Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 48 Pagi Yang Indah


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar azan subuh menandakan waktu subuh sudah datang. Radith Aditya menarik si piton raksasa miliknya keluar dari gua yang sangat sempit itu dengan wajah yang sangat puas. Ia tersenyum dan menatap istrinya yang nampak sangat kelelahan melayani dirinya.


Jovanka sendiri tersenyum malu-malu karena baru saja merasakan pelepasan yang entah keberapa kalinya. Sang suami benar-benar memanjakannya tanpa lelah hingga ia merasakan nikmat dari proses pergulatan panjang dan cukup menguras tenaga itu.


"Mandi ya sayang, supaya kamu segar lagi," ujar Radith Aditya seraya mengecup lembut bibir Istrinya.


"Iya mas, tapi ya ampun lelah banget," jawab Jovanka dengan tubuh ia rasakan gemetar. Mereka lupa sejak pukul berapa memulai permainan yang sangat menyenangkan ini hingga berakhir di awal subuh seperti ini.


"Justru itu sayang. Kalau langsung mandi pasti otot-ototnya bisa langsung kembali segar, setelah itu kita sholat subuh baru bisa tidur dikit kalau masih ngantuk."


Jovanka setuju dengan perkataan suaminya. Ia pun bangun dengan wajah meringis sakit. Radith Aditya sangat mengerti penderitaan istrinya. Ia pun segera menggendong Jovanka masuk ke kamar mandi.


"Pasti udah pintar mandi junub 'kan sayang?" tanyanya pada istrinya setelah menyiapkan air mandi hangat di dalam bathtub.


"Iya Mas. Bunda udah ngajarin."


"Nah kalau gitu mulai deh mandinya. Aku mandi sendiri. Mau ikutan berjamaah di Masjid. Takutnya telat dan masbuk."


"Ah iya Mas," ucap Jovanka kemudian segera mencuci bagian inti dirinya yang begitu sangat lengket karena perbuatan si piton raksasa milik suaminya.


Setelah itu ia berwudhu' dan mulai masuk ke dalam bathtub untuk berendam.


"Jangan lama-lama ya, Jo. Ingat kalau mau sholat sayang," ujar Radith Aditya mengingatkan seraya meraih handuknya. Ia sudah selesai dan sekarang buru-buru mau ke Masjid komplek yang cuma berjarak sekitar dua puluh meter dari rumahnya.


"Iya mas," jawab Jovanka kemudian menutup matanya merasakan belaian air hangat di seluruh tubuhnya. Terasa bagaikan pijatan-pijatan lembut yang sangat menyenangkan.


Radith Aditya segera berangkat ke Masjid subuh itu dengan perasaan yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Ia terlalu bahagia. Jovanka telah berhasil ia miliki seutuhnya.


"Alhamdulillah, pengantin baru. Rambut basah menunjukkan hal yang luar biasa," goda jamaah lain saat mereka selesai berdoa dan berdzikir.

__ADS_1


"Alhamdulillah Pak, mari saya pulang duluan, Assalamualaikum." Radith Aditya tersenyum menjawab godaan orang-orang dan segera pergi dari Masjid.


Biasanya mereka masih duduk-duduk berbicara dan bercanda sehabis subuh. Akan tetapi kini ia harus pulang cepat takutnya Jovanka, masih berada di dalam bathtub dan lupa untuk sholat subuh.


Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati istrinya itu di sana. Ia pun masuk ke kamar mandi untuk mengeceknya. Akan tetapi perempuan cantik yang sudah memberinya surga dunia itu ternyata juga tidak ada di sana.


Dengan perasaan yang cukup khawatir, ia segera keluar dan mencarinya di tempat lain. Dapur ia kunjungi tapi juga tidak ada. Akhirnya ia menuju kamar Ruby.


Pintunya ia buka dengan perlahan. Ia mendapati istrinya itu ada di ranjang Ruby sedang tertidur. Rambutnya yang basah masih terbungkus handuk kecil.


Ia pun datang menghampiri kemudian berbisik pelan ditelinga istrinya."Kamu sudah sholat sayang?" Jovanka membuka matanya kemudian tersenyum.


"Iya Mas. Aku sudah sholat. Maaf ya, Aku kembali menemani Ruby, takutnya ia bangun dan cari Aku lagi," jawabnya.


"Ah iya gak apa-apa. Makasih ya sayang" ujar Radith Aditya kemudian mengulumm lembut bibir istrinya yang terasa sudah menjadi candu buatnya.


"Tidurlah, Aku kembali ke kamar ya," lanjut pria itu setelah ia puas dengan daging kenyal manis tak bertulang itu.


"Dith, istrimu masih di dalam?" tanya Rania yang tiba-tiba berada di depan kamar Ruby juga.


"Iya Ma. lagi tidur."


"Kamu gak apa-apa kan kalau Jovanka tidak menemanimu nak?" tanya Rania dengan wajah khawatir. Ia tahu betul bagaimana tidak enaknya menahan hasrat untuk diledakkan setelah bertahun-tahun dialami oleh sang putra.


"Iya Ma. Sekarang Aku juga masih ingin tidur lagi, Assalamualaikum Ma."


"Waalaikumussalam."


🌺

__ADS_1


Matahari sudah bersinar di tempat yang lain di belahan bumi lainnya. Naomi dan Cici keluar dari kamar setelah melakukan sholat subuh. Mereka segera menuju ke dapur membantu Bunda Zarina mempersiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga.


Ya, mereka sedang menginap di rumah pengantin perempuan, yaitu sahabat mereka berdua.


"Selamat pagi bunda. Ada yang bisa kami bantuin gak?' tanya Cici seraya menghampiri Zarina yang sedang mengulek bumbu untuk dibuat nasi goreng.


"Eh udah pada bangun. Syukurlah ada gadis-gadis cantik yang mau bantuin bunda," ujar Zarina tersenyum.


"Iya bunda. Kami berdua kan calon menantu yang baik hati dan tidak sombong, hehehe," timpal Naomi seraya terkekeh.


"Wah, asyik dong punya menantu rajin. Nihh kupas bawang merah dan bawang putihnya. Trus tomatnya dicuci." Zarina tersenyum kemudian memberikan bahan-bahan itu pada sahabat putrinya. Tak lama kemudian nasi goreng seafood pun siap mereka buat. Cici bagian menata diatas meja sedangkan Naomi bagian mengambil piring dan perlengkapan lainnya.


"Wah kayaknya enak banget nih Bun," ujar Zain yang tiba-tiba sudah hadir di ruang makan setelah joging di depan komplek. Ia mulai menarik kursi dan duduk di sana menghadapi menu sarapan di atas meja.


"Iya dong enak. Kan dibantuin masak sama calon menantu," jawab Zarina tersenyum. Ia melirik dua gadis cantik yang juga sedang duduk bersama dengan mereka. Cici dan Naomi tersenyum malu.


"Duh bunda, rasanya pesta kemarin belum hilang capeknya masak mau ngunduh mantu lagi?" canda Haikal Baron seraya mengisi piringnya dengan nasi goreng buatan isterinya.


"Canda ayah. Kita kan punya dua anak cowok nih. Dan di depan kita ada dua cewek cantik. Ya gak apa-apa dong."


"Ya ya ya betul sekali. Tapi makan dulu gih. Nasi gorengnya nanti dingin," ujar Haikal Baron membalas candaan istrinya.


Zain hanya tersenyum dan mulai memikirkan perkataan bundanya. Melihat Cici pagi ini duduk dan makan bersama seperti ini rasanya ia juga tidak sabar menghalalkan gadis itu.


Naomi dan Cici hanya diam saja. Mereka jadi malu sendiri menanggapi candaan yang baru mereka buat. Ruang makan itu akhirnya sepi. Yang terdengar hanya gesekan antara sendok dan piring. Semua menikmati sarapan itu dengan pikiran masing-masing.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2