Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 35 Rasa Kasihan


__ADS_3

Pagi itu Jovanka bangun dengan wajah kusut seperti perasaannya saat ini. Kesal dan marah sebelum tidur semalam ternyata cukup berpengaruh pada moodnya pagi ini.


Dengan langkah malas, ia masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia berharap setelah itu ia akan merasa lebih baik. Sholat subuh ia lakukan diujung waktu ketika sinar matahari sudah mulai nampak dari tirai jendela.


"Selamat pagi putrinya bunda," sapa Zarina dengan senyum cerahnya. Perempuan cantik itu membuka pintu kamar putrinya dengan membawa segelas susu coklat dan juga bubur ayam spesial.


"Selamat pagi bunda." Jovanka menjawab seraya membuka mukena yang baru dipakainya. Ia melipatnya dan menyimpannya lagi di dalam lemari pakaiannya.


"Baru selesai sholat?" tanya Zarina seraya menyimpan nampan berisi makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja belajar sang putri.


"Iya bunda. Maaf kesiangan." Jovanka tersenyum meringis kemudian menghampiri Zarina.


"Harum banget bund. Bikin sendiri atau beli sama langganan ya?," ujarnya dengan hidung menghidu aroma makanan yang menguarkan aroma lezat itu.


"Bikin sendiri dong sayang, Ayah maunya makan buatan bunda. Katanya lezat dan hemat hehehe," kekeh Zarina.


"Ih Ayah mah gitu orangnya ekonomizer. Terlalu menerapkan konsep dasar ekonomi." Jovanka tersenyum seraya mulai menyendok bubur ayam yang masih mengeluarkan panas itu.


"Hemat pangkal kaya katanya Jo, hehehe." Zarina kembali terkekeh dengan prinsip dasar suaminya.


"Tapi kamu emang harus belajar masak dari sekarang. Kamu 'kan akan menikah sayang," lanjut Zarima seraya menatap lurus wajah sang putri yang sedang menikmati bubur ayam buatannya itu.


"Ngapain pintar masak bund. Kalau di Luar sana banyak warung."


"Ih kamu ya, Laki-laki tuh suka kalau istrinya pintar masak. Kayak Ayah tuh, gak mau kemana-mana kalau gak makan masakan bunda."


"Bunda, sekarang itu zaman udah modern. Ada banyak penjual makanan di luar sana yang juga butuh konsumen. Jadi kalau kita semua pada masak di rumah maka perputaran ekonomi di dunia ini akan macet. Tidak ada lagi yang membeli jualan mereka. Itu kata Pak Radith saat ups!" Jovanka tiba-tiba menutup mulutnya saat mengucapkan nama Radit Aditya sang dosen.


"Bagus banget teorinya tuh pak dosen. Bisa-bisa semua Mahasiswa seperti kamu yang tahunya jajan tambah seneng." Zarina tersenyum samar.


"Bukan begitu bunda. Maksudnya Pak Radith itu, kita sebagai konsumen harus menyenangkan para penjual itu. Itung-itung membantu perputaran ekonomi sekaligus bersedekah pada penjualnya."

__ADS_1


"Serah deh apa maksud dari pak dosen mu itu. Yang jelasnya kamu kudu pintar masak juga. Kalau tiba-tiba nih ya semua penjual pada liburan, kamu makan apa coba?"


"Makan intel kocok bunda. Aku pintar kok bikin itu. Dan rasanya maknyus."


"Ya jelas lah kalau cuma itu. Semua orang juga bisa hadeh."


"Hihihi," Jovanka cekikikan sendiri melihat ekspresi bundanya.


"Piss bunda," ujar gadis itu seraya mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya di depan wajahnya.


"Eh ngomong-ngomong, kamu kan udah liburan nih habis final test. Kamu gak mau jengukin Ruby sayang?" tanya Zarina dengan tatapan lurus pada wajah sang putri.


"Gak deh Bunda. Gak mood. Aku maunya liburan bersama dengan teman-teman.


"Kamu gak rindu sama anak itu sayang?"


"Rindu Bunda. Tapi kan mama kandungnya ada disana, jadi pasti Ruby udah lupakan Aku." Jovanka mengangkat mangkuk dan gelas bekas makannya itu untuk dibawa ke dapur.


Zarina mengikutinya dari belakang. Perempuan itu semakin mengerti permasalahan yang dialami putrinya itu. Dan suamimya benar. Rencana pernikahan ini harus ditinjau ulang lagi kalau Radith Aditya benar-benar tidak serius menentukan posisi perempuan itu di dalam keluarganya.


🌺


Felicia muncul di depan Radith Aditya untuk ikut mengantar Ruby pulang. Akan tetapi pria itu tidak mengizinkannya.


"Sejak saat kamu meninggalkan kami, nama dan apapun yang berhubungan denganmu sudah aku kubur Fel, jadi kembalilah seperti dulu. Kamu lupakan kami seperti kami juga melupakanmu."


"Mas, kamu tega ya, mau memisahkan ibu dan anak kandungnya."


"Pergilah Fel. Jangan buat Aku pusing."


"Aku tidak akan pergi mas. Karena Aku masih istrimu. Ikatan kita belum terpisah. Nama kita masih tercatat di Kantor Urusan Agama kalau kita masih suami-istri."

__ADS_1


"Terserah padamu. Kalau kamu tidak percaya kalau Aku sudah lama membuang kamu dalam hidup ku. Sekarang dengarkan Aku baik-baik. Aku Radith Aditya menceraikan kamu Felicia binti Abdul Aziz!"


Felicia menutup mulutnya tak percaya mendengar kata-kata kejam dan sakral itu diucapkan oleh seorang Radit Aditya yang masih ia harapkan.


"Mas, kamu kejam sekali!" Felicia menjerit keras dengan perkataan pria itu padanya.


"Kamu lebih kejam daripada Aku Fel. Sekarang pergilah dari hadapanku. Aku sungguh tak ingin melihat wajahmu ada di sini." Radith Aditya mendorong perempuan itu agar menjauh darinya. Ia sungguh tidak punya lagi perasaan pada perempuan itu kecuali hanya rasa benci yang tersisa.


"Mas!"


"Kamu akan mendapatkan surat dari Pengadilan Fel. Kita akan bertemu disana saja. Sampaikan semua yang ingin kamu sampaikan di tempat itu."


Radit Aditya segera meraih tubuh putri kecilnya untuk ia gendong keluar dari kamar perawatan itu. Bik Mina yang ada di sana bersama dengan Kang Udin ikut membantu membawakan barang-barang mereka.


"Ruby sayang," panggil Felicia dengan tangis diwajahnya. Ia ingin meraih tangan gadis kecil itu tetapi sekali lagi tangannya ditepis oleh Radith Aditya.


"Mama Feli kenapa nangis Pa?" tanya Ruby dengan tatapan tak berpindah dari sosok perempuan yang sedang menangis di belakang mereka.


"Gak usah dilihat sayang. Kita akan pulang ke Rumah dan bertemu dengan eyang."


"Tapi, Luby kasihan sama Mama Feli Pa." Radith Aditya tidak lagi ingin membalas perkataan putrinya. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang ke Rumahnya untuk beristirahat. Yang jelasnya ia akan segera menggugat cerai Felicia secara resmi di Pengadilan Agama agar urusan pernikahannya dengan Jovanka segera bisa terlaksana.


"Papa, apa Mama Feli akan sakit kalau ia banyak menangis sepelti Luby dulu?"


"Tidak sayang. Mama Feli itu dokter jadi ia tidak akan sakit. Udah ya, sekarang kita pulang dan kembali bermain di Rumah, Okey?"


"Baiklah Pa," jawab gadis kecil itu dengan pikiran masih saja berada pada Felicia. Entah kenapa ia sangat kasihan melihat perempuan itu bersedih.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2