
Radith Aditya pun membawa istrinya ke rumah mertuanya yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Hanya bersebelahan gang. Mereka hanya butuh 10 menit jika menggunakan mobil.
Jovanka sungguh sudah tak sabar bertemu dan memakan masakan buatan bundanya. Ia bagaikan anak kecil yang akan bertemu dengan idolanya. Tak hentinya ia bersenandung dan tersenyum karena sebentar lagi mereka sampai.
"Sayang hati-hati dong," tegur Radith Aditya padanya. Pasalnya, istrinya itu langsung turun dari mobil saat kendaraan itu baru saja berhenti di depan rumah mertuanya.
"Maaf Mas, Aku duluan ya," balas Jovanka dengan langkah yang sangat cepat ke arah pintu rumah kedua orang tuanya. Radith Aditya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian ikut turun.
"Assalamualaikum bunda!" Jovanka memberi salam dan langsung memasuki rumah itu yang pintunya tidak terkunci. Ia terus melangkah ke arah ruangan makan karena tahu kalau jam seperti ini penghuni rumah itu pasti sedang makan malam.
"Waalaikumussalam warahmatullahi," kompak, penghuni rumah yang terdiri dari 4 orang itu menjawab salam mantan penghuni rumah itu.
"Jo? Kamu datang sayang? Mana suamimu?" Zarina langsung berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan putrinya yang sudah lama rindukan.
"Tuh Mas Radith." Jovanka mengarahkan pandangannya ke arah belakangnya untuk menunjuk keberadaan suaminya.
"Pa kabar bunda," lanjutnya seraya mencium pipi kiri dan kanan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Baik sayang, Alhamdulillah. Kamu gimana?" Zarina menjawab dengan balas bertanya.
"Sehat bunda, cuma sekarang lagi lapar. Pengen makanan bunda. Ayah, apa kabar." Jovanka langsung berpindah ke kursi sang Ayah dan memeluk pria itu.
"Ayah kira kamu sudah lupa sama pria tampan ini Jo." Haikal Baron berucap dengan wajah datar. Saat ini ia sangat cemburu karena putrinya jarang berkunjung ke rumahnya setelah menikah.
"Ayah jangan berkata seperti itu. Aku sangat menyayangimu tapi kan ada bunda yang menemanimu, jadi aku menyingkir saja hehehe." Jovanka terkekeh berniat bercanda.
"Hum, alasan kamu saja tuh." Haikal membalas perkataan putrinya dengan berpura-pura kesal.
"Maafkan aku ayah yang paling ganteng. Malam ini kami nginap sini deh, bolehkan Mas?" Jovanka menatap suaminya yang sejak tadi diam saja memandang interaksi mereka berdua.
"Ah iya, tentu saja boleh," jawab pria itu dengan cepat.
__ADS_1
"Ayo duduk sini, Nak Radith." Zarina pun menarik kursi untuk menantunya itu duduk.
"Makasih banyak bunda, Pa kabar Ayah," Radith tidak langsung duduk, ia menghampiri kursi ayah mertuanya terlebih dahulu kemudian menyalaminya.
"Alhamdulillah baik. Silahkan duduk dan ikut makan bersama. Lain kali jangan sampai Jovanka jadi kelaparan seperti ini ya, akan saya tuntut kamu." Haikal Baron ternyata masih belum sembuh rasa kesalnya pada menantunya itu. Pria yang telah membawa pergi putrinya dan jarang sekali datang berkunjung padahal jarak rumah mereka sangat dekat.
"Iya Ayah, terimakasih banyak," balas Radith kemudian duduk di kursinya dengan tenang. Ia tahu kalau Ayah mertuanya sedang sangat sensitif sekarang.
"Ayah?!" Zarina menatap tajam pada suaminya yang dengan santainya mengucapkan kata-kata seperti itu pada sang menantu.
"Ayo makan. Kak Zain dan Jeffrey." Jovanka tidak memperdulikan kata-kata ayahnya. Yang ia pikirkan adalah ia ingin makan dengan lahap. Semua yang ada dihadapannya rasanya ingin ia masukkan ke dalam piringnya.
"Jovanka sayang, kamu lapar banget sih," tegur sang bunda karena merasa sangat aneh dengan tingkah putrinya.
"Iya Bun. Lapar banget. Udah lama gak makan makanan bunda sih."
"Biarpun sangat lapar. Jangan lupa baca bismillah sayang." Zarina menegurnya karena Jovanka makan seperti orang yang tidak pernah makan selama seminggu. Maklumlah ia sudah memuntahkan semua isi perutnya dan sekarang ingin menggantinya dengan makan yang banyak.
Radit Aditya hanya bisa menundukkan wajahnya ke bawah. Melihat istrinya seperti itu di depan kedua orangtuanya, ia yakin kekesalan Haikal Baron padanya akan bertambah lagi.
πΊ
Hari pun berganti.
Mini Geraldine tidak tahu harus mengatakan apa pada hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya. Saat ini ia sedang berada di sebuah salon untuk di-make over karena beberapa jam lagi akan dinikahi oleh Zion Sakti. Seorang pria yang sangat ia cintai tapi ternyata melupakannya.
"Boleh gak sih pernikahannya dibatalkan saja?" tanyanya pada Cici dan juga Naomi yang sedang mendampinginya di tempat itu.
"Ih kenapa? Kok mau dibatalkan sih? Kamu kan udah lama pengen jadi miliknya Kak Zion." Cici menjawab seraya memperbaiki riasan wajah sahabatnya itu.
"Pengen sih pengen Ci', tapi kan gak nyaman gitu menikah dan hidup bersama dengan pria yang tak punya perasaan sama kita. Dan lebih parahnya lagi melupakan kita seolah-olah kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya." Mini menjelaskan dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
"Iya sih Min. Tapi 'kan dengan menikah kamu bisa merangsang ingatannya agar kembali mengingat kenangan kalian," ujar Naomi seraya membantu sahabatnya itu untuk berdiri. Ya, kendaraan yang akan membawa mereka ke sebuah gedung pernikahan sudah siap di depan salon itu.
"Nah betul sekali itu, Aku sih setuju juga kalau yang seperti itu. Di sanalah nanti tugasmu untuk membuat Kak Zion yakin bahwa kalian pernah saling mencintai dan memang berniat untuk menikah," ucap Cici menambahkan.
Mini terdiam, ia membenarkan kata-kata sahabatnya. Seharusnya ia tidak perlu khawatir dengan ini semua. Tapi bagaimana kalau pada akhirnya suaminya tidak mencintainya sampai kapanpun. Sedangkan mereka menikah ini kan hanya karena insiden kepergok di dalam kamar kostnya waktu itu. Ia belum yakin kalau Zion benar-benar mencintainya.
"Nah lho, pengantin harusnya bahagia. Jangan memikirkan yang macam-macam okey?" Cici mengelus punggung sahabatnya itu untuk memberinya semangat.
"Iya Ci'"
"Ucapkan bismilah dong sayang." Naomi menambahkan dengan senyum lebar di wajahnya.
"Bismillahirrahmanirrahim." Mini berucap dengan dada berdebar. Ia berharap Allah memberikan keberkahan pada pernikahannya dengan Zion Sakti kedepannya.
"Nah gitu dong. Kamu kelihatan sangat cantik kalau perasaanmu baik. Serahkan semuanya pada Tuhan ya," ujar Naomi lagi dengan perasaan yang ikut deg-degan. Gadis itu ikut merasakan perasaan sahabatnya.
"Makasih banyak ya, kalian adalah sahabat terbaik deh." Mini tersenyum lebar. Ia akan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi ia pasrah.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah gedung pernikahan yang sangat mewah. Mini pun turun dari kendaraan khusus milik Event Organizer yang telah mereka sewa untuk membantu acara pernikahan ini.
"Kamu cantik sekali anakku," ujar seorang perempuan yang merupakan ibu kandungnya. Ia menjemputnya di depan pintu gedung dan membawanya masuk ke dalam. Sebentar lagi rombongan keluarga besar pengantin pria akan segera tiba.
"Makasih banyak Bu. Do'akan Mini ya," balas calon pengantin itu dengan menggenggam tangan ibunya.
"Iya sayang, doa ibu akan selalu bersamamu."
"Terimakasih banyak Bu."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π