Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aku Dan Dia


__ADS_3

Aminah melangkah turun dari lantai atas menuju ke ruangan bawah melewati tangga rumah.


Diikuti oleh Raaida yang berjalan dibelakangnya dengan membawa koper milik Aminah.


Tampak Shaheer Sheikh telah menantinya di depan pintu rumah bersama dengan anggota keluarga yang lainnya.


Langkah Aminah sangat elegan serta penuh wibawa dengan kepala terangkat serta tubuh tegak membusung, gadis cantik berhijab itu berjalan menuju Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh yang mengetahui kedatangan Aminah langsung tersenyum cerah menyambut gadis berhijab yang berjalan ke arahnya.


''Aminah, tampaknya kamu sudah bersiap diri malam ini, aku kira kau urung ikut dengan kami ke Novotel'', ucap Shaheer Sheikh.


''Tidak, Shaheer, aku sangat merasa cukup bersemangat melakukan perjalanan ke Novotel malam ini'', kata Aminah.


Aminah berjalan sambil merapikan selendang sutra yang dia sampirkan di pundaknya saat menghampiri Shaheer Sheikh.


''Aku harap juga seperti itu, kau akan selalu penuh semangat, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


''Bagaimana denganmu ? Apakah kamu telah mempersiapkan dirimu, Shaheer ?'', kata Aminah.


Aminah memperhatikan ke arah sekitar Shaheer Sheikh yang berdiri di dekat samping pintu rumah.


''Semua keperluanku telah diurus dengan baik, kamu tidak perlu repot-repot mengurusnya lagi, Aminah'', kata Shaheer Sheikh.


''Oh, maafkan aku, yang melupakan urusanmu tapi aku benar-benar tidak berani ikut campur dalam kepentinganmu yang sangat pribadi, Shaheer'', sahut Aminah.


''Yah, aku tahu itu !?'', kata Shaheer Sheikh sambil melirik Aminah.


''Aku hampir tidak memiliki waktu lebih sebab aku sendiri disibukkan dengan aktivitasku menyiapkan keberangkatan ke Novotel yang begitu mendadak, Shaheer'', jawab Aminah.


''Seharusnya aku tidak menuntut hal sepele darimu, bukan !? Aku hanya berharap orang yang paling berarti dalam hidupku akan sedikit memperdulikanku meski itu hal kecil yang tidak berarti...'', kata Shaheer Sheikh.


''Maafkanlah aku..., bukan maksudku melupakanmu tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang harus aku lakukan, Shaheer...'', ucap Aminah.


''Tidak masalah, aku tidak mempersalahkannya, sudahlah ! Biarkan saja berlalu !'', kata Shaheer Sheikh.


Pria tampan yang selalu mengenakan Sherwani lengkap berwarna cerah itu melangkah pelan menuju ke arah mobil dengan diikuti oleh Aminah dari arah belakang.


''Tunggu !'', suara menghentikan langkah Shaheer Sheikh dan Aminah.


Terlihat Jannah Sheikh keluar dari dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa.


Wanita yang mengenakan saree mewah serta perhiasan lengkap ditubuhnya melangkah cepat ke arah Shaheer Sheikh dan Aminah.


Malam ini Jannah Sheikh mengenakan saree berwarna toska muda dengan dilengkapi kalung mutiara serta sepasang anting-anting mutiara dan gelang emas berhias mutiara di masing-masing kedua tangannya.


Jannah Sheikh tampak sangat cantik dan segar penampilannya ketika akan berangkat ke Novotel malam ini.


Rupanya Jannah Sheikh mengurungkan niatnya pergi esok pagi karena dia mengubah waktu keberangkatannya ke Novotel saat malam ini bersama anggota keluarga lainnya.

__ADS_1


''Kau melupakan sesuatu yang sangat penting, nak...'', ucap Jannah Sheikh.


''Ya, mathair, aku pikir tidak ada lagi hal yang lainnya karena itu aku berpikir segera pergi'', sahut Shaheer Sheikh.


''Tidak baik melewatkan kebiasan utama dalam keluarga yang sudah menjadi tradisi, akan tidak baik bagimu ataupun yang lainnya karena ini sangat penting, nak'', ucap Jannah Sheikh.


''Aku tahu itu, mathair...'', jawab Shaheer Sheikh.


"Sesuai tradisi yang ada, setiap anggota keluarga yang hendak berpergian jauh harus memakan makanan yang telah didoai dengan doa keselamatan di tiap menjelang malam", kata Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menyuapkan sesendok Kheer hangat kepada Shaheer Sheikh.


"Makanlah sesuap Kheer hangat yang telah didoai dengan doa-doa keselamatan, nak !", ucap Jannah Sheikh.


"Terimakasih, mathair", sahut Shaheer Sheikh.


"Dan kau juga, Aminah !", kata Jannah Sheikh.


Wanita yang mengenakan kerudung saree berwarna toska muda lalu menyuapkan sesendok Kheer kepada Aminah.


"Kheer ini adalah tradisi dalam keluarga kami sebagai anggota keluarga, kalian harus mematuhinya meskipun kalian kurang menyukainya", kata Jannah Sheikh.


"Terimakasih, mathair...", sahut Aminah.


"Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kalian dalam setiap perjalanan, amien", ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh memegangi kepala Aminah dan Shaheer Sheikh seraya membaca doa untuk keselamatan mereka berdua.


"Pergilah sekarang ! Dan berhati-hatilah dijalan ! Kami akan menyusul kalian dengan kendaraan lainnya", kata Jannah Sheikh.


"Baik, mathair..., kami akan pergi terlebih dahulu... Sampai jumpa di Novotel !", sahut Shaheer Sheikh.


"Sampai jumpa ! Semoga selamat sampai tujuan di Novotel !", jawab Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh merangkul keduanya sembari melangkah bersama-sama menuju ke arah mobil sedan hitam yang terparkir di depan teras rumah.


"Cepatlah naik ! Karena waktu kita sangat singkat sedangkan acara akan dimulai besok jam sebelas pagi, segeralah berangkat !", kata Jannah Sheikh.


"Iya, mathair, kami pergi dulu", sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh membukakan pintu mobil untuk Aminah agar dia masuk sedangkan Aminah hanya berpamitan dengan menganggukkan kepalanya pelan kepada Jannah Sheikh yang berdiri di dekat mobil sedan hitam.


Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman rumah keluarga besar Sheikh.


Tampak Jannah Sheikh melambaikan tangannya ke arah mobil sedan hitam yang melaju pelan.


Ekspresi wajah Jannah Sheikh malam ini benar-benar menunjukkan rasa bahagia yang teramat dalam sehingga membuat suaminya tertarik untuk bertanya kepadanya.


Suami Jannah Sheikh yang bernama Abdullah menghampiri istrinya dengan rasa penasaran kemudian bertanya kepada Jannah Sheikh.

__ADS_1


"Aku melihatmu sejak tadi sangat bahagia sekali, apa yang sedang terjadi hingga kamu merencanakan pesta besok secara mendadak, Jannah ?", kata Abdullah.


Jannah Sheikh mengganti sendok di mangkuk Kheer dengan yang baru lalu menyuapkan sesendok Kheer kepada suaminya.


"Makanlah dahulu Kheer ini, suamiku ! Sebelum aku melanjutkan ucapanku tentang rencana pesta besok hari !", jawab Jannah Sheikh.


"Hmmm, baiklah...", sahut Abdullah.


Abdullah tidak kuasa menuruti permintaan Jannah Sheikh yang mengharuskan dirinya untuk memakan Kheer menjelang keberangkatan mereka ke Novotel malam ini sebagai tradisi.


"Semoga keselamatan selalu bersama kita, suamiku !", ucap Jannah Sheikh.


"Amien...", jawab Abdullah patuh.


Jannah Sheikh lalu berjalan ke arah Raaida seraya menyerahkan senampan berisi mangkuk Kheer hangat.


Memandang kembali ke arah Abdullah, suaminya yang berdiri di teras rumah.


"Aku akan menceritakan alasanku mengadakan acara pesta di Novotel selain untuk penyambutan akan kedatangan Ametaa ke India selama liburan kuliahnya dari London", kata Jannah Sheikh.


"Baiklah, terserah kepadamu saja, karena aku hanya mengikuti semua kemauanmu selama itu benar", ucap Abdullah.


"Semua yang aku lakukan pastilah benar sesuai jalurnya sebab aku tidak menyukai sesuatu diluar batas kenormalan yang negatif, suamiku", lanjut Jannah Sheikh.


"Yah, baiklah, aku sudah katakan padamu semua terserah kau saja, Jannah ! Dan sekarang kita jadi berangkat atau tidak malam ini ?", kata Abdullah.


"Tentu saja jadi kita pergi malam ini ke Novotel karena semua sudah aku persiapkan dengan sempurna acara besok di Novotel, Abdullah !", sahut Jannah Sheikh.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang ! Apalagi yang kita tunggu sekarang !? Malam semakin larut dan sebaiknya kita segera pergi !", ucap Abdullah kepada istrinya.


"Iya, kita akan berangkat sekarang ! Dan tolonglah kamu masuk terlebih dahulu ke dalam mobil karena aku masih menunggu baba !", kata Jannah Sheikh.


"Iya..., iya..., iya...", sahut Abdullah.


Abdullah segera naik ke dalam mobil sedan hitam yang sama dengan mobil yang dinaiki oleh Shaheer Sheikh dan Aminah.


Terlihat Jannah Sheikh berdiri terdiam seraya memandangi suaminya yang naik ke dalam mobil kemudian Jannah Sheikh menoleh ke arah Raaida.


"Raaida, tolong lihat baba di dalam kamarnya !Apakah sudah siap atau belum karena kami sudah menunggunya disini !", pinta Jannah Sheikh.


"Baik, nyonya ! Saya akan melihat tuan Salman Sheikh di kamarnya...", kata Raaida.


"Yah, pergilah !", ucap Jannah Sheikh.


"Ya, nyonya Jannah !", sahut Raaida.


Raaida segera bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat Salman Sheikh dikamarnya.


Tampak Raaida berlarian kecil di dalam rumah menuju ke suatu tempat yang dikhususkan untuk Kakek Salman Sheikh.

__ADS_1


"Apakah baba tidak ikut ke Novotel ?", gumam Jannah Sheikh seraya menggenggam erat-erat kedua tangannya.


Menarik nafas dalam-dalam dengan ekspresi wajah tegang seraya sesekali memperhatikan kembali kedalam rumah.


__ADS_2