Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 30 Intel Kocok


__ADS_3

"Wow kita kedatangan tamu Ci!" Naomi berteriak keras saat membuka pintu kamar kostnya dan mendapati Jovanka berdiri di sana. Cici melongokkan kepalanya kearah depan berusaha melihat siapa yang Naomi maksud.


"Jojoba? Wah seneng banget kedatangan tamu spesial. Masuk Jo!" Cici segera bangun dari duduknya dan ikut menghampiri pintu. Ia mempersilahkan sahabatnya itu untuk masuk.


"Makasih ya gaess," jawab gadis itu seraya membuka Hoodie yang sedang dipakainya lalu melemparkannya ke kursi yang ada di dalam kamar itu.


"Jo, kamu kok gak semangat sih? Lagi sakit ya?" Naomi Memandang sahabatnya itu dengan wajah penasaran. Jovanka yang biasa ceria kini tampak murung dengan mata merah seperti habis menangis.


"Aku mau nginap di sini malam ini, boleh gak?" Jovanka tidak menjawab pertanyaan Naomi tatapi membalasnya dengan pertanyaan lain.


"Ya boleh dong. Kamu mau tinggal juga gak apa-apa. Supaya kamar ini semakin ramai, hehehe," kekeh Cici untuk menghibur sahabatnya itu. Akan tetapi Jovanka benar-benar nampak tak bersemangat. Ia samasekali tidak membalas candaan sahabatnya itu.


"Ada apa sih Jo? Kamu gak sedang lari dari rumah 'kan?" tanya Naomi dengan wajah penasaran.


"Kamu udah bilang sama bunda 'kan kalau kamu nginap disini?" lanjut gadis itu lagi.


"Gak. Pokoknya Aku gak mau pulang ke rumah sekarang. Aku lagi mau sama-sama kalian. Suntuk banget kalau sendiri saja."


"Iya deh, kami ngerti kok. Tapi kalau rasanya berat dan mau dibagi kami siap kok Jo." Cici ikut menimpali karena benar-tidaknya yakin kalau gadis itu memang sedang punya masalah entah pada siapa. Naomi dan Cici saling berpandangan dan mengangkat bahu.


"Hem," ujar Jovanka seraya melangkahkan kakinya ke arah ranjang Naomi. Ia rasanya ingin tidur dengan nyenyak karena kepalanya terasa sangat berat dan juga sakit. Lama ia berbaring tetapi perasaannya tetap tidak baik-baik saja. Ia melirik handphonenya yang sejak tadi berkedip-kedip menandakan begitu banyak pesan dan panggilan yang masuk tapi ia samasekali tidak ingin mengangkatnya. Akhirnya ia bangun dan memandang dua sahabatnya itu yang sepertinya sibuk dengan handphonenya mereka masing-masing.


"Ada makanan gak?" tanyanya karena merasa perutnya mulai berteriak minta diisi.


"Ada, mie instan. Kamu mau?" Naomi menyimpan handphonenya di atas nakas kemudian berdiri untuk mengambil mie instan dan telur. Anak kost seperti dirinya mempunyai banyak persediaan makanan sejenis itu untuk berjaga-jaga kalau lapar ditengah malam.


"Aku juga mau Nom." Cici ikut bangkit dan juga menyimpan benda pipih elektronik yang baru saja ia mainkan.


"Asyik deh kita makan ramai-ramai. Udah lama gak makan di tempat ini ya," ujar Jovanka bersemangat.

__ADS_1


"Iya, kamu kan sibuk tuh sama si kecil Ruby dan Papanya jadi udah gak pernah lagi ngumpul sama kita," sindir Cici bermaksud bercanda. Akan tetapi justru membuat wajah Jovanka langsung berubah murung.


"Gak usah sebut-sebut mereka lagi. Aku kesal tahu gak?" Gadis itu langsung meraih mie instan dan telur dari tangan Naomi kemudian keluar dari kamar itu menuju ke dalam dapur tempat kost itu. Cici dan Naomi saling berpandangan kemudian tersenyum. Mereka sudah tahu sekarang apa masalah Jovanka hingga bisa berada di tempat itu. Dua gadis itu mengambil mie instan dan telur lagi kemudian menyusul Jovanka ke dapur.


"Ada cabe hijau gak?" tanya Jovanka saat mie instannya sudah masak dan sudah ia masukkan ke dalam mangkuk.


"Ada tuh. Mau berapa?" Naomi meraih satu wadah kecil yang berisi cabe merah dan hijau. Dua aja deh entar pedis banget.


"Uh gak banget kalau cuma dua bilangnya pedis. Lihat punyaku nih pakai 5." Cici mempertontonkan gaya makannya yang memang sangat menyukai yang hot markotop.


"Kalian ya, hati-hati. Entar sakit perut lagi. Gak ingat waktu kalian saling nantang makan pedas dan siapa yang masuk Rumah Sakit?" Naomi menyela dengan senyum diwajahnya.


"Ah Iya. ingat banget. Mini yang masuk Rumah Sakit karena sakit perut hahaha." Cici tertawa terbahak-bahak seraya memegang perutnya. Kalau teringat kejadian itu rasanya ia tidak akan berhenti tertawa.


"Udah ah kita makan dulu. Mini kalau disebut-sebut begini pasti juga sedang ingat kita. Aneh banget tuh anak sekarang." Naomi segera mengalihkan pembicaraan kemudian segera ke meja makan dan siap untuk makan. Kedua sahabatnya ikut ke meja itu seraya membawa mangkuk mie masing-masing.


"Jangan lupa baca bismillah supaya tambah enak dan Lezat." Jovanka mengingatkan dengan senyum diwajahnya. Rupanya hatinya sekarang sudah lebih baik karena berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Meskipun ia tahu kalau sekarang ia telah membuat panik semua orang.


"Hiks," tiba-tiba ia merasa sedih kembali saat mengingat gadis kecil itu lebih memilih Mama kandungnya dibandingkan dengan dirinya.


"Jo, kamu kenapa? jangan sedih dong. Mie nya itu nanti dingin dan ngembang nanti jadi gak enak lho." Naomi menegur sahabatnya itu yang hanya menatap makanan di hadapannya dengan tatapan kosong.


"Iya Jo. Kamu makan dulu. Bentar Aku akan sediakan bahu aku untuk kamu bersandar sayang. Nanggung nih mie nya mantap jiwa rasanya." Cici kembali menyendok makanan berbentuk panjang-panjang itu kedalam mulutnya dengan tambahan potongan cabe kedalamnya.


"Enak Jo, coba deh." Cici mendesis kepedasan tapi ia terus melanjutkan suapan demi suapan mie instan campur telur kocok itu.


Jovanka tersenyum kemudian menyusut airmatanya. Ia jadi berselera lagi makan karena melihat gaya makan Cici yang sangat nikmat.


Mereka bertiga akhirnya makan dengan tenang disertai bunyi desisan karena kepedasan. Rasanya semua masalah yang mengganjal di dalam hati Jovanka jadi menguap untuk sementara waktu karena efek rasa enak pada makanan yang sangat sederhana itu.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Mereka bertiga saling pandang dengan suara ketukan di depan pintu kamar kost itu.


Tok


Tok


Tok


Kembali pintu itu diketuk dengan nada yang tidak sabar. Sepertinya yang datang itu sedang kebelet minta ikut makan, begitu pikir Cici. Ia pun berdiri dari kursinya dan segera berlari ke arah pintu. Ia begitu penasaran dengan tamu yang datang di waktu malam seperti ini.


Sedangkan Naomi dan Jovanka langsung membawa mangkuk bekas makan mereka untuk dibawanya ke wastafel untuk dicuci.


Cici membuka pintu itu dengan wajah melongo tak percaya. Mini Geraldine sang sahabat berdiri disana dengan penampilan yang sangat kacau.


"Mini?"


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Bagi kopi boleh? πŸ˜πŸ˜‚πŸ€­

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2