Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 46 Goyangan Felicia


__ADS_3

Mereka sampai di rumah itu dengan perasaan yang sangat bahagia. Tarikan nafas lega tampak kedengaran dengan sangat jelas, akhirnya acara pernikahan itu selesai juga, pikir penghuni rumah itu di dalam benak mereka.


Jovanka mengucapkan bismillah dengan penuh pengharapan ketika memasuki rumah suaminya. Adalah sebuah keinginan semua perempuan ketika memasuki rumah suami dan mertuanya yaitu menjadi seorang istri dan menantu yang baik.


Mendapatkan kasih sayang seperti kasih sayang yang dimiliki di keluarga mereka yang ditinggalkan.


"Kenapa sayang?" tanya Radith Aditya seraya merengkuh pinggang ramping istrinya. Ia merasa heran dengan ekspresi yang ditampilkan istrinya saat memasuki rumahnya.


"Ah tidak Mas, cuma merasa luar biasa aja. Aku kembali ke rumah ini bukan sebagai pengasuhnya Ruby tetapi menjadi seorang istri dan menantu."


"Ya, begitulah Tuhan mengatur. Kamu sekarang adalah jodohku dan kita berdoa padaNya untuk berjodoh sampai akhirat."


"Aamiin ya Allah," ucap Jovanka seraya menyapu wajahnya dengan telapak tangannya.


"Ayo masuk. Kamu pasti capek sayang," ujar Radith seraya menatap wajah istrinya yang sejak tadi ingin diciumnya tapi tidak pernah mendapatkan kesempatan.


"Ah iya Mas," balas Jovanka tersenyum. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sudah ia hafal letak-letak ruangannya.


Mereka saling berpegangan menuju kamar utama rumah itu tapi tangan mereka langsung terlepas. Ruby yang baru saja dari kamarnya bersama Rania kini kembali lagi.


Gadis kecil itu tiba-tiba saja melepaskan tautan tangan mereka. Rupanya ia tidak ingin tidur kalau tidak bersama dengan Jovanka.


"Mama Jo, ayok kita ke kamal," Ruby menarik tangan Jovanka ke arah kamarnya dengan sangat bahagia. Jovanka memandang suaminya yang tiba-tiba berubah frustasi.

__ADS_1


"Temani saja Ruby sayang, aku akan menunggumu di kamar," ujar Radith Aditya dengan senyum terpaksa. Ia harus mengalah. Toh kalo tidak malam ini, masih ada hari esok untuk mencuci businya yang memang hampir karatan.


"Makasih Mas," ujar Jovanka seraya memberikan satu kecupan basah di pipi suaminya. Ruby tak mau kalah, ia juga menarik tangan Papanya dan memberikan dua kecupan basah di pipi kiri dan kanan pada pria itu.


"Selamat bobok Papa, mimpi yang indah ya," ucap Ruby dengan senyum lebar diwajahnya. Giginya yang putih rapih tampak sangat indah dipandang. Radit Aditya tersenyum kemudian menjawab, "Iya sayang, sepertinya Papa memang hanya akan bermimpi saja belah duren malam ini."


"Mas," tegur Jovanka dengan tatapan tajam pada pria tampan yang sangat dicintainya itu.


"Iya Papa, dah, mimpi saja ya, besok kita beli dulian dekat sekolanya Luby hihihihi," kekeh Ruby kemudian menarik tangan Jovanka ke Kamar. Rupanya ia benar-benar sudah sangat mengantuk. Berkali-kali ia menguap.


Radith Aditya memandang kepergian dua orang itu dengan satu tarikan nafas panjang. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah kamarnya sendiri dengan langkah loyo. Seharusnya ia membuka pintu ini bersama dengan Jovanka, begitu pikirnya. Tapi apa boleh buat, demi kebahagiaan putri semata wayangnya ia akan mengalah.


Pria itu pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengganti pakaiannya dengan piyama kemudian naik ke atas ranjang. Tangannya mengelus lembut permukaan seprei putih bercorak mawar merah kecil-kecil itu dengan senyum dibibirnya.


"Semoga kamu juga bisa bahagia Fel. Semoga saja kamu sudah menghentikan petualangan cinta sesaatmu dengan banyak pria." Kembali ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun menyebut nama Allah dan tak lama kemudian akhirnya tertidur.


🌺


Sementara itu, Felicia sedang berbaring didalam pelukan seorang pria yang tak lain adalah direktur Rumah sakit tempat ia bekerja selama ini. Ia baru saja tiba dari nirwana setelah berhasil menggoyangkan pinggulnya dengan sangat indah diatas tubuh sang dokter.


"Sayang, kamu mau kan jadi istriku?" tanya Daren seraya mengecup pucuk kepala Felicia. Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada pria yang selama ini menemaninya dalam mencapai karirnya.


"Kenapa kamu ingin menjadikan aku sebagai istrimu Kak? Kamu sudah tahu kalau aku ini bukanlah perempuan baik-baik." Felicia akhirnya mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Karena aku mencintaimu Fel. Kita sama-sama single. Dan apa lagi yang kita butuhkan selain melegalkan hubungan kita sayang. Aku ingin kamu mengandung anakku."


"Tapi aku adalah perempuan kotor Kak. Aku tidak berhubungan dengan kamu saja." Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa dirinya merasa sangat kotor dan tak pantas untuk semua orang. Tanpa sadar ia menitikkan air matanya.


Daren mengusap lembut pucuk kepala perempuan cantik itu. Ia tahu semua sepak terjang Felicia tapi entah kenapa ia masih saja suka pada perempuan ini. Apa mungkin karena servisnya di ranjang yang sangat memuaskan atau karena perempuan ini mempunyai visi yang sama dengan dirinya. Ia sungguh tidak mengerti tentang permainan hati yang diciptakan Tuhan untuknya.


Yang ia tahu adalah, ia tak layak menghakimi Felicia sebagai perempuan buruk karena ia juga bukanlah pria baik-baik. Dan sekarang ia ingin bersama dengan Felicia membangun sebuah keluarga.


"Fel, kamu dengar aku sayang? kita sudah lama melakukan ini. Dan aku ingin sekali kita menyudahi ini dengan menikah," bisik pria itu dengan penuh pengharapan. Felicia merasakan hatinya menghangat. Tak ada partner ranjangnya selama ini yang pernah mengajaknya menikah. Hanya Daren yang selama ini menemaninya dalam suka maupun duka.


"Apakah kakak akan menerima Aku yang seperti ini?" tanya Felicia seraya bangun dari posisinya. Ia memandang pria baik hati itu dengan tatapan tak terbaca. Daren tersenyum kemudian mengangguk.


"Kita ini sama Fel, sama-sama bukan orang baik sayang. Kita terlalu serakah jika menginginkan seorang bidadari tanpa dosa padahal kita tidak berkaca pada diri sendiri."


"Terimakasih banyak Kak. Aku terharu. Aku menerimamu. Kita akan menikah secepatnya." Felicia kembali memeluk pria itu. Meskipun tak ada cinta dan hanya pelepas gairah semata ia tetap berharap ini adalah petualangannya yang terakhir.


"Tidurlah Fel, kamu sudah bekerja sangat keras sayangku," bisik Daren dengan senyum diwajahnya. Ia juga sangat bahagia. Sudah lama niat ini ia ingin sampaikan dan akhirnya tercapai juga. Mereka berdua pun jatuh tertidur dengan harapan akan bangun keesokan harinya dengan sehat dan masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍


__ADS_2