Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Akh sesaknya !


__ADS_3

Aminah memandangi gaun mewah yang akan dia kenakan pada hari pertunangannya yang sebentar lagi akan berlangsung bulan safar nanti.


''Cobalah kamu lihat Lancha dari brokat pink ini, sangat cocok untuk mu Aminah sayang !", ucap Jannah Sheikh.


Aminah tersenyum tanpa menjawabnya.


"Aku akan menelpon pemilik toko perhiasan, kemarin aku telah menghubunginya tapi kenapa sekarang dia tidak kunjung datang-datang", ucap Jannah Sheikh.


"Mungkin dia lupa, kau telpon lagi dia untuk mengingatkannya ! Siapa tahu dia sibuk sehingga dia lupa !?", sahut tuan Salman Sheikh.


"Baik, baba. Aku akan meneleponnya lagi, mungkin dia memang lupa atau tidak bisa datang kemari", ucap Jannah Sheikh.


"Aku rasa itu ide yang baik", kata Kakek Salman Sheikh.


"Iya, ya..., aku akan menelepon dia lagi !", jawab Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh lalu beranjak pergi menuju telpon rumah yang tersedia di sebuah meja bundar dekat dinding.


"Akh ! Dia membuatku sesak saja ! Bagaimana orang itu bisa lupa setelah membuat janji dengan ku ?", keluh Jannah Sheikh.


Ting Tong... Ting Tong... Ting Tong...


Suara bunyi bel rumah terdengar dari luar nyaring.


Jannah Sheikh yang hendak meraih telpon rumah langsung berbalik arah.


Dia berdiri tertegun menatap luar ruangan tengah.


''Mungkin itu dia ?'', ucap Jannah Sheikh.


Tampak Raaida berlari cepat menuju ke arah pintu masuk rumah yang terletak jauh dari ruangan tengah.


Dimana seluruh keluarga Sheikh sedang berkumpul kecuali Mahesa Sheikh yang tidak pernah terlihat di rumah itu.


''Siapa yang datang, Raaida ?'', tanya Jannah Sheikh.


Tidak ada sahutan dari gadis bernama Raaida.


Beberapa saat kemudian muncul Raaida bersama dengan seorang wanita bersaree biru toska masuk ke dalam ruangan rumah menuju ruang tengah.


Wanita itu berjalan dengan rasa percaya diri nya yang tinggi seraya membawa sebuah koper.


''Jannah Sheikh ! Apa kabar mu sayang ?'', sapa wanita itu.


''Baik, Chitramala !'', sahut Jannah Sheikh.


Kedua wanita bersaree India itu saling berpelukan sambil tertawa riang.


''Aku kira kau tidak jadi datang karena aku telah menunggu mu sejak tadi'', kata Jannah Sheikh.


''Maaf..., maaf..., aku terlambat datang kemari karena aku kedatangan tamu yang merupakan pelanggan toko kami dari Kathmandu'', sahut Chitramala.


''Oh !? Lantas bagaimana dengan mereka !? Apakah kamu meninggalkan tamu mu dari Kathmandu kemari ?'', tanya Jannah Sheikh.


Ekspresi wajah Jannah Sheikh sontak berubah ketika mendengar penjelasan dari Chitramala.


''Tidak, mereka akan datang lagi setelah berkeliling New Delhi. Tadi, mereka hanya singgah sebentar'', sahut Chitramala.


''Oh, begitu ! Ayo, duduklah !", kata Jannah Sheikh.


"Terimakasih... Oh, iya, aku membawa beberapa perhiasan untukmu, bukankah kamu memesan untuk dipakai di hari pertunangan mu ?", ucap Chitramala.

__ADS_1


Chitramala meletakkan koper miliknya di atas meja kemudian dia membukanya.


"Iya, aku memang memesan perhiasan untuk kami pakai di acara pertunangan Shaheer Sheikh nanti", sahut Jannah Sheikh.


"Kau bilang jika acaranya akan diadakan pada bulan Safar nanti maka aku membawa beberapa perhiasan dengan desain yang mewakili suasana Safar", kata Chitramala.


"Benarkah itu !? Wow ! Ini sangat menarik, Chitramala !", jawab Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh tidak sabaran untuk melihat beberapa perhiasan yang dibawa oleh Chitramala.


Saat Chitramala membuka kopernya yang berisi penuh dengan perhiasan-perhiasan mewah, Jannah Sheikh langsung memburunya.


"Sabarlah, Jannah !", kata Chitramala.


Chitramala tersenyum melihat tanggapan Jannah Sheikh yang antusias saat melihat perhiasan-perhiasan yang dia bawa dari toko miliknya.


"Woah ! Ini cantik sekali, Chitramala ! Dan aku selalu menyukai desain-desain perhiasan dari tokomu itu'', ucap Jannah Sheikh.


''Terimakasih atas sanjungannya yang kau berikan padaku, aku sangat senang mendengarnya, Jannah'', sahut Chitramala.


Chitramala mengeluarkan beberapa perhiasan mewah dari berlian serta taburan batu permata yang berharga mahal sekali.


''Aminah, pilihlah perhiasan untukmu, sayang !'', kata Jannah Sheikh.


Ketika dia melihat seperangkat perhiasan dari batu safir merah.


Jannah Sheikh menarik tangan Aminah agar gadis cantik itu mendekat kepadanya.


''Kemarilah sayang ! Jangan sungkan untuk memilih yang kamu sukai, nak !'', ucap Jannah Sheikh.


''Tapi, mathair...'', sahut Aminah.


Aminah sedikit terkejut ketika dia melihat ke arah koper yang berisi perhiasan mewah yang bersinar-sinar di hadapannya.


Bagaikan menemukan harta karun yang lama terpendam di dasar laut.


Aminah menggelengkan kepalanya pelan.


Dia menolak memilih perhiasan-perhiasan mewah yang ada di koper Chitramala.


''Tidak, mathair ! Aku tidak bisa memakai perhiasan semewah itu karena itu terlalu mahal buatku, mathair !'', sahut Aminah.


Jannah Sheikh melirik ke arah Shaheer Sheikh yang hanya diam membisu sejak tadi.


''Shaheer Sheikh !'', panggil Jannah Sheikh kepada putranya.


''Iya, mathair'', sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh menatap ke arah ibunya seraya menurunkan iPhone miliknya.


''Ada apa ?'', tanya Shaheer Sheikh.


''Tolong kamu bantu kami untuk memilih beberapa perhiasan yang nanti dipakai pada acara pertunangan kalian !'', sahut Jannah Sheikh.


''Aku, mathair ???'', jawab Shaheer Sheikh.


''Lalu siapa lagi yang harus aku suruh selain kamu !? Hah ???'', kata Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh terlihat agak kesal dengan kelakuan putranya yang tidak terlalu memperdulikan acara pertunangannya dengan Aminah.


''Ayo, kamu tolong pilih !'', ucap Jannah Sheikh.

__ADS_1


''Kenapa harus aku ? Kenapa tidak dia saja yang memilihnya ? Bukankah dia yang nanti akan memakainya di acara pertunangan kami !?'', sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh memajukan badannya ke depan seraya memperhatikan ke arah koper yang berisi perhiasan-perhiasan mewah.


''Aminah, pilihlah perhiasan yang kamu sukai ! Karena aku sendiri tidak tahu selera mu mengenai perhiasan'', ucap Shaheer Sheikh.


Pria tampan yang mengenakan atasan lengan panjang serta celana panjang kain itu melirik ke arah Aminah yang hanya diam tanpa menoleh ke arahnya.


Shaheer Sheikh menghela nafasnya dalam-dalam lalu berkata kembali.


''Apa aku harus memilih nya untukmu ?'', tanya Shaheer Sheikh.


Aminah tidak menjawab ucapan dari pria tampan itu tapi tatapan matanya lurus memandang ke arah Shaheer Sheikh dengan tajamnya.


''Astaga..., kenapa dengan gadis bodoh itu ?'', ucap Shaheer Sheikh.


''Shaheer Sheikh ! Jangan membuat lelucon !'', ucap Jannah Sheikh.


''Apa, mathair ? Aku tidak berkata apa-apa...'', jawab Shaheer Sheikh.


''Jaga sikapmu itu !'', ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh melirik ke arah tuan Salman Sheikh yang sedari tadi memperhatikan mereka sembari memegang telepon selulernya.


Pria berturban putih itu menurunkan kacamatanya saat Jannah Sheikh melihatnya.


''Apa tidak kau saja yang memilih semua perhiasan-perhiasan itu, Jannah ?'', kata kakek Salman Sheikh.


''Ah, iya, baba... Aku akan memilihnya untuk acara pertunangan nanti...'', sahut Jannah Sheikh.


''Ya, sudah ! Kamu tinggal pilih saja, kenapa membuang-buang waktumu ?'', ucap Salman Sheikh.


''Ah, iya, iya..., aku memilihnya !'', jawab Jannah Sheikh panik.


''Tidak usah kamu bertanya pada dia lagi urusan pertunangan mereka ! Toh, tidak ada hasilnya kalau kamu bertanya padanya'', ucap Salman Sheikh.


Shaheer Sheikh menggertakkan gerahamnya saat kakeknya menyindirnya sebagai pria yang tidak becus mengurus suatu hal kecil seperti memilih perhiasan untuk acara pertunangannya dengan Aminah.


Pria tampan itu beranjak berdiri seraya berpamitan pada semuanya.


''Maaf, aku pergi dulu ! Ada urusan penting yang harus aku selesaikan sekarang'', ucap Shaheer Sheikh.


''Kamu akan pergi kemana ?'', tanya Jannah Sheikh.


''Ada janji dengan klien, baru saja dia mengirim pesan padaku lewat email, mathair'', jawab Shaheer Sheikh.


''Ya, Tuhan ! Kita baru saja berbicara mengenai persiapan acara pertunanganmu nanti, nak'', kata Jannah Sheikh.


''Maaf, mathair... Aku harus pergi sekarang...'', sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh melirik kembali Aminah yang memandanginya.


Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya bergegas pergi dari ruangan tengah.


Aminah merasakan sesak di dadanya tiba-tiba datang.


Ketika melihat Shaheer Sheikh pergi dengan acuhnya tanpa memperdulikan lagi pertemuan yang membahas rencana untuk acara pertunangan mereka yang masih berlangsung itu.


Gadis cantik berhijab itu memegangi dadanya yang terasa sakit tersayat sembilu.


''Akh, sesaknya...'', gumam Aminah dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2