
"Kami pamit dulu ya bun, mau kembali ke tempat kost dulu," pamit Naomi pada Zarina pagi itu. Ia dan Cici sudah ikut membantu beres-beres sisa acara pernikahan sahabat mereka dan sekarang sudah ingin berbaring santai di kamar kost mereka sendiri.
"Duh makasih nih ngerepotin kalian. Padahal pengantinnya malah lagi nyantai di rumah pak dosen," ucap Zarina dengan senyum diwajahnya.
"Gak apa-apa bund. Kami mengerti kok." jawab mereka kompak. Setelah itu mereka berdua berniat keluar dari Rumah itu. Akan tetapi langkah mereka ditahan oleh Zarina.
"Eh, jangan pulang dulu lah, ini bunda udah bikin kue dan lauk untuk dimakan nanti di tempat kost." Zarina menyerahkan beberapa bungkusan untuk Naomi dan Cici.
Perempuan cantik itu sangat tahu kalau dua sahabat putrinya itu jauh dari kedua orangtua mereka. Dan kebanyakan anak kost itu biasanya malas masak dan lebih sering jajan di luar.
"Makasih banyak bunda. Ini udah banyak sekali lho," ucap Cici dengan perasaan tak nyaman dihatinya. Akan tetapi ia menerima juga bungkusan itu untuk menghormati yang memberi.
"Biar Zain yang ngantar kalian ya, tunggu dulu. Bunda panggilkan." Zarina menahan lagi langkah dua gadis itu. Nampak sekali kalau ia sangat perhatian pada mereka berdua.
"Duh gimana dong, Boby kan mau jemput juga kesini, aku udah hubungi tadi," bisik Naomi pada Cici. Ia jadi sangat malu karena Zarina sudah repot-repot mengurus mereka berdua dan sekali lagi tidak enak menolak. Mata mereka kembali tertuju pada Zarina yang datang bersama dengan Zain.
"Nih, anaknya udah mandi. Udah tampan. Kunci mobil ada di meja depan ya," ujar Zarina sembari mendorong tubuh keponakannya itu menghampiri Naomi dan Cici.
"Maaf nih bunda, sebelumnya kami ucapkan terimakasih banyak tapi, itu ada teman kok yang mau datang menjemput kami," ujar Cici dengan wajah tak nyaman. Ia tersenyum meringis karena sangat tak nyaman.
"Siapa?" tanya Zain dengan tatapan tajam pada gadis cantik incarannya itu.
"Boby kak.''
"Aku yang antar. Ayo cepat." Zain tidak ingin mendengar alasan lagi. Ia segera mengambil kunci mobil ayah Haikal dan melangkah cepat ke arah garasi. Sedangkan Naomi, Cici, dan Zarina hanya bisa berpandangan dengan bahu terangkat.
"Kami pamit bunda, Assalamualaikum." Mereka berdua pun keluar dari rumah itu setelah mencium punggung tangan perempuan baik hati itu. Tak ada lagi yang berbicara. Zain menyalakan mesin mobil dan meminta dua orang itu naik.
"Kak, Boby udah dalam perjalanan kemari. Jadi gak apa-apa kok kalau kakak gak ngantar kami." Cici bertahan tidak ingin naik ke mobil itu.
"Naik!" titah Zain tak terbantahkan.
"Baik kak." Cici dan Naomi akhirnya menurut. Mungkin mereka akan meminta maaf sama Boby lewat telepon saja nanti.
"Duduk depan Ci'! Emangnya aku ini sopir kalian?!" gerutu Zain dengan tatapan tajam pada gadis itu lewat kaca kecil di atas kepalanya.
"Eh iya kak. Nom, Aku duduk di depan ya," ujar Cici pada sahabatnya itu. Naomi hanya mengangguk. Ia kemudian turun dari mobil itu dan naik lagi untuk duduk di jok depan di samping Zain.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil itu mulai keluar dari pekarangan rumah milik Haikal Baron. Tak ada suara di dalam kendaraan roda empat itu. Naomi dan Cici tampak sangat tegang. Berada di dalam satu tempat dengan orang yang sedari tadi marah dan nampak kesal rasanya begitu sangat menegangkan.
"Nah itu Boby. Bob! Bob!" Cici tiba-tiba saja berteriak kencang saat melihat ketua tingkatnya yang sedang membawa kendaraannya dalam keadaan berlawanan arah.
"Biarkan saja!"
"Kak!" Cici nampak kesal karena pria itu tidak mendengarkannya. Ia ingin mereka berhenti sejenak dan meminta Naomi untuk menghubungi Boby agar memutar balik saja.
Zain akhirnya menghentikan mobilnya dan menunggu gadis disampingnya itu mengatakan sesuatu.
"Kenapa? Kamu ingin sekali dijemput sama Boby ya?!" tanya Zain dengan rahang mengeras. Ia cemburu pada pria yang namanya Boby itu.
"Kenapa Ci?"
Cici tidak menjawab pertanyaan pria itu. Ia hanya menoleh ke arah jok belakang dan memandang Naomi.
"Nom. Udah kamu hubungi Boby belum?"
"Udah tapi gak diangkat. Lagi nyetir kali." Naomi menjawab pertanyaan Cici seraya menempelkan handphonenya di kupingnya.
"Kalian nungguin aja di tempat kost. Gak usah nunggu di sini." Zain kembali menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka. Rupanya pria itu sedang tidak sabar dan masih sedikit kesal.
"Lalu?" tanya pria itu dengan pandangan tetap lurus ke jalanan yang ada di hadapannya.
"Berhenti dong."
"Untuk apa?"
"Ya supaya dia tidak capek ngikutin kita." Cici menjawab dengan senyum diwajahnya. Zain pun akhirnya menghentikan mobilnya lagi di sebuah jalanan sepi.
"Nah, sekarang. Kamu bisa turun," ujar Zain saat melihat pria yang bernama Boby itu ada di samping mobilnya menunggu penumpang yang sedang ia bawa untuk turun.
"Naomi yang mau turun kak. Dia kan pacarnya Boby, hehehe." Cici terkekeh geli karena bisa melihat ekspresi wajah pria itu langsung berubah.
"Terimakasih banyak Kak Zain. Aku ikut Boby saja. Ci' kamu gak ikut? mo ngadem dulu nih, horor banget tahu gak ikut mobil ini, hihihi." Naomi ikut cekikikan kemudian turun dari mobil itu.
"Aku ikut kamu deh Nom!" Cici juga ingin ikut turun tapi tangannya langsung ditarik oleh Zain.
__ADS_1
"Berani kamu turun dari sini Ci?!"
"Eh?"
"Tutup kembali pintunya. Kamu mau kemana. Aku akan antar."
"Eh?"
"Okey Kita nonton."
"Kak. Aku mau pulang saja."
"Sendirian di tempat kost? Tidak. Kita nonton. Ada film Bagus."
Zain sekali lagi tidak ingin mendengar alasan. Ia langsung melajukan mobilnya ke arah Mall. Ia akan mengajak gadis cantik disampingnya itu untuk nonton sekaligus menyatakan perasaannya.
Naomi sendiri hanya bisa tersenyum. Ia tahu kalau Zain itu sedang salah paham.
"Kenapa senyum-senyum saja?" tanya Boby dengan tatapan penasarannya.
"Gak. Mereka berdua itu lucu. Saling suka tapi enggan mengakui."
"Siapa?"
"Kak Zain dan Cici."
"Ooh. Aku kan gak kayak mereka. Aku sejak awal udah bilang kalau suka sama kamu."
"Kamu kan beda Bob."
"Bedanya kenapa?"
"Ya karena kamu beda aja, gak jaim dan to the point." Pria itu tersenyum kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah Cafe. Mereka lagi ingin minum es di cuaca yang sedang terik ini.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya π