
" Ru by dimana kamu?" teriak Radith Aditya sembari membuka semua pintu-pintu kamar yang ia lalui. Suaranya yang memanggil-manggil membuat orang-orang yang sedang bersembunyi itu semakin tegang.
Bukan hanya Ruby saja yang semakin tegang, Bik Mina juga tak kalah tegangnya. Akan tetapi tidak bagi Jovanka, perempuan itu malah dengan santainya berdiri di belakang pintu mengintip dan sebentar-sebentar berbalas chat dengan teman-temannya.
Tring
Radit Aditya tersenyum samar saat mendengar bunyi notifikasi dari arah kamarnya. Ia yakin ada seseorang yang paling ia cari selama ini. Langkahnya pun ia alihkan ke dalam kamarnya dengan pelan.
Pria itu mendorong pintu dengan tak bersuara. Matanya berbinar senang saat mendapati Jovanka sedang asyik menghadapi handphonenya sendiri.
Dengan cepat ia memeluk perempuan cantik itu dari belakang dan menciumi tengkuknya. Ya, rambut Jovanka sekarang sedang diikat layaknya ekor kuda. Jadi ia bisa mengeksplor leher putih dan jenjang itu dengan bibirnya.
"Aaaaa Masss," Perempuan cantik itu mendessah pelan saat Radit semakin berhasrat saja menciumi bahunya.
"Jovanka sayangku," bisik Radith Aditya dengan suara bergetar.
"Mass," balas sang istri dengan suara rendah. Ia tidak bisa tak mendessah nikmat karena tangan Radith Aditya sudah bergerak ke dalam tanktop nya dan meremas dua bongkahan daging kenyal yang dimilikinya.
"Mas, apa kamu sudah menemukan Ruby?" tanya Jovanka ketika tersadar kalau mereka sekarang sedang main petak umpet.
"Aku hanya ingin bersamamu Jo, biarkan Ruby dengan Bik Mina sayang," jawab Radith Aditya seraya membalik tubuh istrinya agar mereka bisa saling berhadapan.
"Tapi Mass,..." Jovanka tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Sang suami yang penuh gairah itu tak membiarkan bicara lagi. Ia langsung membungkamnya dengan bibirnya.
Jovanka tak berkutik. Ia pasrah saja dengan ikut membalas permainan lidah suaminya di dalam mulutnya. Mereka saling bertaut tanpa ada yang mau saing mengalah.
Tangan Radith Aditya tak tinggal diam. Ia bergerak mengelus paha sang istri dengan sangat lembut dan berirama. Mereka berdua benar-benar sedang terbakar gairah yang tak terbendung.
Sedangkan Ruby dan Bik Mina yang sejak tadi merasa sangat tegang karena mendengar suara sang pencari kini saling berpandangan.
__ADS_1
"Bik, mana Papa? kenapa tidak cali Luby lagi?" tanya gadis kecil itu seraya berdiri dari posisinya yang tadi berjongkok di bawah meja bersama dengan Bik Mina.
"Oh, mungkin sedang mencari Mama Jo sayang." Bik Mina menjawab dengan memberikan alasan.
"Oh gitu ya? Tapi Papa kok tidak kedengalan lagi sualanya?" Ruby terus bertanya dengan kuping yang ia pasang agar bisa mendengar suara papanya.
"Iya ya?" Bik Mina ikutan berpikir keras.
"Ayo bik, kita cali Papa sama Mama Jo," ujar Ruby dengan tangan menarik perempuan tua ia berdiri. Mereka keluar dari kamar dan mencari-cari dua orang yang tidak kelihatan dimana-mana di dalam rumah itu.
"Pa pa Ma ma kalian dimana?!" Ruby berteriak sembari mendatangi semua ruangan satu-persatu. Sementara itu di sebuah kamar dimana dua orang sedang memadu kasih.
Jovanka merasakan tubuhnya sudah sangat lemas. Ia ingin melorot kebawah karena tidak kuat menahan serangan-serangan yang diberikan oleh suaminya. Rupanya Radith Aditya sangat jago berciuman. Ia sampai kewalahan membalasnya.
"Mass, aaaah," dessah Jovanka saat tangan suaminya sudah bergerak ke bagian inti dirinya. Ia tak tahan lagi dan akhirnya mencengkram bahu suaminya.
"Pa pa ! Ma ma Jo! Huaaaaa, Papa Mama!"
"Mas, ada Ruby di luar." Jovanka tersentak. Ia langsung mendorong tubuh suaminya yang sedang asyik mempermainkan pucuk merah muda miliknya.
"Jo, nanggung banget sayang," ujar Radith tak rela.
"Aku mau lihat Ruby dulu mas, maaf. Kita lanjutkan sebentar saja ya," ujar perempuan itu seraya memakai cepat pakaiannya.
"Papa Mama!" Terdengar kembali suara Ruby berteriak dari depan pintu kamar yang terkunci itu setelah beberapa menit menghilang.
"Bantu Aku mas," ujar Jovanka meminta suaminya mengaitkan kembali pengait penyanggah dua buah asetnya. Radit Aditya pun membantu Jovanka dengan tak rela.
"Sayang, tuh Ruby udah gak ada. Dia pasti akan capek sendiri kalau gak menemukan kita," ujar Radit Aditya dengan wajah frustrasinya. Sungguh hasratnya saat ini sedang berada di atas puncak. Dan ia benar-benar tersiksa jika ini dihentikan ditengah jalan.
__ADS_1
"Mas, ayolah. Kamu tahu Aku juga sangat ingin. Tapi Ruby sedang mencari kita," ujar perempuan itu seraya menyentuh rahang sang suami. Ia pun mengecup bibirnya dengan lembut kemudian bersiap berdiri. Akan tetapi tangannya ditarik lagi oleh pria itu.
"Ruby tidak akan mencari kita sayang, tolong," pinta Radit Aditya memohon. Ia pun mengarahkan tangan istrinya itu untuk menyentuh miliknya yang sedang memberontak didalam boksernya. Jovanka tersenyum karena merasakan sesuatu yang sangat keras dibalik kain yang sedang dipakai oleh suaminya.
"Mas, pengen," ucap Jovanka terpengaruh. Ia mulai mengelus bagian itu dengan penuh kasih sayang dengan gairah yang membuncah. Radit Aditya semakin tersiksa dibuatnya.
"Aku lihat Ruby dulu ya Mas, gak enak juga kalau kita sedang diperjalanan terus dia datang lagi mengganggu."
"Ah iya, pergilah. Jangan lama-lama ya," ujar Radit Aditya memberi izin. Jovanka tersenyum kemudian segera bangun dari tempatnya. Ia meninggalkan suaminya di ranjang itu setelah merapikan rambut dan pakaiannya agar tampak tak pernah terjadi apa-apa dengannya.
Radit Aditya menarik nafasnya panjang kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya setelah membuka pakaian bagian bawahnya yang sudah sesak karena si piton semakin besar dan juga kuat. Ia berharap sekali Jovanka akan datang padanya secepatnya.
"Mama Jo?! Dali mana? Luby cali-cali sedali tadi." Protes Ruby.
"Oh Mama lagi di kamar tadi. Ada urusan penting sama Papa."
"Oh ya? Jadi Papa ada di Kamal?" tanya Ruby dengan tangan sibuk menyusun mainannya. Jovanka tersenyum dengan perasaan menyesal. Ya ia menyesal meninggalkan kegiatan yang menyenangkan tadi karena Ruby tenyata sudah melupakan permainan petak umpetnya. Gadis kecil itu sedang sibuk bermain lagi.
"Mama minta izin lanjutkan Pe Er nya Mama sama Papa ya sayang, kamu main aja dulu." Jovanka mengelus lembut pucuk kepala gadis kecil itu.
"Pe El? Luby mau ikut kelja Pe El." Jovanka menggigit lidahnya karena ia terjebak oleh kata-katanya sendiri.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1