jo," bisiknya dengan suara rendah dan penuh getar hasrat.
Tangannya dengan lincah membuka pakaian istrinya satu-satu. Begitu pun dengan Jovanka, ia melakukan hal yang sama. Mereka saling membuka pakaian mereka berdua.
"Mas, kamu selalu bikin aku merinding," bisik Jovanka dengan suara bergetar. Ia menatap penampilan suaminya yang begitu menggoda imannya. Pahatan tubuh yang sangat kuat dan menarik itu membuatnya menelan salivanya kasar.
"Kamu juga sayang, kamu selalu membuatku gila Jo," balasnya dengan tatapan takjub pada tubuh indah istrinya yang sudah ia cicipi tapi ia tak pernah merasa bosan.
Mereka berdua saling mengikis jarak. Sentuhan kulit sesama kulit yang mereka lakukan tanpa penghalang membuat adrenalin mereka terpacu sangat kuat. Sebuah rasa yang sangat luar biasa menghentak dari dalam pembuluh darah mereka berdua.
Tangan mereka saling menyapu menghantarkan hasrat tak terbendung. Begitupun bibir mereka berdua. Daging kenyal tanpa tulang itu saling bertautan dan membelit.
Hanya erangan dan dessahan yang menguasai ruangan kamar istimewa itu. Mereka tak pernah bosan mengunjungi nirwana dengan segala keindahan dan kenikmatannya.
Adakah vote, kopi, atau bunga?
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π