
Felicia baru saja bangun dari tidurnya setelah melakukan olahraga yang cukup melelahkan dengan Daren. Ia keluar dari kamar setelah membersihkan dirinya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh partner ranjangnya itu. Pria itu ikut keluar dari kamar setelah sinar matahari sudah tenggelam dan sudah berganti dengan sinar bulan. Mereka ternyata telah jadi penghuni kamar selama berjam-jam lamanya.
"Fel, lapar nih sayang. Kamu siapkan makan ya," ujar Daren seraya berjalan ke arah beranda. ia ingin menghirup udara malam di bawah sinar bulan sambil menunggu makanan siap.
"Malas masak nih sayang. Kita makan di luar aja ya, Aku juga lapar." Felicia ikut keluar dari Villa itu dan langsung menghampiri pria yang akan menikahinya dalam waktu dekat itu.
"Hum baiklah, tapi lain kali kamu belajar masak ya, pengen banget makan dari hasil masakan kamu sayang." Daren memeluk pinggang kekasihnya itu seraya menciumi pipinya.
"Iya, nanti Aku masak kalau ada waktu." Felicia berujar dengan senyum diwajahnya. Dalam hati ia mendengus. Ia tidak pernah mau mengotori tangannya dengan memasak. Warung makanan ada banyak di dunia ini, ngapain juga harus masak.
"Ayo deh kamu bersiap sayang. Kita makan malam di luar." Daren melepaskan pelukannya kemudian melangkah turun dari Villa itu untuk mengambil mobil yang sudah ia masukkan ke dalam garasi.
Tak lama kemudian Felicia pun datang dengan menggunakan jaketnya karena cuaca malam itu terasa sangat dingin menusuk tulang. Perempuan itu langsung menuruni tangga dan ikut masuk ke mobil pria itu.
Mereka mengunjungi sebuah Cafetaria yang tak jauh dari Villa mereka. Di malam minggu seperti saat ini, tempat semacam itu sangat ramai dikunjungi oleh beberapa pasangan yang sedang berlibur.
Mobil itu berhenti di depan Cafetaria setelah berhasil mendapatkan tempat parkir. Malam itu terlalu ramai. Mungkin karena tempat itu memang menyediakan banyak fasilitas dan juga menu makanan yang sangat beragam hingga selalu dipenuhi oleh pengunjung.
"Ayo sayang," ajak Daren seraya meraih tangan kekasihnya itu untuk turun dari mobil. Felicia tersenyum kemudian ikut turun dari kendaraan itu. Ia begitu bahagia karena Daren benar-benar memberinya banyak perhatian dan cinta.
Mereka berdua melangkahkan kakinya ke arah pintu Cafetaria tersebut setelah memastikan mobil mereka aman. Mata Felicia tak sengaja menangkap mobil milik Radith Aditya tak jauh dari mobil mereka. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi takut dan tidak nyaman. Ia jadi teringat sebuah penghubung antara dirinya dengan mantan suaminya itu.
"Ruby, kemana Ruby sayang?" Felicia menghentikan langkahnya dan menatap Daren. Pria itu tersentak kaget. Ia juga baru teringat kalau anak itu juga ikut bersama dengan mereka.
Dan sekarang ia baru merasa sangat khawatir. Ya, mereka melupakan anak kecil berusia 4 tahun itu di Villa.
__ADS_1
"Ah ya kita melupakan Ruby. Bagaimana ini?" Daren ikut khawatir. Apalagi anak itu tidak kelihatan sampai mereka berdua meninggalkan tempat itu beberapa menit yang lalu.
"Ya ampun putriku. Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi padanya. Kita harus melapor polisi Daren!" Felicia mulai panik. Ia merogoh handphonenya dari dalam saku jaketnya. Ia harus menghubungi polisi dan juga Radith sebagai Papa dari putri kecilnya itu.
"Ada apa?!" tanya Radith Aditya dari ujung telepon dengan suara datarnya.
"Aku minta maaf Mas. Ruby hilang huaaaa." Felicia melapor dengan tangis yang pecah.
Tuut
Radith Aditya yang sementara berada di depan pintu Cafetaria langsung mematikan secara sepihak panggilan telepon itu. Ia sudah melihat kalau Felicia juga sudah berada ditempat yang sama.
"Ayo sayang, ikut sama Mama Jo. Kita akan meminta pertanggung jawaban pada Mamamu yang satu itu!" Pria itu menunjuk perempuan yang telah menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan Ruby.
"Mas, syukurlah putri kita tidak kenapa-kenapa dan malah bersama dengan mu." Wajah Felicia tampak berubah cerah. Ia menarik nafas lega karena ketakutannya ternyata tidak terjadi. Ruby masih sangat sehat bersama dengan Papa kandungnya.
"Mas! Ini cuma kesalahan kecil. Ruby ternyata ada bersamamu jadi seharusnya kita tidak perlu mempermasalahkan ini."
"Apa? Kamu bilang ini kesalahan kecil? Ringan sekali kamu mengatakan itu tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Kamu sadar kalian ini dimana? Mulai saat ini kamu tidak punya lagi hak untuk mengambil Ruby meskipun kamu adalah ibu kandungnya." Radith Aditya menegaskan dengan rahang mengeras.
"Mas jangan katakan seperti itu!" Felicia melawan. Ia berteriak dengan sangat keras. "Ruby putriku dan akan selalu seperti itu. Kamu samasekali tidak punya hak untuk melarang aku hidup bersama dengan Ruby!"
"Oh ya? Jangan membuatku ingin tertawa Feli. Kamu sungguh lucu sekali. Tadinya memang seperti itu. Akan tetapi melihat kamu yang seperti ini. Aku jadi mempunyai banyak alasan untuk melaporkan mu di pengadilan agama."
Radith Aditya menatap dua orang pria dan wanita yang sedang berpegangan tangan itu bergantian. Ia sekarang mempunyai banyak bukti yang bisa membantunya mendapatkan hak asuh untuk Ruby seutuhnya.
Ya, kalau beberapa bulan yang lalu, Felicia mendapatkannya dengan alasan bahwa ia adalah ibu kandung dari putrinya itu maka sekarang ia mempunyai banyak bukti untuk menuntut balik. Dengan alasan menelantarkan anak dan juga melakukan sebuah kegiatan yang sangat tidak bermoral maka ia yakin ia bisa mendapatkan hal asuh untuk Ruby.
__ADS_1
Felicia pun menghampiri putrinya dan berjongkok agar tinggi mereka bisa sejajar. Ia ingin membujuk gadis kecil itu hidup bersama dengannya.
"Ruby, ikut Mama ya sayang," pinta perempuan itu dengan wajah memohon pada Ruby. Gadis kecil itu langsung menggelengkan kepalanya. Ia takut dan memeluk kaki Jovanka dengan sangat erat. Ia benar-benar tidak ingin bersama dengan perempuan jahat yang suka memarahinya itu.
"Ruby, jangan kek gini dong. Mama Feli kan mama kandungnya Ruby." Felicia mengarahkan tangannya untuk meraih Ruby yang masih memeluk erat kaki Jovanka.
"Luby gak mau tinggal sama Mama Feli. Papa, ayo cepat kita pulang." Ruby akhirnya berlari ke arah Radith Aditya. Ia butuh perlindungan dari Pria yang sangat menyayanginya itu.
"Kamu sudah lihat sendiri 'kan? Ruby tidak ingin tinggal bersamamu. Jadi pergilah yang jauh dari kehidupan kami." Radit Aditya pun menggendong putrinya seraya mengajak Jovanka untuk ikut dengannya.
"Mas, cuma Ruby satu-satunya kenangan kita. Tolong berikan padaku!" Felicia berteriak dan memburu langkah Radith Aditya. Akan tetapi Daren langsung menariknya dan memeluknya.
"Sudahlah Fel, biarkan Ruby bersama dengan Papanya. Bukankah kita saat ini sedang berusaha membuat gantinya sayang? Kita akan memiliki anak juga untuk melengkapi kebahagiaan kita." Daren menghibur kekasihnya itu seraya mengelus lembut punggungnya. Felicia tidak menjawab.
Perempuan itu semakin sedih karena sebenarnya ia sudah tidak punya harapan untuk hamil dan mempunyai anak lagi. Kandungannya sudah tidak ada karena sebuah penyakit yang pernah dideritanya. Dan kini ia takut kalau Daren akan meninggalkannya kalau tahu ia tidak bisa lagi memberi keturunan.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Eh, sambil nunggu update, mampir dong di karya baru othor nih, dijamin okey punya lho. Gak kalah sama si Jojoba.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya π
__ADS_1