
"Minum Jo," ujar Radith Aditya seraya menyimpan beberapa botol minuman dingin dan juga cemilan di samping tempat duduk gadis cantik yang masih saja mengabaikannya itu.
"Makasih Pak." Jovanka menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada Ruby yang sibuk bercerita tentang permainan Pump It Up yang juga ia ingin mainkan bersama dengan gadis itu.
"Kalau Ruby sudah sembuh kita bisa pergi bersama ya," ujar Jovanka dengan tangan mengelus lembut kepala gadis kecil itu.
"Ruby sekalang udah sembuh Mama Jo, udah gak sakit lagi 'kan?"
"Iya sayang, tapi badannya masih panas. Jadi Ruby harus istirahat yang banyak ya," Jovanka meraih tangan mungil itu kemudian menciumnya dengan penuh perasaan.
"Mama Jo, jangan pelgi lagi, Luby sedih kalau gak ada Mama Jo di lumah." Mata Ruby kembali berkaca-kaca karena benar-benar takut kehilangan pengasuhnya itu.
"Jangan nangis dong sayang, sekarang 'kan Mama Jo ada disini jadi Ruby harus senang supaya cepat sembuh."
"Sekarang bobok lagi ya, nanti kalau bangun insyaallah udah sembuh dan kita bisa main lagi, okey?" Ruby tersenyum kemudian mengangguk. Ia pun menutup matanya karena kepalanya memang terasa masih sangat berat dan juga sakit.
Jovanka terus mengelus kepala gadis itu sampai terdengar dengkuran halusnya menandakan kalau Ruby sudah nyenyak. Ia pun berdiri dari duduknya dan meregangkan otot-ototnya. Rupanya duduk berjam-jam dengan tangan terus mengelus kepala gadis itu membuatnya merasakan lelah juga.
Radith Aditya yang sedang duduk di sebuah sofa di dalam kamar itu sedari tadi memperhatikan interaksinya dengan sang putri. Ia pun memanggil Jovanka untuk mengambil minuman yang ia simpan di atas meja di hadapannya.
"Kamu minum dulu Jo." Sekali lagi Radith Aditya menawarkan minuman yang masih dingin itu pada Jovanka. Ia juga sudah membuka tutupnya agar gadis itu bisa langsung menikmatinya. Jovanka pun mendekat dan menerima minuman itu langsung dari tangan sang dosen.
Gadis itu pun mendudukkan dirinya di samping Radith Aditya kemudian meminum minuman itu sedikit lalu berdiri dari duduknya.
Akan tetapi dengan cepat tangan Radith Aditya meraih pinggang gadis itu dan membawanya ke atas pangkuannya. Ia sudah lama menunggu kesempatan ini untuk menyatakan perasaannya.
"Jo, Aku mencarimu di Taman seperti orang gila. Aku merindukanmu sayangku. Kamu pergi kemana, Hem?" bisik pria itu pas dikuping Jovanka hingga gadis itu merasakan kulitnya meremang sempurna.
Radith Aditya kembali lupa diri jika bersama dengan gadis cantik itu. Ia terlalu terbawa perasaan karena melihat kedekatan putrinya dengan gadis yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Apalagi perkataan Randy Jaya tadi pagi yang mencemoohnya bahwa ia hanya seorang duda yang tak punya nyali pada seorang Jovanka. Ia terbakar.
Ia merasa saat inilah yang paling tepat untuk menyampaikan keinginannya untuk memiliki gadis itu seutuhnya.
Jovanka tidak menjawab pertanyaan duda keren yang juga sangat diinginkannya itu. Ia sedang berusaha menata debaran didadanya yang menggila dari aksi tiba-tiba dari sang dosen.
"Aaaaaah," Jovanka menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan bibir Radit Aditya berani menghisap ujung kupingnya. Ia bergerak semakin gelisah apalagi tangan pria itu tak tinggal diam dan mulai bergerak kedalam kaos yang dipakainya dan mengelus lembut perutnya.
"Maaf Pak, Aku tidak tahu apa maksud bapak, tapi ini sungguh tidak benar," desis Jovanka seraya berusaha menutup matanya menikmati apa yang pria itu lakukan padanya. Bibirnya mengatakan tidak tetapi tubuhnya merespon dengan sangat baik.
Gadis itu jadi teringat pesan bundanya untuk menjaga dirinya dari niat buruk para pria. Ia pun berusaha melepaskan dirinya yang semakin terbuai dengan sentuhan-sentuhan dari pria dewasa yang sangat dicintainya itu.
"Maaf, Aku tidak bisa memenuhi keinginan bapak," ujar Jovanka seraya menahan tangan besar Radith Aditya yang sedang meremass-remass kedua asetnya.
Ia menggeliat dan berusaha terus melepaskan dirinya. Ia sungguh tidak mau menjadi gadis pelampiasan hasrat saja padahal pria itu akan menikahi perempuan lain.
"Katakan padaku, kenapa kamu berusaha menghindari aku Jovanka Baron?" tanyanya lagi dengan jari mengangkat dagu gadis itu agar mau menatapnya.
"Karena Aku hanyalah sebagai pengasuh untuk Ruby dan tidak punya kedudukan istimewa di dalam hati pak Radith."
Jovanka kembali menundukkan wajahnya karena tidak kuat dengan tatapan pria tampan yang sedang tak berjarak dengannya itu. Radit Aditya mengangkat alisnya sebelah karena merasa jawaban Jovanka hanya dibuat-buat saja. Ia sudah sering menyatakan kalau gadis itu adalah miliknya seorang.
"Apakah ada alasan yang lebih kuat dari ini sayang?" tanyanya lagi dengan senyum samar diwajahnya.
"Karena bapak belum juga membayar ku sebagai pengasuh Ruby," jawab gadis itu masih dengan wajah menunduk. Radit Aditya tersenyum kemudian menarik tubuh Jovanka ke dalam pelukannya. Ia jadi sangat gemas sendiri dengan gadis centil yang sedang duduk di pangkuannya itu.
"Jo, jangan membuatku ingin memakanmu di tempat ini sayang, kamu pintar sekali menggodaku hem?" Radith Aditya mencium ujung hidung gadis itu karena benar-benar tidak menyangka dengan alasan yang sangat sepele itu.
"Bapak akan menikah dengan orang lain lalu kenapa masih memberikan aku harapan palsu?"
__ADS_1
Deg
Radit Aditya yang sudah hampir meraih bibirnya untuk dilumatt itu langsung berhenti di depan wajahnya. Pria itu memundurkan tubuhnya kemudian menatap tajam mata gadis cantik itu.
"Menikah dengan perempuan lain? Siapa yang kamu maksud Jo?"
"Kamu orangnya Pak Radith Aditya yang terhormat. Kamu sudah mendapatkan calon Mama terbaik untuk Ruby dan Aku sebagai apa? pengasuh cadangan, iyya?"
Jovanka langsung turun dari pangkuan pria itu kemudian meraih tasnya untuk pergi dari kamar itu.
"Jo, apa yang kamu bicarakan?!" Radit Aditya cepat-cepat berdiri dari duduknya dan segera meraih tangan gadis itu. Ini pasti ada kesalahpahaman, begitu pikirnya.
"Papa, Mama," Ruby tiba-tiba terbangun dengan suara keras mereka berdua. Ia memanggil dua orang itu untuk mendekat.
"Iya sayang," jawab Jovanka dan Radith Aditya bersamaan.
"Luby seneng banget ada Mama Jo disini." Ruby memamerkan senyumnya yang masih tampak lemah dan pucat kemudian menutup matanya dan jatuh tertidur lagi.
Rupanya anak itu sedang mengigau. Mungkin karena suhu tubuhnya kembali naik.
"Jo, kamu lihat itu kan sayang. Ruby sangat menyayangimu."
🌺🌺🌺
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess ðŸ¤
__ADS_1