
Hari itu Ruby merasakan sebuah keluarga yang sangat lengkap. Ada Papa, Mama Jo, dan juga eyang yang menemaninya sepanjang hari. Dari pagi sampai sore mereka terus bersama.
Gadis kecil itu selalu saja meminta perhatian semua orang. Dari makan harus disuapi, bermain pun minta ditemani, hingga membuat pasangan pengantin baru itu jadi tak punya waktu untuk berdua saja.
Radit Aditya hanya bisa menarik nafas panjang. Ia masih merasa sangat penasaran dengan rasa Jovanka yang telah membuatnya selalu berdebar jika melihat istrinya itu bermain dengan Ruby.
Pitonnya selalu ia rasakan berkedut dan menggeliat tak nyaman jika mata mereka tak sengaja berada pada satu titik yang sama. Apalagi penampilan istrinya sore itu benar-benar membuatnya tak bisa berkedip. Matanya terasa mendapatkan vitamin yang sangat menyegarkan.
Jovanka hanya menggunakan rok mini dan juga tanktop sebagai atasannya. Ruby juga menggunakan pakaian yang sama. Mereka berdua bagaikan teman sekelas yang akan melakukan sebuah pementasan bersama di atas sebuah panggung.
Untungnya tak ada laki-laki lain di rumah itu selain dirinya. Hingga ia tidak merasa was-was ataupun takut, miliknya itu bisa dinikmati oleh mata orang lain.
"Mas, ini teh sama pisang gorengnya," ujar Jovanka seraya meletakkan satu cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng kipas di atas meja di depan Radith Aditya. Pria itu tersenyum samar seraya berucap dengan suara yang sangat rendah bagaikan bisikan.
"Kamu sengaja menggodaku sayang, Hem?" Matanya tak lepas dari belahan dada Istrinya yang sangat nampak menggoda dirinya. Ya, Jovanka meletakan makanan dan minuman itu dalam keadaan dengan membungkukkan badannya di depan suaminya.
"Kamu merasa tergoda Mas?" tanya Jovanka dengan tatapan berbeda pada pria yang telah menikahinya itu.
"Jo, kamu ya," jawab Radith Aditya dengan tangan ia kepalkan diatas pangkuannya. Ingin sekali ia menyentuh istrinya itu sekarang juga tapi apa daya ada Rania sang Mama yang juga berada di ruangan itu.
"UPS, maaf Mas, hihhi." Jovanka segera menjauh dengan tawa cekikikan. Ia tertawa senang karena bisa melihat suaminya tampak sangat frustasi.
"Mama Jo, main petak umpet dong." Ruby berteriak dari arah depan televisi. Rupanya ia sedang menonton acara kartun Upin dan Ipin yang sedaap main sembunyi-sembunyi bersama dengan teman-temannya.
Jovanka mendekat. Ia menghampiri putri kecilnya itu dan berniat mengikuti permintaannya. Sedangkan Radit Aditya hanya memandang mereka dari jauh. Tiba-tiba ia merasa seperti seorang kakak laki-laki yang sedang mengawasi dua orang adik perempuannya dari jauh. Ia tersenyum dan merasa sangat bahagia.
"Gak seru main petak umpetnya kalau cuma berdua sayang," ujar Jovanka memberikan pendapatnya.
"Bik Mina dan eyang boleh ikutan kok," balas gadis kecil itu seraya memandang dua orang yang sedang ikut menonton tayangan televisi di sore itu.
"Hahaha jangan dong ah, kasihan sama eyang sama bik Mina."
"Bagaimana kalau Papa Ma," ujar Ruby sembari melempar pandangannya ke arah Radith Aditya yang juga sedang memandangi mereka berdua.
__ADS_1
"Coba aja tanya sayang, siapa tahu mau 'kan ya?" Jovanka mendorong pelan tubuh kecil putrinya untuk meminta bantuan pada sang Papa. Ruby pun berlari ke arah pria yang dimaksud.
"Papa, mau kan ikutan main petak umpet sama Mama, sama Luby, Plis?" Ruby memohon dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu. Radit Aditya sampai tertawa dibuatnya.
Ia menyentuh kedua bahu sang putri dengan pelan lalu berucap.
"Sayang, gimana sih caranya main petak umpet?"
"Ih Papa masak gak tahu sih? petak umpet itu main sembunyi-sembunyi. Kayak itu tuh. Upin sembunyi di bawah kolong.Temanya juga kayak gitu Pa." Ruby menjelaskan dengan wajah serius. Radith Aditya kembali tersenyum.
"Oh kayak gitu?" tanyanya dengan pandangan ia arahkan pada Jovanka yang berdiri tak jauh dari dirinya saat ini.
"Iya dong Pa, ayo cepetan kita main." Ruby segera menarik tangan sang Papa agar berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu sayang, Papa mau minum teh buatan Mama Jo dulu." Radith Aditya mengangkat tubuh kecil itu keatas pangkuannya. Ia meminum teh hangat itu sampai habis.
"Udah Pa?"
"Ih Papa lama banget sih? Luby kan udah gak sabal mau main." Wajah Ruby sudah nampak sangat kecewa. Bibirnya manyun karena sang Papa malah sangat sibuk memakan pisang goreng kipas itu.
"Nih udah." Radit Aditya pun mengangkat tubuh putrinya menghampiri Jovanka.
"Bik Mina boleh ikutan gak?" tanyanya pada Bibik yang sedang menemani Mamanya menonton sinetron di sebuah stasiun televisi swasta.
"Ah iya Tuan." Bik Mina langsung berdiri dari duduknya. Ia menghampiri ketiga orang itu dengan tubuh membungkuk hormat.
"Maaf, Tuan bilang apa tadi?" tanya perempuan tua itu dengan wajah bingung. Sebenarnya ia tidak mendengar baik apa yang dikatakan oleh pemilik rumah itu padanya.
"Bibik ikutan main petak umpet ya, supaya ramai dan seru." jelas Radith Aditya dengan senyum diwajahnya.
"Ah iya Tuan. Beres lah itu. Gini-gini bibik juga jago bersembunyi lho," ujar perempuan tua itu dengan perasaan jumawa. Jovanka tersenyum melihat ekspresi asisten rumah tangga di rumah suaminya itu.
"Kita lihat saja, siapa yang paling jago bersembunyi dan menemukan, ayo kita suit!" Radit Aditya mulai memimpin permainan.
__ADS_1
"Hom pimpa Alai honggamreng!"
"Papa!" Ruby berteriak nyaring karena Papanya yang akan dapat giliran mencari semua orang.
"Baiklah. Ayo cepetan sembunyi," ujar Radit Aditya kemudian mulai menghitung. Ia menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, ..." Ia terus menghitung sedangkan yang lain lari bersembunyi.
"Sudah belum?" tanyanya dengan suara yang agak keras.
"Sudah belum?" tanyanya lagi seraya berjalan berkeliling. Ia mencari tiga orang itu di dalam ruangan rumahnya yang cukup luas. Lama ia mencari dan tidak ketemu akhirnya ia kembali duduk di kursinya tadi untuk melanjutkan memakan pisang goreng kipasnya.
"Radit! Kok gitu sih? kasihan tuh yang udah capek-capek bersembunyi." tegur Rania dengan senyum diwajahnya.
"Tanggung nih Ma, pisangnya legit dan enak banget."
Radit!" Rania sampai bersuara agak keras karena putranya itu dengan santainya masih duduk di situ padahal ia tahu kalau yang bersembunyi pasti sedang tegang.
"Kasih tahu lah Ma, dimana mereka," rajuk pria itu dengan wajah memelasnya. Rania tersenyum. Ia lalu memberikan kode pada putranya itu untuk menemukan Ruby didalam kamarnya.
"Ruby, sayang...Papa datang!" teriaknya dengan suara dibuat horor.
"Ruby, itu papa, jangan ribut ya?" bisik Bik Mina dengan suara rendah. Ia semakin memeluk gadis kecil itu yang sedang sangat tegang.
"Ru...by..."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1