Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 27 Tangan Gatal


__ADS_3

"Ruby yang menyayangiku tapi bapak tidak. Aku hanya akan jadi pengasuh saja, iyya kan?" Jovanka merajuk seraya memandang wajah Radith Aditya. Bibirnya mengerucut dengan sangat menggemaskan.


Dan Radith Aditya yakin siapapun akan sangat tergoda melihatnya terutama dirinya yang sangat mencintai gadis itu. Mungkin nanti saat ia sudah menikahi gadis itu, ia akan memintanya memakai nikab, agar hanya ia saja yang bisa melihatnya seperti itu.


Pria itu langsung tersenyum kemudian menarik gadis centil itu kedalam pelukannya. Ia benar-benar merasa sedang digoda oleh seorang Jovanka Baron dengan ekspresinya yang seperti itu.


"Kamu akan lebih dari itu Jovanka ku sayang, kamu akan mengasuh bagian penting dari diriku," ujar sang duda keren itu seraya mencium pipi Jojoba.


"Mengasuh lagi? kapan istirahatnya Pak? Aku kan mau belajar juga. Mau main sama teman-teman." Jovanka kembali merajuk dengan manja.


"Eh, Jangan salah sayang. Yang kamu asuh ini jinak kok gak kayak Ruby yang suka minta macam-macam. Cuma kalau lagi ngambek pastinya susah ngebujuknya."


"Wah nakal dong. Emangnya apa itu Pak?" Jovanka melepaskan pelukan sang Duren kemudian menatap wajah pria tampan yang sangat berbeda jauh usia dengannya itu.


Ia ingin tahu apa maksud perkataan pria itu dengan kalimat mengasuh yang jinak tapi nakal dan suka ngambek.


"Nanti kamu tahu sendiri Jo saat kamu halal menyentuh, mengelus, dan memandikannya." Radith Aditya tersenyum samar dengan jawaban-jawaban absurdnya.


Ia yakin gadis berusia 18 tahun itu sudah cukup dewasa mengerti perkataannya. Jovanka tampak berpikir keras tetapi kemudian tubuhnya diraih kembali oleh Radith Aditya.


"Jangan terlalu dipikirkan sayang. Yang jelasnya setelah Ruby keluar dari Rumah sakit kamu akan aku buat jadi milikku seutuhnya Jo."


"Bapak akan menikahiku 'kan? Setelah hampir semua bagian dari tubuhku bapak sentuh?" tanya Jovanka dengan wajah polosnya. Nampak sekali kalau ia sangat khawatir dengan apa yang baru saja mereka lakukan.

__ADS_1


Radit Aditya tersenyum. Ia benar-benar merasa gadis ini sangat centil tapi masih memiliki perasaan takut dihatinya.


"Tentu saja sayang. Sekarang kamu istirahat di sini. Aku akan ke Rumahmu menemui Pak Haikal Baron." Radit Aditya mendudukkan gadis itu di atas sofa kemudian mengecup bibirnya sekilas.


"Untuk apa bapak menemui ayah?" Jovanka bertanya dengan wajah bingung.


"Aku ingin melamar kamu pada ayahmu Jo. Aku takut dengan tangan dan bibirku ini sayang. Rasanya sangat gatal kalau tidak menyentuhmu." Jovanka tersenyum kemudian meraih tangan dosennya itu kemudian mengarahkannya ke wajahnya.


"Aku juga tidak sabar melayani mu Pak," ujar gadis itu seraya membawa jari telunjuk Radith Aditya kemudian menghisapnya seperti kebiasaannya saat ia merasa tegang.


Radith Aditya merasakan dirinya tersengat. Gelenyar aneh dengan cepat merambat dari dalam perutnya. Ia menatap dalam mata bening gadis cantik itu. Hasratnya menggila. Ia ingin sekali membawa gadis ini ke sebuah tempat rahasia dan sangat indah.


"Kamu benar-benar centil Jo. Mana bisa Aku tahan kalau kamu selalu seperti ini sayang," ujarnya dengan suara rendah. Pria itu cepat menarik jarinya dan segera pergi dari kamar itu. Ia takut menoleh lagi atau ia benar-benar lupa diri.


Radith Aditya melajukan mobilnya menuju Rumahnya sendiri untuk membersihkan dirinya. Sementara ia menunggu pesanan hampers yang akan ia jadikan sebagai seserahan untuk melamar Jovanka sore itu.


"Ma, bentar kita ke gang Flamboyan ya," ujarnya memberitahu agar perempuan yang telah melahirkannya itu bisa segera bersiap.


"Eh, untuk apa? Ini sudah sore nak." Siapa yang jaga Ruby di Rumah Sakit?"


"Justeru itu Ma, aku ingin melamar Jovanka pada ayahnya. aku ingin menghindari fitnah kalau ia berada bersama kita sedangkan tidak ada hubungan keluarga diantara kami berdua." jelas pria itu seraya memandang wajah sang Mama.


"Apa kamu sudah yakin dengan rencanamu ini Radith? Menikahi perempuan itu jangan lihat cantik nya saja nak. Lihat akhlaknya."

__ADS_1


"Aku mengerti maksud Mama. Pelan-pelan ia akan merubah penampilannya. Aku yang akan menjadi nahkodanya Ma. Yang terpenting saat ini adalah Ruby dan Aku sangat membutuhkannya. Kami berdua tak bisa lagi dipisahkan."


"Kamu belum merusak anak orang 'kan Radith?" Rania menatap putranya itu dengan perasaan khawatir.


"Belum Ma, tapi hampir. Aku sudah tidak tahan. Dan aku takut akan melakukan lebih dari itu." Radit Aditya meraup wajahnya kasar. Ia tidak akan menyembunyikan lagi perasaannya pada sang Mama.


"Astaghfirullah Radith. Kamu harus memohon ampun pada Tuhan nak." Rania mengurut dadanya dengan perasaan khawatir. Ia jadi merasa takut jika menunda-nunda lagi niat baik ini.


Meskipun begitu Ia sedikit memaklumi bagaimana keadaan putranya itu yang sudah menduda selama hampir 4 tahun. Pasti sangat berat menahan hasrat pada gadis muda dan juga cantik seperti Jovanka.


"Ayolah kita berangkat sekarang. Kalau Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda." Kini Rania yang lebih bersemangat untuk berangkat. Ia akan meminta dengan sangat agar pernikahan itu tidak dipersulit agar semuanya lancar.


Radit Aditya tersenyum senang. Ibunya sudah bersemangat seperti itu maka tidak ada lagi yang diragukannya. Jovanka akan segera ia nikahi dan akan ia jadikan sebagai ratu di istananya.


Sementara itu di Rumah Sakit Jovanka segera menelpon Zarina, sang bunda. Kalau Papanya Ruby akan datang melamarnya sore itu juga.


Jangan ditanya bagaimana paniknya perempuan yang baru berusia 45 tahun itu. Ia langsung menyuruh Jeffrey untuk mencari suaminya itu yang masih asyik bermain bulu tangkis di lapangan gang Flamboyan.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2