Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 38 Tak Semanis Bibir Jojoba


__ADS_3

Radit Aditya merasakan hatinya sangat bahagia saat ini. Jovanka sudah berhasil ia paksa untuk menerima lamarannya dalam waktu dekat.


Setelah putusan cerai itu sudah sah dari Pengadilan Agama maka saat itu juga ia akan menikahi gadis itu dan menjadikannya sebagai istrinya yang sangat ia cintai.


Ia baru saja mengantarkan Jovanka pulang ke Rumahnya dan memperlihatkan bukti pendaftarannya di Pengadilan Agama pada Haikal Baron dan juga Zarina kalau ia sebentar lagi akan bersih dan tidak ada sangkutan lagi dengan Felicia.


Langkahnya terhenti di depan pintu Rumah karena Rania sang Mama langsung menjemputnya dengan sebuah pertanyaan.


"Mana Ruby? Kok kamu pulang gak bersama putrimu?"


"Lho? Ruby belum pulang Ma?" Ia balas bertanya karena merasa bingung. Saat ini sudah lewat isya dan itu berarti sudah sangat malam.


"Lah kamu sebenarnya kemana saja? Bukannya kamu pergi ke sekolahnya?" Rania kembali bertanya dengan wajah kesal. Ia sangat khawatir pada cucunya itu.


"Felicia Ma, dia memangnya belum mengembalikan Ruby?" Sekali lagi Radith Aditya bertanya kembali. Dan membuat Rania semakin tak sabar.


"Lho kok malah nyebut Feli. Jovanka kemana bawa anakmu itu. Kamu kok jadi menyalahkan Feli sih?"


"Ma, Ruby itu dijemput sama Jovanka di sekolahnya. Akan tetapi ada Felicia juga di sana. Nah Ruby itu ikut sama Mamanya."


"Astaghfirullah, kamu kok kasih izin sama Felicia sih? Gimana kalau ia bawa lari cucuku Dith?" Rania meradang.


"Kamu terlalu dibuat lupa diri sama Jovanka makanya kamu lupa sama putrimu. Ayo cepetan jemput. Jangan sampai Felicia mempengaruhi Ruby dan lebih memilih dia daripada kita."


"Iya Ma. Tapi Aku tidak tahu dimana rumahnya." Radith Aditya ikut khawatir.


"Katanya tuh, dia tinggal tidak jauh dari sini. Di komplek perumahan elit yang baru itu lho." Rania berusaha mengingat-ingat kalau perempuan itu pernah bercerita kalau ia tinggal di daerah sekitar tempat tinggal mereka.


"Baiklah Ma. Aku akan kesana sekarang juga." Radit Aditya langsung berbalik kembali ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya.


Ia begitu kesal pada mantan istrinya itu karena tidak mengembalikan putrinya sesuai dengan perintahnya.

__ADS_1


"Maaf Pak. Rumah dokter Felicia dibagian mana ya?" tanyanya pada seorang security yang sedang berjaga di depan gerbang perumahan elit itu.


"Bapak siapa ya? Maaf ya, anda harus menunjukkan kartu identitas anda terlebih dahulu." Sang security tidak membuka portal itu jika Radith Aditya belum menunjukkan kartu identitasnya. Lama ia mencari KTPnya tapi ternyata tidak ia temukan di dalam dompetnya.


"Ada gak Pak?" tanya Security itu tidak sabar. Radit Aditya pun nampak tidak sabar mencari di dalam dompetnya tapi tidak ia temukan.


"Oh ya ampun. Ternyata di sini." ujarnya pelan saat Ingat kalau sewaktu mendaftar di Pengadilan Agama tadi semua berkasnya ada di dalam sebuah map.


"Maaf. ini kartu identitas saya Pak," ujarnya seraya menunjukkan KTPnya ke hadapan security itu.


"Silahkan Pak." Ia pun mengizinkan Mobil Radit Aditya untuk memasuki komplek setelah memberitahu letak rumah dokter cantik Felicia. Radith Aditya membuang nafas. Rupanya komplek ini sangat ketat pemeriksaannya.


Mobilnya ia hentikan di depan sebuah rumah minimalis yang cukup cantik dan indah. Ia pun turun dari mobilnya dan memasuki teras rumah itu.


Felicia mengintip dari tirai jendela saat mendengar pintu diketuk berkali-kali.


Ia tersenyum senang karena yang datang adalah Radith Aditya mantan suaminya. Dengan cepat ia memperbaiki penampilannya dan segera membuka pintu Rumahnya.


"Kenapa kamu gak kembalikan Ruby ke rumah padahal sudah larut begini."


"Kasihan Mas, udah tertidur. Gak tega Aku ngebanguninnya." jawab Felicia dengan suara merajuk manja.


"Dimana dia Fel. Aku harus membawanya pulang." Radith Aditya tidak ingin mendengar alasan. Ia terus melangkahkan kakinya mencari Ruby di semua kamar.


"Mas, biarkan Ruby tidur disini. Aku kesepian Mas," ujar Felicia saat mantan suaminya itu sudah membuka kamar utama atau kamar pribadinya sendiri. Perempuan itu cepat-cepat menghalangi Radith Aditya yang akan mengambil Ruby yang sedang tidur.


"Aku tidak perduli Fel. Kamu sudah biasa sendiri dengan meninggalkan kami. Jadi sekarang menyingkir dari hadapanku." Radith segera mendorong pelan tubuh Felicia dari hadapannya tetapi perempuan itu malah menarik tangan Radith Aditya dan akhirnya mereka berdua jatuh diatas ranjang.


Mereka berdua saling menumpuk dengan Felicia yang berada di bawah tubuh besar Radit Aditya.


Dalam beberapa detik mereka berada pada posisi yang sangat intim.

__ADS_1


Jarak mereka terkikis. Wajah mereka pun saling berdekatan dan hampir menyentuh. Felicia dengan cepat meraih bibir pria itu dan melumattnya dengan sangat lembut. Ia cukup lihai mempermainkan bibir dan lidah Radith Aditya.


Tangannya ia gunakan untuk menekan tengkuk mantan suaminya itu agar ia bisa semakin bisa memperdalam ciumannya. Pria itu tanpa disangka membalas.


Mereka berdua saling membelit lidah. Felicia tersenyum bahagia di dalam hatinya. Ia semakin liar. Dan mulai mengelus lembut punggung pria yang sedang berada di atas tubuhnya. Akan tetapi tiba-tiba saja Radith Aditya menyudahi tautan bibir mereka.


"Itu untuk ciuman terakhir kita Fel. Anggap itu adalah kenang-kenangan dariku untukmu," ujar pria itu dengan suara rendah. Ia kemudian segera turun dari tubuh mantan istrinya itu.


Tak butuh respon dari Felicia yang terbengong-bengong dengan perkataannya, ia langsung meraih Ruby ke dalam gendongannya dan membawanya pergi dari Rumah itu.


"Mas, kumohon jangan tinggalkan Aku. Tidakkah ciumanku tadi bisa menahanmu sebentar saja dan menginap disini?"


"Aku kesepian Mas," ujar Felicia lagi dengan suara memohon dengan sangat. Ia terus mengikuti langkah mantan suaminya itu keluar dari kamarnya.


"Sayangnya rasa bibirmu tidak semanis bibir Jovanka Fel. Jadi kurasa kita memang sebaiknya berpisah baik-baik. jauhkan dirimu dari hidupku lagi." Radith Aditya pun pergi dari sana tanpa menoleh lagi.


Felicia menjambak rambutnya. Ia meraung histeris. Hatinya sangat sakit oleh perkataan pria yang ternyata masih bertahta di dalam hatinya itu.


"Mas, kamu kejam padaku. Maafkan Aku!" Ia terus berteriak keras berharap mobil pria itu berhenti dan mengasihaninya. Radit Aditya tersenyum miring kemudian mengambil tissue dan melap bibirnya yang sudah bersentuhan dengan bibir mantan istrinya itu.


"Maafkan Aku Jo, Aku tidak bermaksud mengkhianatimu sayang," ujarnya pelan kemudian membuang tissue bekas itu keluar dari jendela mobil. Ia pun menatap Ruby yang sedang tertidur nyenyak di sampingnya dengan tatapan sayang.


"Maafkan Papa juga Ruby. Kamu akan tahu sifat asli Mama mu nanti sayang."


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍

__ADS_1


__ADS_2