
Liburan panjang setelah final test ternyata sangat membosankan bagi Jovanka. Tak ada kegiatan berarti yang ia lakukan setiap harinya. Ketiga sahabatnya sudah kembali ke daerah masing-masing. Hingga tersisa dirinya yang tidak tahu harus melakukan apa. Bolak-balik kamar dan Dapur ia lakukan dan berhasil membuat bobot tubuhnya bertambah.
"Kenapa Aku jadi kangen sama Ruby ya?" tanyanya pada dirinya sendiri saat melihat seorang gadis kecil sedang bermain piano di dalam layar Televisi di hadapannya.
"Ah, Aku samperin ke sekolahnya deh. Daripada di Rumah aja, bosan banget," ujarnya kemudian segera memakai sebuah sweater rajut untuk menutupi kaosnya yang terbilang cukup ketat dan pendek. Sebuah celana panjang ia gunakan agar lebih mudah bergerak saat ia mengendarai motor milik Jefrey sang adik.
"Bunda, Jefrey ada gak?" tanyanya pada Zarina saat ia sudah keluar dari kamarnya.
"Baru saja keluar. Katanya mau ke rumah temannya." Rania menjawab seraya memandang putrinya yang sudah nampak cantik dengan penampilannya saat ini. Celana panjang dengan sweater rajut lumayan bisa menutupi tubuhnya yang seksih berisi.
"Kamu mau kemana kok cantik banget sih?"
"Kangen sama Ruby. Pengen ngajak jalan ke Mall setelah pulang sekolah."
"Wah, kangen sama Ruby atau Papanya nih?" goda sang bunda dengan senyum diwajahnya.
"Ih Bunda suka godain. Aku beneran mau bawa anak itu main di Time Zone sesuai janji Aku waktu itu."
"Ya boleh deh, tapi tetap harus izin dulu sama Papanya ya?"
"Gak mau. Aku nanti izin sama Bu Rania aja. Masih malas banget sama di duda itu."
"Lho lho lho, kok ngomongnya kayak gitu? Gak sopan nak."
"Iya deh bunda, Maaf. Jadi Aku pake apa dong ke sekolahnya Ruby?" Jovanka melipat tangannya di depan wajahnya meminta maaf atas perkataannya.
"Tuh, ada Zain. Kamu minta tolong aja pinjam motor atau minta diantar ke sana."
"Kak Zain bisa pinjam motor gak?" tanya gadis itu seraya menghampiri pria yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Aku juga mau pergi sih? Kamu mau kemana? Entar Aku bawa." Zain menjawab seraya berjalan ke arah pintu.
"Mau ke Sekolahnya Ruby Kak. Gak ngerepotin 'kan?"
"Sebenarnya sih merepotkan banget tetapi karena kamu adalah calon istri dari pak Doktor ya Aku kabulkan deh."
__ADS_1
"Ish apaan coba!" Jovanka memukul lengan sepupunya itu dengan bibir mencibir.
"Lah emang benar kan?" Zain tersenyum samar dengan ekspresi sepupunya itu.
"Udah, ayo cepetan kak nanti Ruby keburu pulang lagi." Jovanka merasakan pipinya menghangat bahagia akan tetapi ia berusaha menutupinya.
"Kami berangkat bunda!," teriak Jovanka seraya melambaikan tangannya kepada Zarina.
"Hati-hati Zain. Jangan ngebut!" Perempuan itu balas berteriak karena tahu bagaimana kalau Zain berkendara.
πΊ
Sementara itu, di sebuah rumah di gang Seruni. Radith Aditya memandangi handphonenya dengan perasaan campur aduk. Ia rindu pada Jovanka tetapi gadis itu sama sekali tidak pernah mau mengangkat sambungan teleponnya.
Perasaan rindunya kini begitu menyiksanya. Akan tetapi Ia tidak punya cara untuk bertemu karena mahasiswa juga sudah libur setelah final test.
"Jo, kamu tega padaku." Pria itu berujar dengan tangan mengusap seluruh permukaan wajahnya. Ia menarik nafas panjang
"Aku tidak mungkin datang ke Rumahmu kalau kamu saja tidak ingin bertemu." Ia berbicara sendiri dengan pikiran kacau. Akhirnya ia bangun dari duduknya.
Radit pun meraih kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Mau kemana Radit?" tanya Rania sang Mama.
"Mau menjemput Ruby Ma. Kang Udin tolong dikasih tahu supaya gak usah ke sana." Radith menjawab kemudian berlalu dari hadapan ibunya.
"Jovanka barusan nelpon Dit." Langkah pria itu berhenti. Ia berbalik dan menatap Mamanya dengan tatapan tanya.
"Ia meminta izin membawa Ruby ke Time Zone. Katanya mau nepatin janjinya pada putrimu." Radit Aditya tersenyum. Perasaannya sangat bahagia karena akhirnya gadis itu datang menemui Ruby.
"Kalau gitu Aku langsung berangkat ke sana Ma," ujar pria itu dan langsung meninggalkan sang Mama dengan langkah ringan. Nampak sekali kalau hatinya sangat senang saat ini.
Bibirnya tak berhenti tersenyum karena sebentar lagi akan bertemu dengan gadis yang sangat menggangu malam-malam sepinya beberapa hari ini.
Ia langsung mengarahkan mobilnya ke arah sekolah Ruby setelah melihat jam tangannya.
__ADS_1
"Ruby belum pulang, jadi Aku bisa sekalian mengikuti mereka ke Time Zone," gumam pria itu dengan wajah bahagia. Aaaa Rasanya ia sudah tidak sabar bertemu dengan Jovanka.
Tak kurang 15 menit berkendara. Ia pun sampai di depan sekolah putrinya.
Belum juga ia turun dari mobilnya, ia sudah melihat Jovanka keluar dari area sekolah sendirian dengan langkah cepat. Wajahnya menunduk dan tampak menangis.
Segera ia turun dari mobilnya dan menarik tangan gadis itu yang kebetulan melewatinya.
"Jo, ada apa?" tanyanya dengan wajah khawatir. Ia langsung membuka pintu mobilnya dan meminta gadis itu naik."
"Aku tidak mau Pak. Aku mau pulang saja," tolak gadis itu dengan bertahan tidak ingin naik ke mobil.
"Jo, semua orang melihat kita sayang, ayo naik dulu. Kita akan bicara di tempat lain." Radith Aditya menatap gadis muda itu dengan tatapan memohon. Ia tahu kalau sekarang ia harus lebih banyak mengalah.
Mencintai seorang gadis yang masih terbilang remaja itu haruslah ekstra sabar. Jovanka luluh. Ia menyusut airmatanya kemudian naik ke mobil dosen sekaligus adalah calon suaminya itu. Radith Aditya membawa mobilnya ke sebuah tempat yang agak sepi agar bisa mengobrol dengan bebas.
"Kenapa menangis Jo?" Pria itu bertanya seraya menatap wajah kekasih hatinya itu dengan tatapan rindu dan sayang.
"Ruby udah melupakan Aku Pak. Ia lebih memilih bersama dengan Mama kandungnya, hiks," jawab gadis itu dengan perasaan yang sangat sedih.
"Kok bisa?" tanya Radith Aditya dengan wajah tak percaya. Setahunya Ruby setiap saat selalu menanyakan tentang calon mama sambungnya ini.
"Dokter Felicia ada di sana Pak. Dan Ruby lebih memilihnya daripada Aku, hiks," jawab Jovanka dengan perasaan yang sangat sedih. Sungguh ia sangat kecewa dengan perubahan yang terjadi pada Ruby.
"Sekarang Aku ingin pulang saja. Aku tidak akan menggangu hubungan bapak dengan mama kandungnya Ruby."
"Jo!?"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya π
__ADS_1