
Radith Aditya menggeliat pelan kemudian membuka matanya perlahan. Tubuhnya ia rasakan tak bisa bergerak karena sesuatu yang sedang menindihnya. Beberapa detik ia mengumpulkan nyawanya dan menyadari kalau Jovanka yang sedang memeluk tubuhnya dengan sangat posesif.
"Jo, kamu disini sayang?" tanyanya seraya mengecup lembut pucuk kepala sang istri.
"Mas, hoaamm..." Jovanka menguap kemudian ikut bangun.
"Tidurlah lagi," ujar Radith karena melihat istrinya tampak masih sangat mengantuk.
"Hem iya," jawab perempuan cantik itu kemudian membaringkan tubuhnya lagi disamping suaminya dan melanjutkan memeluk tubuh pria itu.
Radith Aditya tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena sekarang ini ia kembali menyempurnakan separuh dari agama yang pernah gagal ia lakukan.
Tangannya mengelus lembut punggung Jovanka berharap istrinya yang cantik itu melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Akan tetapi, niatnya itu hanyalah tinggal niat. Jovanka dan si piton malah tidak bisa tidur dengan aksi tangannya. Mereka berdua menggeliat gelisah dan sangat tersiksa.
"Jo, kamu tidur ya?" tanyanya dengan perasaan yang mulai tidak nyaman. Sebuah rasa yang sangat menyiksa sepertinya sedang ingin mencari pelepasan.
Gelenyar aneh sedang berkejaran dari dalam pembuluh darahnya sekarang. Ia menyentak dan membuat piton raksasanya ingin mendapatkan kehangatan.
"Mas, kamu juga tidak tidur?" tanya Jovanka yang juga merasakan hal yang sama. Kulitnya ia rasakan mulai meremang.
"Jo," panggil Radith dengan suara bergetar menahan hasrat yang sudah mulai ingin dilepaskan.
"Mass," Jovanka ikut menyebut nama suaminya dengan suara parau. Ia pun membangunkan tubuhnya dan menatap wajah Radith Aditya yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Pria itu ikut bangun dan mulai meraih bibir istrinya dan mengulumnya dengan sangat lembut. Tangannya menekan tengkuk Jovanka agar bisa mengeksplorasi bibir dan mulut perempuan yang sudah sah ia sentuh itu.
Lama mereka saling bertaut dan melepaskan rasa yang sangat menyiksa itu sampai Jovanka merasa kehabisan oksigen, ia mendorong tubuh suaminya. Ia menatap mata Radith yang sedang berkabut gairah.
"Jo, bibirmu manis sekali sayangku," bisik Radith kemudian meraih kembali daging tak bertulang itu kedalam kuasanya.
Tangannya tak tinggal diam dan mulai bergerak ke dalam pakaian tidur sang istri. Ia mengelus lembut punggung perempuan cantik itu dan melepaskan pengait bra yang sedang dipakainya.
"Jo, kamu cantik sekali sayangku," pujinya dengan mata berbinar ketika tubuh Jovanka sudah berhasil ia buat tampil polos dihadapannya. Jovanka menunduk malu seraya menutupi bagian depannya yang sudah tak berpenghalang sedikitpun.
"Jo, kenapa ditutup, Hem. Aku suka melihatnya sayang," ucap Radith Aditya dengan suara rendah. Tangannya segera meraih tangan Jovanka yang sedang menutupi dua buah benda kenyal putih yang sedang menantangnya untuk dieksplor.
"Mas, Aku malu," ucap sang istri seraya tersenyum malu-malu. Radit Aditya ikut tersenyum. Wajah Jovanka begitu sangat menggemaskan dimatanya. Ia pun membaringkan tubuh istrinya itu kemudian meremass dua bongkahan daging putih dan sangat kencang itu dengan kedua tangannya. Jovanka menutup matanya dengan tangan ikut meremass bed cover yang berada di bawah tubuhnya. Bibir bawahnya ia gigit keras saat ia merasakan bibir suaminya sudah mengulumm lembut pucuk merah mudah miliknya.
"Masss, Aaaaaakh," akhirnya ia tidak tahan. Dessahan itu keluar juga dari mulutnya karena lidah suaminya begitu lihai mempermainkannya. Radith Aditya semakin terbakar. Ia sangat suka mendengar suara Jovanka. Ia tak berhenti di sana. Semua permukaan kulit istrinya ia sentuh dan ia kecup dengan sangat lembut.
Pitonnya pun sudah berdiri menjulang dengan gagah berani. Ia siap menyerang dan menyemprotkan bisa beracun di dalam istana yang sangat cantik dan indah dihadapannya.
Desh
"Aaaaakh hummm masss!" Jovanka tak sadar berteriak saat si piton melesak kedalam dan berusaha merobek selaput daranya. Jovanka memberontak dan berusaha mendorong tubuh suaminya.
"Jo, tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja, okey?" bisik Radith Aditya seraya menenggelamkan kembali bibirnya ke dalam bibir isterinya. Ia berusaha memberikannya sebuah rayuan agar Jovanka tidak menolaknya yang sedang dalam perjalanan.
Jovanka kembali diam meskipun ia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Rasa perih begitu sangat terasa di bagian bawahnya. Ia merasa sangat sesak.
__ADS_1
"Jo, lihat aku sayangku. Aku sangat mencintaimu. Kita akan menikmatinya berdua," bisik Radith seraya menggerakkan kembali si piton raksasa yang sedang dijepit dengan sangat keras oleh milik Jovanka.
Perempuan yang sedang meringis itu berusaha untuk tersenyum meskipun ia sangat kesakitan. Ia sangat kasihan pada suaminya yang sedang berjuang untuk membobol pertahanannya.
"Jo, MasyaAllah kamu sempit sekali sayangku," erang Radit Aditya dengan peluh yang membanjiri seluruh wajahnya. Saat ini ia sedang sangat tersiksa dan juga merasa nikmat secara bersamaan.
"Aaaargh!" Pria tampan itu melenguh panjang saat ia berhasil merobek selaput dara sang istri. Jovanka tak mau kalah. Ia bahkan mencakar punggung suaminya saat ia merasakan perasaan yang sangat sakit pada inti dirinya.
"Mass, gak mau lagi.. sakit masss," Rajuk Jovanka berusaha untuk memberontak kembali. Ia memohon ampun dan tak mau lagi.
"Jo, plisss sayangku. Aku belum sampai. Tahan dulu ya?" Radit Aditya menghentikan hentakannya dibawah sana. Ia menunggu persetujuan istrinya. Jovanka terdiam dengan air mata yang menetes dari sudut matanya. Ia ingat perkataan bundanya untuk bisa melayani suaminya dengan sangat baik. Karena bukan cuma surga dunia yang akan didapatkannya akan tetapi surga yang abadi di akhirat kelak akan ia rasakan juga.
Radit Aditya tersenyum bahagia saat istrinya itu mengangguk meskipun dengan wajah meringis. Pria itu kembali mendorong si piton raksasa maju mundur cantik dengan tangan tak tinggal diam. Ia juga ikut aktif meremass dua bukit dihadapannya dengan sangat lembut dan berirama.
Radit Aditya merasa hidupnya sempurna. Hasratnya sudah tersalurkan di tempat yang halal lagi diberkahi. Tak ada kata lain selain kata syukur. Apalagi saat pitonnya terasa dicekik dan menang dalam pertarungan di dalam gua hitam, dalam, dan juga berbahaya.
Piton itu berhasil menyemprotkan bisanya yang sangat kental dan beracun. Ia keluar dari sana dan berhasil membuat gua itu kebanjiran dan masih sangat kuat tegak berdiri.
Akhirnya ia masuk lagi membuat keributan karena sang pemilik istana sepertinya belum rela dan baru menikmati enaknya serangan itu pada serangan yang kedua.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya π