Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 58 Malu Berlipat-lipat


__ADS_3

Setelah selesai minum dan makan, satu kelas jurusan manejemen itu segera kembali ke kelas mereka. Dosen cantik yang terkenal killer yang akan mengajar untuk mata kuliah berikutnya ternyata sudah lama menuggu di dalam kelas.


Sesilia Juwita, yang merupakan seorang doktor termuda di Universitas itu sedang menatap wajah-wajah yang datang terlambat itu dengan tatapan tajam.


"Kalian dari mana? Lambat 5 menit saja, satu kelas ini saya kasih nilai Error!"


"Maaf Bu, kami baru saja dari kantin," jawab Boby Dirgantara sang ketua tingkat. Ia mewakili semua teman-temannya menjawab karena ini adalah tanggung jawabnya.


"Masih pagi sudah pada ke kantin. Bukannya mempersiapkan diri untuk kuis hari ini." Dosen cantik itu menggerutu dengan suara rendah.


"Dan kamu yang baru datang, silahkan keluar dari kelas ini!" Jovanka yang baru sampai dan masih berdiri di depan pintu kelas itu begitu kaget dengan kalimat instruksi itu.


"Maaf Bu, saya?" Jovanka menunjuk dadanya sendiri karena merasa sangat kaget.


"Lah, siapa lagi?! Cuma kamu yang datang paling lambat diantara yang terlambat." Jovanka merasakan pipinya merah karena malu. Ia diusir dari kelasnya padahal mata kuliah ini bernilai 4 SkS. Itu artinya nilai eror sudah pasti di depan matanya.


"Maaf Bu, bukankah ini belum terlambat waktunya?" Boby Dirgantara berdiri dari duduknya untuk membela Jovanka. Ia tidak rela kalau salah satu temannya diperlakukan semena-mena seperti itu.


"Lihat jam tanganmu Bob! Jovanka terlambat 5 menit." Boby melihat jam tangannya diikuti oleh mahasiswa yang lain. Dan benar adanya, Jovanka terlambat 5 menit 10 detik. Dan sesuai kesepakatan mereka, siapapun yang terlambat akan dikeluarkan dari kelas.


"Terimakasih banyak Bu," ujar Jovanka tersenyum. Ia pun meninggalkan kelas itu dengan berusaha menahan air matanya yang sudah siap tumpah dari kelopak matanya.


Huffft


Jovanka menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berkali-kali. Hatinya begitu terasa sangat sesak. Lama ia berdiri di koridor dengan perasaan yang sangat kecewa. Sekali lagi bayangan nilai eror sudah berseliweran di dalam kepalanya.


Huffft


Perempuan cantik itu membuang nafasnya yang terasa sangat berat. Cairan bening yang sudah ia tahan dengan susah payah akhirnya tumpah juga.


"Mimpi apa Aku semalam sampai mendapatkan cobaan seperti ini, Hhhhh," gumamnya pelan seraya melanjutkan langkahnya ke arah parkiran. Ia lebih baik menunggu suaminya di sana daripada ia menangisi nasibnya yang sangat sial hari ini.


"Pasti Mas Radith pikir Aku masih belajar. Tapi Aku harus kemana? Semua teman lagi belajar. Dan sisa aku sendiri disini." Ia bermonolog sendiri dengan langkah pelan. Beberapa mahasiswa dari kelas lain menegurnya.


"Hai Jo, gak ikut belajar ya?"


"Wah udah berhijab ya Jo, cantik lho."

__ADS_1


"Gabung dengan kita-kita aja sini."


"Iya nih. Nyonya dosen, lagi patroli ya?"


"Ayolah Jo, gabung dengan kita-kita aja."


Semua sapaan mereka hanya dijawab dengan senyum olehnya. Ia tidak mengikuti kemauan mereka dan dijawabnya dengan halus.


"Makasih banyak lagi ada urusan dulu nih."


Ia pun terus melangkahkan kakinya entah kemana. Yang jelasnya ia ingin sendiri dulu. Ia masih sangat shock diusir di depan semua teman-temannya. Dan ia tidak ingin menyalahkan Ibu Sesil. Ia mengaku ia yang salah dan ia hanya ingin menangis sendiri saat ini.


Drrrt


Drrrt


Ia menghentikan langkahnya karena handphonenya terus berteriak minta diangkat.


"Assalamualaikum sayangku," sapa Radith Aditya dari ujung panggilan.


"Waalaikumussalam Mas." Jovanka menjawab dengan berusaha menahan untuk tidak menangis.


"Iya Mas, Aku kesana." Jovanka menjawab dengan suara tercekat. Tangisnya benar-benar hampir meledak saat itu juga. Ia pun menutup panggilan itu sepihak tanpa bertanya ini dan itu.


Dengan langkah cepat ia menuju Parkiran untuk menemui suaminya. Ia sungguh ingin mendapatkan pelukan dari rasa kecewanya.


"Naiklah." Radit Aditya membukakan pintu mobil untuk istrinya tanpa memperhatikan wajah Jovanka yang sembab.


"Makasih Mas."


Mobil itu pun segera keluar dari area parkir Kampus. Radith Aditya terlalu senang sampai tidak berbasa-basi dengan istrinya. Sedangkan Jovanka belum berani menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia takut suaminya emosi dan memarahi dosen muda itu.


Tak cukup 10 menit karena jalanan cukup sepi. Mereka pun tiba di sebuah hotel mewah yang sudah dibooking sebelumnya oleh pria tampan itu.


"Mari sayang, pegang tanganku. Karena kita akan berbulan madu di sini."


"Bulan madu?" Jovanka begitu kaget dengan yang dikatakan suaminya. Langkahnya berhenti di depan lift yang akan mengantarkan mereka berdua ke Lantai 10 gedung itu.

__ADS_1


"Iya sayang. Kita kan belum berbulan madu.Tapi eh, matamu kenapa? Kok kayak habis nangis?"


Tring


Jovanka belum menjawab, pintu lift itu pun terbuka. Mereka berdua pun masuk ke kotak besi itu dengan perasaan yang berbeda. Ada banyak orang didalam sana jadi mereka akhirnya tidak melanjutkan percakapan mereka.


Tring


Pintu terbuka pada lantai yang mereka tuju. Radit Aditya membawa istrinya ke kamar 121 dengan ringan dan sangat bahagia. Jovanka mengikut saja dengan perasaan yang masih belum baik. Insiden beberapa saat yang lalu sepertinya masih sangat mempengaruhi moodnya.


"Ada apa sayang? Kok dari tadi diam saja?" Sang suami membawa Jovanka duduk di bibir ranjang empuk yang sudah dihias dengan sebuah miniatur dua ekor bangau putih dari bahan selimut.


"Masss, hikss..." Akhirnya pecah juga tangis yang sejak tadi Jovanka tahan. Ia memeluk suaminya dengan tangis sesenggukan.


"Jo, ada apa? Apa kamu tidak suka tempat ini sayang?" Radit Aditya merasa sangat bingung dengan tingkah istrinya.


"Mass, Aku dikeluarkan dari kelas oleh Bu doktor Sesil huaaaa." Tangis perempuan muda itu semakin pecah saja.


"Dosen killer itu mempermalukan Aku Mas. Aku tidak mau lagi masuk mata kuliahnya hiks."


"Jo, dengarkan aku sayang. Bu Sesil itu tidak salah, aku yang salah." Radit Aditya melepaskan pelukan istrinya kemudian menatap wajah cantik yang sedang menangis itu.


"Maksud Kamu apa Mas?" tanya Jovanka dengan wajah bingung.


"Aku yang meminta Bu Sesil untuk mengeluarkan kamu sayang."


"Apa?!"


"Iya, maafkan aku ya, tadinya Bu Sesil tidak mau mengikuti kemauanku. Tapi Aku memaksanya karena aku sangat ingin berkunjung ke istana mu saat ini juga Jo," jelas pria itu dengan wajah yang sangat santai.


"Ya Allah Mas, kamu tega sama Aku, huaaaa," Jovanka semakin menangis menjadi-jadi. Rasa malu dan kesalnya kini semakin berlipat-lipat.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Tabik, Kakak@ Sesilia Juwita yang cantik, namanya dicaplok jadi dosen sebelum mendapatkan izin, πŸ€­πŸ™

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2