Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 68 Harapan Sembuh


__ADS_3

Malam itu Cici dan Naomi mendampingi Mini di ruang ICU. Mereka ikut bersimpati atas musibah yang sedang menimpa pasangan kekasih itu.


"Sabar Min, jangan nangis terus dong, nanti kamu ikut sakit lho," ucap Cici seraya mengelus lembut tangan sahabatnya itu. Mini hanya tersenyum dengan terpaksa. Ia tidak ingin lagi menangis tapi ia juga sedang sangat sedih saat ini.


"Kamu minum susu dulu ya," ucap Naomi seraya menyerahkan sebotol susu segar untuk penambah tenaga bagi sahabatnya itu.


"Makasih banyak. Kalian adalah sahabat terbaik. Kalau gak ada kalian, gimana aku bisa menghadapi ini semua?" Mini kembali menyusut airmatanya. Hatinya sangat terharu dengan kebaikan sahabat-sahabatnya.


"Itulah gunanya sahabat. Satu yang sakit yang lainnya pun ikut sakit. Ayo minum dulu biar kamu gak loyo. Kak Iyon sedang ditangani dokter terbaik jadi kamu gak usah khawatir." Naomi masih berusaha membujuk sahabatnya itu untuk memakan dan meminum sesuatu. Roti pun ia sodorkan karena ia tahu kalau gadis itu pasti belum makan apa pun sejak pulang dari kampus.


Mini tersenyum. Meskipun ia tidak merasa lapar tapi ia harus makan dan minum agar tidak sakit. Zion membutuhkan dirinya yang kuat. Gadis itu pun membuka kemasan susu putih itu dan meminumnya setelah menyebut nama Allah.


"Hai, ladies. Gimana kabarnya Zion?" Zain tiba-tiba muncul di hadapan mereka bersama dengan Boby. Mereka langsung duduk dihadapan tiga gadis itu.


"Belum sadar juga kak setelah operasi," jawab Mini dengan wajah sedihnya.


"Insyaallah, semua baik-baik saja kok. Kita semua ikut mendoakan kesembuhan Zion," ucap Zain dengan tarikan nafas beratnya.


"Aamiin ya Allah. Makasih banyak Kak." Mini menyusut kembali air matanya yang rasanya tidak mau berhenti mengalir.


"Tuh nangis lagi. Habiskan cepat tuh susu sama rotinya. Malam ini kita akan nginap semua kok disini, iyyakan kak Zain?" ujar Cici seraya melemparkan pandangannya kepada Mini dan Zain, kekasihnya.


"Iya, Aku sama Boby udah bawa perlengkapan tidur di mobil." senyum Zain membuat gadis-gadis itu merasa sangat lega.

__ADS_1


Seorang dokter yang sedang menangani Zion tiba-tiba keluar dari ruangan ICU bersama dengan Mami Rossy. Kelima orang itu langsung berdiri dari tempatnya. Mereka menghampiri sang dokter untuk mendapatkan informasi atau kabar terkini tentang perkembangan kesehatan Zion.


"Dokter, bagaimana keadaan Kak Iyon?" tanya Mini dengan rasa khawatir yang belum juga surut dari dalam hatinya.


"Saudara Zion mengalami gegar otak berat yang menyebabkan rusaknya pembuluh darah bagian kepala. Hal Itu disebabkan karena jarak benturan antara kepala dan benda keras sangatlah dekat." Mini langsung merasakan tubuhnya lemas. ia hampir jatuh ke lantai tapi segera ditangkap oleh Cici dan Naomi.


"Mini, kamu harus sabar sayang," ujar Mami Rossy dengan lelehan air mata di pipinya. Sungguh ia ingin menghibur calon menantunya itu tapi sayangnya ia juga tak lebih kuat dari gadis itu.


Dokter itu tersenyum kemudian melanjutkan,"Kalian tenanglah dan tetaplah berdoa pada Allah. Kami sudah berusaha mengoperasi kepalanya karena telah terjadi pendarahan pada bagian dalam otak atau cedera hebat disepanjang dinding otaknya. Sampai saat ini kondisi tubuhnya merespon dengan sangat baik kok. Kalaupun ia kehilangan kesadarannya, insyaallah akan segera baik-baik saja."


"Aamiin." Kompak mereka semua menjawab dengan harapan ada keajaiban yang terjadi untuk Zion sang ketua BEM dan juga calon pengantin yang sebentar lagi akan menikah.


"Mami pulang aja ya, biarkan kami yang berjaga disini." Mini menghampiri calon ibu mertuanya itu untuk memintanya beristirahat. Mami Rossy tersenyum. Ia bersyukur dengan keberadaan Mini yang mau bersabar menunggu putranya yang sedang kritis seperti itu.


"Iya Mi hati-hati ya," ucap Mini dengan senyum diwajahnya. Perempuan paruh baya itu pun pergi dari sana diantar oleh Ferry, putra sulungnya.


"Eh, kamu mau dibawakan apa, Ferry juga akan kemari lagi kok nemenin kalian semua setelah ngantar Mami pulang."


"Bawa bantal dan sleeping bag aja ya Fer," ujar Zain pada anak pasca yang ia kenal dari jurusan bahasa itu.


"Ah iya, akan saya bawakan. Aku antar mami dulu. Ada lagi gak?"


"Gak ada, makasih banyak ya," ujar Zain seraya memukul pelan bahu pria itu. Ferry dan Mami Rossy pun benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


"Aku masuk ke ICU dulu ya, mau lihat kak Iyon." Mini juga berpamitan pada teman-temannya untuk menemui kekasihnya yang masih tidak sadarkan diri itu. Ke delapan pasang mata itu hanya bisa memandang punggung Mini yang memasuki ruangan ICU itu dan meninggalkan mereka di depan ruangan.


"Eh, udah pada makan belum?" tanya Boby pada dua gadis yang sudah menunjukkan wajah lelahnya itu. Maklumlah penanda waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Udah makan roti." Naomi menjawab seraya mengangkat bungkus roti yang ada di pangkuannya.


"Mau makan dulu gak? Yang anget-anget gitu, kayak bakso."


"Hemm boleh. Tapi dimana?" Cici langsung berbinar. Ia sangat suka makan bakso.


"Di kantin Rumah Sakit ini aja. Gak usah jauh-jauh. Takutnya Mini membutuhkan kita."


"Ah iya baiklah."


Mereka berempat pun pergi dari tempat itu untuk mencari makan di kantin Rumah Sakit itu. Sementara itu, Mini yang berada di dalam ruang ICU, memandang wajah kekasihnya yang dipenuhi oleh banyak alat-alat penunjang kesehatan.


"Kak Yon, bangun dong..."


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍


__ADS_2